Sendoyan dan Cerita Tentang Kita | Bagian Keempat

Ternyata informasi penggusuran sekolah sudah tersebar di seluruh desa. Anak-anak datang dan berkumpul bersama Pita di balai bambu. Beberapa warga datang untuk menyaksikan negoisasi yang terus dilakukan Abah Zaim dengan pihak pemilik tanah.

Abah datang dari kota kecamatan pagi-pagi sekali dan membawa kabar yang sedikit baik. Penggusuran ditunda sampai hari minggu nanti. Namun, tetap saja, sekolah terancam. Masa depan anak-anak desa dipertaruhkan.

Bagas dan Wiwi tampak paling bersedih mendengar kabar ini. Mereka jauh lebih mengerti daripada anak-anak lainnya.

Putri dan yang lainnya sedang sibuk membaca ketika Pita duduk dihadapan Bagas dan Wiwi.
“Kenapa mereka mau merobohkan sekolah, Bu?”
“Lalu di mana kami akan sekolah?”
Itu pertanyaan yang diajukan Bagas dan Wiwi bergantian.

Pita berusaha menegarkan hati mereka dan hatinya sendiri, “Mereka tidak akan merobohkan sekolah. Kita akan tetap belajar di sini.”

Mata Wiwi berkaca-kaca, “Mamak saya senang sekolah dirobohkan. Katanya Wiwi bisa membantu mamak di kebun sawit setiap hari. Tapi Wiwi tidak mau, Bu Guru Pita. Wiwi ingin sekolah. Wiwi ingin menjadi dokter supaya bisa mengobati penyakit asma Bapak.”

Tak dapat lagi Pita membendung air matanya. Isakan Wiwi membuatnya turut terisak. Bagas juga menangis. Pita menyadari itu meski bocah itu menyembunyikan wajahnya di balik lutut.

“Wiwi, Bagas, Putri dan teman-teman lain tetap akan sekolah di sini, kok. Jangan bersedih, ya?”

Wiwi tetap terisak. Bagas tetap menyembunyikan wajahnya.

Di kehningan itu, Pita terperanjat ketika serta-merta didengarnya suara Putri berteriak lantang, “Pak Guru! Pak Guru Lingga datang!”

Pak Guru Lingga? Pita bertanya dalam hati.

Wiwi dan Bagas kompak bereaksi begitu mendengar nama itu. Putri sudah lebih dulu berlari menuju ke arah Lingga yang datang secara tiba-tiba itu. Ransel besar yang masih bertengger di punggung pemuda itu mengisyaratkan ia baru saja datang entah dari mana dan langsung menuju ke sekolah ini.

Lingga berjongkok dan merentangkan tangan menyambut Putri dan anak-anak yang lain. Senyuman terukir di wajahnya.
Bagas, Wiwi dan anak-anak yang lain berlari menyusul Putri. Mereka berhamburan memeluk Lingga.

Melihat keakraban muridnya dengan pemuda bernama Lingga itu, lantas membuat Pita meyakini satu hal dalam hatinya. Lingga begitu penyayang, ia disenangi anak-anak karena perasaan tulusnya itu. Pantas saja, baik Putri maupun Bagas, mereka begitu hafal hal-hal yang Lingga sampaikan ketika ia mengajar.

Putri sudah berada dalam gendongan Lingga. Bahkan Bagas dan Wiwi pun tampak tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka. Putri sampai melambai-lambai ke arah Pita sembari berteriak, “Bu guru Pita. Ini Pak Guru Lingga. Bu Guru Pita harus belajar cara menerbangkan pesawat kertas sama Pak Guru.”

Pita tak habis pikir Putri akan mengucapkan hal itu. Ia hanya tertawa. Sebenarnya ia menertawakan dirinya sendiri karena sebelumnya ia mengira Pak Guru Lingga adalah bapak-bapak seumuran dengan ayahnya. Ternyata, ia adalah seorang pemuda yang sepantar dengannya.

Sejenak, kehadiran Lingga membawa bahagia bagi anak-anak. Lingga bergabung bersama Abah Zaim di ruangan guru sesaat setelah anak-anak kembali ke balai bambu.
“Itu Pak Guru Lingga, Bu, yang dulu saya cerita.” Bagas menginformasikan.

Pita melihat ke arah ruangan guru sejenak sebelum bertanya, “Dia dari mana?”
“Dari Ponti. Kata Pak Guru Lingga, dia datang karena Abah Zaim memberitahu sekolah mau dirobohkan.”
“Begitu,” Pita mengangguk-angguk. Pita kemudian bertanya usil, “Kalian senang ya ada Pak Guru Lingga? Kalau sama Bu Guru Pita kalian sedih?” Pita memasang ekspresi cemberut dengan sengaja.

Putri lantas mendekap Pita, “Putri juga senang ada Bu Guru Pita. Karena Bu Guru Pita suka kasih buku cerita dan suka mendongeng.”
“Masa?” Pita bertanya, ekspresinya masih tak berubah. Sengaja benar Pita melakukannya.
“Benar, Bu. Saya, Bagas dan yang lain senang diajar Bu Guru Pita.” Wiwi memeluk Pita.

Kini semuanya berusaha mendekap Pita. Ekspresi Pita seketika berubah cerah. Ia tak menyangka akan seperti ini rasanya disenangi murid-murid. Menyenangkan dan melegakan.

Rasanya Pita tak ingin pergi dari sini.

Sisa dua pekan waktunya, dan justru semakin terasa berat bagi Pita bahkan hanya untuk membayangkan ia tidak di sini bersama anak-anak menggemaskan ini.
Air matanya jatuh. Dan Pita tidak menyadari, jauh di depan sana, Lingga sedang memandang ke arah mereka.

🌠🌠🌠

Suasana meja makan kelaurga Abah Zaim seketika ramai. Pita tidak pernah menduga sebelumnya kalau Lingga–Pak Guru Lingga–guru favorit murid-muridnya itu adalah ponakan Mak Cik Zaim dari Ponti.

Lingga ternyata tipe orang yang kocak. Sepanjang makan malam ini, pemuda itu bercerita banyak tentang hal-hal aneh yang dilakukannya sewaktu ia pertama kali diminta mengajar oleh Abah Zaim di sekolah.

“Anak-anak mengerjai saya habis-habisan di hari pertama. Abah barangkali masih ingat ketika waktu itu saya pulang hanya dengan kaus kaki. Itu gara-gara ulah anak-anak nakal itu mengalirkan sepatu saya di sungai.”

Abah Zaim tertawa, “Benar. Mana mungkin abah lupa. Mak Cik kau sampai sakit perut tak bisa menahan tawa melihat ekspresimu waktu itu, Lingga.”

Mak Cik tertawa mengingat kejadian itu.

“Berarti kamu pandai merebut hati anak-anak. Putri dan yang lain sampai begitu mengidolakan Pak Guru Lingga. Hampir setiap hari nama kamu mereka sebut.” Ujar Pita.

Mulut lingga yang saat itu penuh dengan nasi, hanya mampu mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Ia mengibas-ngibas tangan lalu minum karena hampir tersedak. Semuanya kembali tertawa.

“Jangankan merebut hati anak-anak, Pit. Merebut hati perempuan pun dia jagonya.” Abah berujar.

Seketika meja makan keluarga Abah Zaim kembali ramai dengan gelak tawa.

“Anak-anak itu nakal. Saya hampir-hampir menyerah pada hari-hari pertama. Namun, lama-lama saya pikir itulah letak proses menyenangkannya. Saya mengajari mereka banyak hal konyol dan ajaibnya mereka malah suka.” Lingga menjelaskan panjang lebar, mengabaikan gurauan Abah Zaim.

Pita bertanya sungguh-sungguh, “termasuk wis itu?”

Lingga mengangguk takzim, “termasuk wis itu.”

Lalu keduanya tertawa.

Abah dan Mak Cik yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam–kebingungan.

🍁🍁🍁

Makan malam telah selesai sejam yang lalu. Pita memilih untuk duduk di beranda memandangi benda langit yang bergelantungan. Pikirannya melambung ke sekolah yang akan dirobohkan beberapa hari lagi.

“Jadi anak-anak sering cerita soal saya pada Bu Guru Pita?”
Suara itu mengagetkan Pita tentu saja.

Lingga ternyata sudah sejak tadi duduk di bangku panjang yang letaknya tepat di depan beranda.
“Hampir setiap hari.” Jawab Pita pendek.
“Berarti hampir setiap hari kamu membayangkan wajah saya? Bagaimana? Apa wajah saya persis yang selama ini kamu bayangkan?”

Cerewet. Keki Pita dalam hati. Namun kemudian pikirannya memunculkan wajah bapak-bapak tua yang memperkenalkan diri sebagai Pak Guru Lingga. Pita terbahak karena pikirannya sendiri.

“Kenapa? Apa terlalu jauh perbedaannya?”
Pita masih berusaha berhenti tertawa dan menjawab, “Tidak. Sebelas dua belas malah.”
Pita tertawa lagi.


Perasaan damai seketika menyelubungi rongga dada Lingga begitu melihat gadis di depannya ini tertawa. Ia mengingat wajah gadis itu siang tadi di balai bambu. Teramat kontras. Satu yang tetap sama, wajahnya tetap menyenangkan. Dan cantik.

“Apa yang membawamu hingga ke sini?” Tiba-tiba Lingga bertanya.
Tawa Pita seketika menguap. Apa yang membawanya kemari?
None of your business.” Jawabnya padat. Gadis itu lantas beranjak dan masuk ke kamarnya.

Lingga bertahan di beranda sampai larut malam. Ia tak pernah merasa secemas ini sebelumnya. Ia merasa cemas, seolah telah mengorek luka lama seseorang yang baru saja membangun kembali pertahanannya. Namun, apakah salah ia bertanya?

Bukan. Ini bukan persoalan pertanyaan itu saja. Sorot mata sendu yang gadis itu lemparkan kepadanya baru saja seolah turut melukai dirinya juga. Lingga tidak mengerti, tetapi sepanjang malam ini tiba-tiba saja Pita menjadi pusat pikirannya.


Masih ada lanjutannya. Sabar ya. Jangan bosan. 🌻

4 thoughts on “Sendoyan dan Cerita Tentang Kita | Bagian Keempat

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: