Sendoyan dan Cerita Tentang Kita | Bagian Ketiga

Aliran Sungai Sambas Kecil begitu tenang.

Sungai yang bisa diakses kurang dari lima menit dari rumah Abah Zaim dengan berjalan kaki itu merupakan satu-satunya jalur tansportasi yang bisa menghubungkan desa dengan pusat Kota Sambas. Terdapat jalan lain, tetapi hanya akan terhubung ke Kota Singkawang. Warga Sendoyan juga lebih senang menggunakan perahu. Lebih murah dan irit.


Di pinggiran sungai itu terdapat dermaga kayu tempat orang-orang biasa menunggu kedatangan perahu yang akan tiba setiap pukul satu siang. Hanya pada jam itulah orang bisa berangkat ke kota untuk berbagai keperluan. Dan mereka baru akan kembali sekitar tengah malam.


Pita duduk di dermaga itu. Kaki jenjangnya terjulur ke bawah, menyentuh aliran sungai yang dingin. Sore hari, setelah mengajar anak-anak, ia banyak menghabiskan waktu di tempat itu. Suasananya begitu teduh dan khidmat.


Tanpa koneksi internet dan tanpa ponsel. Pita benar-benar mengupayakan menghindari orang-orang yang telah mengecewakannya, orang-orang yang selama ini ia percaya, tetapi kenyataannya telah mengkhianatinya.


Sebenarnya seberapa besar harga kepercayaan? Mengapa rasanya begitu menyakitkan ketika dikhianati orang-orang yang selama ini kita percaya?
Pita tak menyangka setelah sepekan di tempat yang jauhnya ribuan kilometer dari Bandung ini, pikirannya ternyata masih di kota itu.


Pita berusaha mendistraksi pikirannya dengan kegiatan yang membuatnya merasa bahagia. Seperti kemarin, dengan bantuan Abah Zaim dan beberapa orang tua murid yang berbaik hati, keinginan Pita membangun perpustakaan kecil di sekolah akhirnya terwujud.


Hal itu juga yang membuat anak-anak yang semula ogah-ogahan ke sekolah, pelan-pelan mulai tertarik bergabung. Pada hari pertama perpustakaan mini itu dibangun saja, sudah tujuh siswa yang datang. Jumlahnya kecil, tetapi itu cukup membuat semangat Pita mekar lagi.


Mungkin dalam sebulan ke depan ia tidak bisa menjadi guru sebagaimana guru profesional yang mengajar di sana, tetapi paling tidak, Pita bisa mengenalkan anak-anak pada dunia baca. Kegiatan yang selalu ia yakini sebagai langkah awal bagi setiap orang untuk membidik mimpi-mimpinya. Merangkai satu per satu mimpi hingga kelak bisa memetik mimpi itu.


Ajaib. Hari ini ada dua tambahan siswa lagi yang bergabung.

Muridnya lebih senang belajar di balai bambu–perpustakaan kecil yang letaknya tepat di bawah pohon ketapang. Suasananya sejuk karena letak sekolah ini di perbukitan rendah di pinggir desa. Dari tempat itu juga, tampak persawahan warga yang membentang. Segar dan menyejukkan.


Pita mulai membuka pelajarannya.

Anak-anak itu mulai menyebutkan namanya satu per satu.


Bagas, Putri, Faiz, Haikal, Nisa, Lili, Sisi, Arya, dan Wiwi.


Lama-lama, Pita semakin dekat dengan mereka. Mereka sebenarnya tergabung dari semua kelas, hingga tiga, tetapi Pita tak mempermasalahkan hal itu, yang ia butuhkan adalah semangat belajar mereka.


“Bu Guru Pita, kali ini pelajaran mendongeng, boleh, ya?” Wiwi bersemangat. Usianya sepantar dengan Bagas, dan dia anak yang ceria.


“Hm, boleh. Kalau begitu, bagaimana kalau Wiwi yang mulai mendongeng lebih dulu?”
Wiwi malu-malu, Pita tersenyum lantas berujar, “Ya sudah. Kalau begitu, Bu Guru Pita yang mulai, nanti kalian bergiliran, ya?”

Anak-anak menyepekati dan mulai memasang telinga baik-baik.

Pita bercerita tentan kisah Pangeran Kaktus dan Putri Nanas. Cerita dari buku yang pernah diikutkannya ke lomba saat ia masih duduk di bangku SMP dulu. Meski waktu itu tidak berhasil menjadi juara, Pita bangga sekarang ia bisa berbagi kisah itu pada murid-muridnya.

“… karena Raja Bekicot yang jahat, akhirnya ia dipenjara di tempat paling jauh. Pangeran Kaktus dan Putri Nanas akhirnya bisa hidup bahagia di Bumi.”

Anak-anak memberi tepukan tangan yang meriah. Putri yang paling antusias.

“Apakah semua cerita selalu berakhir bahagia, Bu Guru?” tanya Wiwi.

Pita menggeleng, “Tidak juga. Dunia dongeng berbeda dengan dunia nyata. Di dunia nyata segala sesuatunya kompleks, makanya banyak kisah yang berakhir tidak bahagia.”

“Dunia nyata memang melelahkan. Wiwi kadang sebal melihat bapak dan ibu bertengkar. Makanya Wiwi suka dongeng. Kalau bisa, Wiwi ingin hidup di dunia dongeng saja.”

Pita tersentuh akan ucapan Wiwi. Ia maju dan memeluk Wiwi yang mulai berkaca-kaca.

Ingatan Pita lantas terbang jauh menuju kota Bandung. Benar, tidak semua cerita akan berakhir bahagia. Kisahnya dengan Devo bahkan berakhir menyedihkan.

Ia setuju dengan Wiwi, seandainya bisa, ia ingin hidup di dunia dongeng saja. Bertemu pangeran dan berakhir bahagia selamanya. Namun, hidup tetaplah hidup yang harus dijalani. Kisah dongeng memang terlihat menjanjikan kebahagiaan, tempat di mana segala sesuatunya kelihatan akan selalu baik-baik saja, tetapi pada akhirnya itu hanyalah dongeng, yang tak pernah benar-benar ada.


Sepulang dari dermaga sore ini, Pita mendapati Abah dan Mak Cik di beranda. Sepertinya baru saja mereka menerima kabar buruk, melihat ketegangan di wajah keduanya, tetapi ia tak banyak bertanya.
Mak Cik Zaim yang lebih dulu mengabari.
“Pit, sekolah mau dirobohkan.”


Seketika wajah Pita pucat pasi. Abah Zaim tidak bicara apa-apa, sepertinya beliau sibuk memikirkan sesuatu.


“Warga, Mak Cik?”
“Bukan, Pit. Pemilik tanah. Mereka ingin membangun pabrik, entah apa. Pokoknya, mereka hanya memberi waktu sampai besok lusa, kalau kita tidak membayar tanahnya, mereka akan membongkar sekolah.” Ucap Mak Cik, “Padahal, dulu sudah ada perjanjian, ya, Bah? Kalau sekolah ini tetap boleh berdiri selama Abah membayar setiap bulan. Kita ‘kan sudah bayar.”


“Abah membayar tanah itu? Setiap bulan?”
“Benar, Pit. Awalnya tanah itu hanya lahan kosong, setelah lima tahun sekolah didirikan, mereka tiba-tiba datang, mengurus surat tanah dan mengambil alih kepemilikan lahan. Sekolah dibiarkan tetap berdiri dengan syarat warga harus membayar setiap bulan. Warga tidak terima, mereka justru memilih agar sekolah itu digusur saja, toh mereka ingin anak-anak mereka langsung bekerja. Namun Abah yang bersikeras tetap membayar lahan itu setiap bulan. Abah tidak menyangka, mereka akan datang lagi, dan meminta bayaran penuh. Mereka malah menganggap apa yang sudah Abah bayar selama ini sebagai bunga.”


Pita terduduk lemas di bangku kayu. Kini ia menjadi saksi betapa Abah adalah orang yang paling berjuang mempertahankan sekolah. Ia tahu, biaya penebusan tanah itu tidaklah sedikit.


“Tapi anak-anak butuh sekolah mereka.” Pita berujar sangat pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.


“Abah akan mengusahakan, Buk. Bagaimana pun caranya.” Kata Abah lalu beralih oada Pita, “Anak-anak akan tetap sekolah, Pit.”
Pita mengangkat wajahnya, terharu betapa besar keinginan Abah demi anak-anak Sendoyan. “Iya, Bah.”


“Pit, ayo masuk. Abah akan ke kantor kecamatan bertemu Pak Damar–si pemilik tanahuntuk negoisasi. Semoga Abah berhasil.” Ujar Mak Cik.


“Iya, Pit. Kalian masuklah. Abah akan pulang besok pagi. Semoga bisa membawa kabar baik.”


Masih akan ada lanjutannya. Jangan bosan, ya. 😄

~kucca

7 thoughts on “Sendoyan dan Cerita Tentang Kita | Bagian Ketiga

Add yours

    1. Hei, Mel! Thank you ya. Segera akan kuunggah lanjutannya. Jangan bosan-bosan hihi. 💕

      Btw yang kamu maksud serial anak nusantara, ya? Aku juga pernah baca beberapa bukunya, tapi sebelum berganti jadi serial anak nusantara sih. Dulu masih serial anak-anak mamak. Aku baca yang Pukat dan Burlian. Tapi kalau Si Anak Badai ini, kayaknya buku baru, ya? Bukan buku yang ganti cover. Semoga aku berkesempatan buat membacanya dalam waktu dekat hihi..

      Like

  1. sudah lama, baru meluncur lagi kesini. dan tulisan ini mengingatkan mimpi ku “Perpustakaan mini” yessss membuat ku bersemangat lagi, efek tiga bulan berada di pulau yang jauh. ku tunggu cerita selanjutnya. Kucca

    Liked by 1 person

    1. Waaah senang mendengar cerita ini bisa membangkitkan semangat kamu lagi. Thankyou yaa i really appreciated 😭 Ceritanya masih akan terus kuupdate hehe makasih banyak ya udah mau membaca dan menunggu ceritaku. 💕

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: