Sendoyan dan Cerita Tentang Kita | Bagian Kedua

Sehabis makan malam bersama keluarga Abah Zaim yang hangat, Pita memilih untuk menikmati udara segar di beranda terlebih dahulu.

Udara dingin masuk, menembus sela jaketnya. Bunyi jangkrik terdengar dari kejauhan, kunang-kunang beterbangan seperti keping emas yang melayang, juga bulan keperakan di atas sana menjadi pemandangan yang nyaris tak pernah Pita temukan di langit Kota Bandung.

Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan iPod dan mulai mendengarkan lagu Negeri di Awannya Katon Bagaskara. Lagu yang bila ia dengar, ia merasa jauh lebih bebas dan bisa melupakan persoalan pelik yang ia hadapi di Bandung.

Kabur dari masalah memang bukan hal baik, tetapi Pita tahu bahwa mencari ketenangan dan setidaknya untuk sementara menepi dari berbagai macam persoalan itu jauh lebih baik untuk hati dan pikirannya. Ia butuh ketenangan. Ia butuh untuk merasa hidup tanpa belenggu dari orang lain, yang kian hari rasanya justru semakin menyakitinya.

Beruntung ayah dan ibunya mengerti benar bahwa Pita perlu untuk sendiri di situasi seperti ini. Toh Pita sudah dua puluh satu. Ia bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Menjauh dari Bandung adalah pilihannya. Dan itu bukan jauh yang sedikit. Itu adalah jauh yang membawanya hingga ke pelosok Borneo.

Ayah memberinya kontak dan alamat Abah Zaim, teman lama ayahnya semasa masih kuliah yang sekarang menetap di Kabupaten Sambas. Menurut ayahnya, barangkali Pita butuh sesuatu yang mengalihkan perhatiannya dari permasalahan yang tengah putrinya hadapi itu. Meski sempat tak disetujui oleh ibunya, Pita dan ayahnya sama-sama meyakinkan bahwa segalanya akan baik-baik saja.

“Jaga diri, ya, Pit. Temukan apa yang selama ini kamu cari. Kamu pasti bisa melewati segalanya. Ibuk dan Ayah menantikan kabar baik ketika kamu pulang nanti, Pit.”

Seketika perasaan damai menyelubungi rongga dada Pita kala itu. Kalimat-kalimat baik dari kedua orang tuanya adalah alasan yang meneguhkan hatinya hingga sekarang benar-benar sudah berada di bawah langit Borneo. Pulau yang selama ini begitu ia impikan. Meski sekarang ia di pedesaannya, jauh, terpencil, tetapi justru itu jauh lebih baik bagi Pita. Juga bagi hatinya.

Ia berharap sebulan kedepan semesta akan memberinya sesuatu yang berarti sebagaimana yang selalu ia harapkan.

Kau mainkan untukku sebuah lagu tentang negeri di awan, di mana kedamaian menjadi istananya dan kini tengah kaubawa aku menuju ke sana.

Pita ikut bergumam lirih mengikuti lirik lagu sembari menatap bintang yang bergelantungan di atas sana. Berkerlap kerlip seolah memberi pertanda baik.
Esok, pengabdiannya akan dimulai. Hari baru. Orang-orang baru dan pengalaman-pengalaman baru. Dan rasanya Pita tak sabar menunggu bulan berganti matahari pagi.

Mak Cik Zaim datang dari dalam menepuk pundak Pita.

“Mak Cik? Belum tidur?” Ucap Pita setengah kaget, ia mencabut earphone-nya dan menatap Mak Cik Zaim.

“Mak Cik yang harusnya bertanya, Pit. Mengapa belum tidur?” Mak Cik lalu ikut menengadah menatap bulan, “Wah. Bulannya bersemu, Pit. Sepertinya malu-malu ditatap gadis cantik ini.”

“Ah, Mak Cik bisa saja, deh.”

“Bandung nggak dapat yang begini, Pit?”

“Ada Mak Cik, tapi tak seindah di sini.” Pita tertawa.

“Ponakan Mak Cik dari Ponti sering kemari. Sama sepertimu, senangnya menatap langit. Mak Cik paham, sepertinya hati yang sedang penuh gundah sedikit terobati ya, Pit, dengan memandang langit?”

Pita tersenyum lagi. Sepertinya senyum manis Mak Cik yang menular. “Iya, Mak Cik. Benar.”

“Hatimu lebih baik, Pit?”

“Jauh lebih baik, Mak Cik. Terima kasih sudah menerima Pita di sini.” Pita memeluk Mak Cik yang juga balas memeluknya. Mak Cik Zaim tahu Pita sedang menghadapi sesuatu yang berat.

“Terima kasih juga, Pita. Mak Cik dan Abah jadi tidak kesepian lagi ada kamu di sini.”

Lalu keduanya masuk dengan beragam canda dari Mak Cik Zaim. Candaan pengantar tidur buat Pita yang bersiap tidur nyeyak malam ini.


Bunyi gesekan kapur dengan papan tulis terdengar jelas di seluruh penjuru kelas yang lengang.

Seharusnya, andaikan segalanya berjalan sesuai rencana, anak-anak yang Pita ajar hari ini berjumlah lima orang dari kelas 3, tetapi sayang sekali yang terjadi jauh dari ekspektasi Pita.

Di hari pertamanya mengajar, hanya ada dua anak yang bergabung bersamanya sejak sejam yang lalu. Padahal Abah Zaim sudah mengumumkan pada warganya untuk meminta anak-anak mereka kembali ke sekolah. Pita merasa agak kecewa, tetapi Bagas dan Putri–dua siswanya yang kini sedang menatap sungguh-sungguh pada garis demi garis yang ia tarik di papan tulis, sedikit menghiburnya.

“Pe-u, pu. Ditambah s, pus. Pe-i, pi. Puspi. Te-a, Ta. Puspita.” Bagas mengeja nama Pita dengan bersenandung.

Senyuman terbit di bibir Pita yang kemerahan begitu mendengar suara Bagas barusan. Di sebelah anak manis bertubuh kurus itu, Putri, adiknya berusaha keras ikut mengeja, tetapi belum juga berhasil.

Pita bisa memaklumi hal itu, karena sebetulnya Putri harusnya masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Hanya saja, karena abangnya harus ke sekolah dan tak ada yang bisa ia temani di rumah, makanya Putri terpaksa mengekor abangnya.

Bapak dan mamak mereka bekerja di Kuching, Sarawak, Malaysia. Menurut cerita Bagas, orangtua mereka biasanya akan pulang tiga bulan sekali. Sementara pagi-pagi begini, kakak perempuan mereka, Jani, harus bekerja juga. Informasi itu Pita dapatkan sewaktu mereka menunggu anak-anak yang lain datang.

“Tepat sekali, Bagas.” Pita menyatukan kedua telapak tangannya, merasa terpukau karena ternyata pengetahuan anak-anak ini tak seburuk yang ia kira. “Selama ini kamu pasti murid teladan, ya?”

Malu-malu, Bagas hanya menggaruk tengkuknya sebelum berujar, “Pak Guru Lingga yang mengajari mengeja begitu, Bu. Jadi saya cepat paham.”

“Pak Guru Lingga?” Pita mendekat pada kedua muridnya ingin tahu, “Siapa dia?”

“Guru kami, tetapi sudah lama tidak kembali ke sini. Kata Abah Zaim, Pak Guru harus melanjutkan sekolah yang tinggi. Perginya jauh, naik pesawat.”

Pita mengangguk-angguk. Orang yang bernama Pak Guru Lingga itu tiba-tiba saja menerbitkan inspirasi di kepalanya. Ia pun akhirnya menepukkan tangannya sekali, “Nah. Bagas sama Putri harus giat belajar, ya. Supaya nanti bisa seperti Pak Guru Lingga, ke luar negeri, naik pesawat. Fufff!”

Pita memosisikan tangannya seolah-olah itu adalah pesawat. Sepertinya ia terlalu menghayati perannya sampai-sampai ia ikut berekspresi lucu hingga membuat dua muridnya terkikik.

Baru ia tersadar ketika suara gelak tawa Putri yang nyaring, terdengar. Kini, Pita yang memegang tengkuk, salah tingkah.

Di depannya, Bagas menegur adiknya pelan.
Pita segera menengahi, “Tidak apa. Tidak apa. Karena ini pertemuan pertama kita, Ibu akan mengajari kalian membuat pesawat kertas. Mau?”

Pita sepertinya terlalu bersemangat. Baik Bagas maupun Putri, keduanya sama sekali tak antusias dengan usulannya itu.

Krik-krik. Suara jangkrik terdengar entah dari mana.

“Itu sih sudah tahu, Bu. Pak Guru Lingga sudah mengajari kami. Di rumah, Putri dan abang sudah buat pesawat banyaaak sekali.” Ketika mengucapkan kata banyak, tangan Putri membentuk lingkaran seluas yang tangan mungilnya bisa.
Pita tergelak melihat wajah imut gadis kecil itu.

“Tidak masalah kok, Bu. Saya juga sudah lama tidak membuat pesawat kertas.”

Ucapan Bagas nyaris membuat Pita bercucuran air mata karena terharu. Bukan karena ia merasa tak dihargai oleh penolakan Putri. Justru karena ia merasa Bagas memiliki kepekaan yang tinggi. Sikapnya jauh lebih dewasa dari anak seumurannya.

Pita tahu maksud Bagas baik. Anak itu tidak ingin membuat dirinya kecewa karena ucapan adiknya tadi.

“Ya udah deh.” Putri terpaksa menurut perkataan abangnya.

Di teras sekolah, Pita mengeluarkan kertas warna-warni yang memang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.

Putri terpukau melihat kertas itu, “Wah. Warna-warni!”

Pita tersenyum. Putri mulai mengambil kertas dengan warna kesukaannya, “Putri mau warna biru. Seperti langit. Indah.”

“Bagas, kamu mau warna apa?”

“Yang ini saja, Bu. Merah.”

Pita kembali menemukan semangatnya melihat dua muridnya mulai antusias.

“Oke. Putri kan sudah diajari Pak Guru Lingga. Coba Putri tunjukkan pada Ibu dan Abang Bagas cara membuat pesawat kertas itu bagaimana sih?” Pita sengaja memancing Putri.

Dan benar saja, anak itu segera bersemangat melipat kertas miliknya dengan cekatan membentuk pesawatyang sayapnya tidak sama besar. Meski demikian, Pita tampak bahagia akan hal itu.

“Nah sudah jadi.” Putri menunjukkan pesawatnya dengan bangga.

Pita bertepuk tangan ceria. Bagas turut serta. Putri malu-malu menerima penghargaan kecil itu.

“Kata Pak Guru Lingga. Setelah pesawat jadi, kita harus mengucapkan wis.”

Tunggu. Apa? Wis?

Pita menoleh ke arah Bagas sambil berbisik, “Wis itu apa?”

Bagas menggeleng. Sepertinya ia juga tidak tahu-menahu. Sepertinya ‘wis’ itu hanya milik Pak Guru Lingga dan Putri saja. Mungkin.

“Nah,” Putri berdiri. “Ayo. Bu Guru Pita dan Bang Bagas ambil pesawatnya, berdiri di sebelah Putri.”

Ooh–oke. Meski sama-sama kebingungan, Pita dan Bagas menurut saja. Bila dilihat dari depan, ketiganya berdiri berjajar, sama-sama memegang pesawat dan kompak menutup mata. Sesuai pinta dari Putri.

“Kata Pak Guru Lingga, setelah mengucapkan wis, tiup pesawatnya. Dan wis kita akan terbang menembus langit.”
Pesawat kertas milik Putri terbang jauh. Pun demikian dengan pesawat milik Bagas dan Pita.

Putri puas dengan yang ia lakukan. Bagas sepertinya juga demikian. Hanya Pita yang tak bisa menahan tawa karena tiba-tiba ia mengerti ‘wis’ yang dimaksud Putri.

Wis. Wish. Permohonan.

Pita hanya menyimpannya dalam hati tak berniat bertanya lebih jauh pada Putri apa itu wis. Ia sudah tahu. Jelas sekali.

Sebenarnya sudah sejauh mana Pak Guru Lingga memainkan imajinasi anak-anak lugu ini? Dalam hati, Pita diam-diam berharap suatu saat bisa bertemu dengan Pak Guru Lingga. Sepertinya akan menyenangkan.
“Kata Pak Guru Lingga, wishnya enggak sampai ke langit kalau kita tidak serius!”

Putri mulai sebal melihat tingkah Pita yang tertawa-tawa tidak jelas.

“Oke-oke. Nanti Bu Guru Pita ulangi lagi.” Kata Pita, menahan tawa. Pita kemudian memilih untuk berhenti tertawa begitu menyaksikan Putri yang mulai mengambek.
Sungguh, ia gemas sekali dengan gadis kecil ini.

“Eh jangan merajuk begitu ah. Bu Guru Pita kan cuma bercanda.” Pita berlutut di hadapan Putri, menyejajarkan kepalanya dengan gadis mungil itu.
Putri menatapnya lurus-lurus, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

“Coba tebak, di tas Bu Guru Pita ada apa?”
“Kertas warna-warni?”
“Selain itu?”
Putri menggeleng, “Tidak tahu.”
Pita mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, “Taraaaa.”

“Buku?” Bola mata Putri yang sehitam eboni membelalak cerah begitu melihat sampul dari buku itu. Seorang putri tidur dan kurcacinya.

“Benar. Ini buat kamu supaya giat belajar membaca lagi, ya, di rumah. Minta diajari Bang Bagas, ya?”

Putri mengangguk-angguk sembari meneliti tiap gambar di buku itu.
“Putri Salju,” gumamnya.
“Putri yang cantik, sepertimu.” Pita memeluk Putri hangat. Kemudian ia teringat Bagas yang berdiri di sebelahnya.

“Bagas juga dapat hadiah, lho.” Ucap Pita sambil meraih satu buku lagi.
“Benar, Bu Guru?”
“Iya, dong. Kalian kan sudah bela-belain datang ke sekolah. Nah ini untukmu.” Ucap Pita, menyerahkan buku komik Detektif Conan.

“Terima kasih, Bu Guru Pita.”
“Terima kasih juga.” Ucap Pita lembut.


Akan ada lanjutannya…

2 responses to “Sendoyan dan Cerita Tentang Kita | Bagian Kedua”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: