Once in a Blue Moon

Because i’ve reread Kugy-Keenan, now i wanna tell some story about someone. Seseorang yang telah lama kutahu (but i guest, he never noticed me–till now i think, even though i’m okay about that). Tulisan ini juga untuk melunasi janji di pos sebelumnya.

Agustus 2016, dari orang terdekatnya aku tahu satu informasi bahwa dia juga seseorang yang senang menulis. Sangat langka untuk ditemukan di daerah itu. Lalu, entah keping keajaiban mana yang tiba-tiba mempertemukan kami untuk kali pertama pada pertengahan 2017 di sebuah acara silaturahmi, meski tanpa perbincangan sama sekali di antara kami. That’s why, i guest, he don’t know me.

*auto play You Don’t Know Me by Soyou & Brother Su 😂

Akhir 2017, aku tahu kalau dia ternyata telah membaca banyak buku, dan aku tertarik pada satu buku yang selalu ia sebut-sebut; Perahu Kertas (Okay, now you know that i was stalking him 🙈). Aku tahu buku itu, bahkan filmnya, tapi aku tak pernah tertarik menonton atau membacanya, sampai hari itu tiba. Suatu hari di tahun yang sama, di perpustakan kampus, aku tanpa sengaja menemukan buku itu, aku meminjamnya dan akhirnya turut hanyut dalam cerita Kugy-Keenan yang penuh dengan idealisme remaja yang harus dihadapkan pada realitas, kisah persahabatan, cinta dan mimpi. Klik, aku jatuh cinta pada kisah menarik itu. Dan akhirnya jadi buku dengan plot dan tema terbaik yang pernah kubaca sejauh ini.

Beberapa bulan lalu, hampir tiga tahun sejak hari itu, kami akhirnya ‘bertemu’–lewat jalur reply di salah satu media sosial, dan lagi-lagi aku sangat yakin dia (masih) tidak tahu aku. Kejadian itu tentu bukan disengaja, dan terjadi secara kebetulan saat aku menulis sebuah kutipan yang waktu itu aku lupa pernah baca di mana, dan dia tiba-tiba berkomentar, “kutipan dari Perahu Kertas, Dee Lestari.” dan saat itulah diskusi pendek persoalan idealisme terjadi, singkat tapi cukup menyenangkan dengan segala kebetulan yang ada.

Aku belum baca ulang lagi buku itu waktu dia bilang begitu, dan aku juga sudah agak lupa dengan beberapa plot ceritanya, tapi dia bilang, “selami dulu bukunya, kalau udah beres baca, sharing bisa.”

Dan begitulah sampai akhirnya hal itu jadi salah satu alasan aku pengin punya buku itu dalam bentuk fisik, hingga terbitlah tulisan ini.

Sekarang aku sudah selesai membaca ulang buku itu, so, should I discuss about that book with him?

NOOOO! It’s impossible. 🙈

Why I Stan BTS?

Sebenarnya aku lumayan bingung harus memulai tulisan ini dari mana, sebab terlalu banyak hal yang rasanya ingin kuungkapkan. Namun yang pasti aku tidak akan memulai tulisan ini dengan memperkenalkan BTS siapa berikut member-membernya, karena kurasa bagi kebanyakan orang, BTS bukan lagi idol grup yang asing bahkan bagi mereka yang bukan penggemarnya.

Mengapa aku berspekulasi demikian? Sebab, dulu aku pun demikian. Dulu, aku bukan penggemar idol grup manapun dalam artian penggemar yang benar-benar mengikuti idol grup tertentu, menghapal keselurhan lagu-lagunya bahkan member berikut hari kelahiran atau biodata mereka. Tidak, aku tidak pernah. Meski demikian, aku tidak menafikan kenyataan bahwa semasa sekolah menengah aku berada di lingkaran pertemanan yang notabenenya adalah penggemar K-Pop.

Sebagaimana pepatah yang menyebut bahwa ketika kita berteman dengan peracik parfum, maka kita akan kebagian wanginya, maka aku pun demikian. Karena berada di lingkaran pertemanan yang menggemari K-Pop, paling tidak aku tahu beberapa nama grup, jadi familiar dengan beberapa lagu dan mengenali satu-dua orang member dari grup tertentu, termasuk BTS, meski semasa sekolah, aku benar-benar hanya tahu BTS dari namanya saja sementara member dan lagu-lagunya sama sekali nihil.

Tapi, apakah kamu percaya bahwa sesuatu akan didekatkan dengan kita pada waktu kita membutuhkannya? Pada beberapa hal aku percaya. Dalam konteks ini, yang kumaksud adalah saat aku pertama mengenali BTS dan lagu-lagunya, itu adalah waktu ketika aku sudah benar-benar membutuhkan mereka. Keyakinan ini lahir sebab saat aku diperkenalkan pada BTS oleh seorang teman, aku benar-benar sedang butuh healing untuk hari-hariku yang berat, penuh overthinking dan insecure. Meskipun sebenarnya temanku tidak pernah mengenalkan BTS untuk alasan itu, tapi aku percaya kalau itulah pintu yang membawaku untuk menemukan simpul dari ikatan antara aku dan BTS. Pintu yang mengenalkanku pada lagu-lagu mereka yang menyembuhkan.

So, why I stan BTS?

Bermula dari aku yang iseng menebak nama-nama member BTS di depan temanku yang seorang Army (dan tentunya tebakanku gagal berkian kali), mencoba meminta rekomendasi lagu BTS darinya hingga akhirnya aku mendengar lagu Life Goes On, nonton MV-nya dan berakhir kepo dengan lagu BTS yang lain. Omong-omong bias pertamaku di BTS adalah Kim Seok Jin, dan jujur itu murni karena visual Jin yang memukau. Tapi, penampilan Jung Kook yang memainkan drum membawakan lagu Dynamite berhasil membuatku ganti bias, fren. Dan sejak itu, aku yakin tidak pernah salah pilih bias, Jung Kook yang multitalenta mengingatkanku pada Ray, musisi yang kuidolakan sejak aku berumur sepuluh tahun. Namun, meski biasku adalah Jung Kook, tetap saja keenam member lain juga punya tempat spesial di hatiku terutama sejak aku menonton BTS in The Soop, salah satu reality show yang menampilkan mereka ‘apa adanya’.

BTS, Book and I

Tayangan BTS in The Soop dan beberapa video lain pulalah yang membuatku menyadari kalau BTS dan aku punya ketertarikan yang sama pada buku. Mungkin tidak semua member (aku belum riset untuk yang satu ini), tetapi ketika tahu leader mereka adalah maniak buku, aku semakin yakin tidak salah mengidolakan mereka sebab aku tahu bagaimanapun buku akan memengaruhi cara pandang mereka pada sesuatu dan tentunya sadar atau tidak cara pandang itu akan tertuang di lagu-lagu yang mereka hasilkan lalu sampai pada siapa pun yang mendengar serta berusaha mencari tahu dan memahami makna lagu mereka.

Aku sudah mencari tahu beberapa buku yang mereka baca dan aku kaget ketika buku-buku itu adalah buku yang masuk ke daftar buku yang telah kubaca dan beberapa lainnya adalah buku yang kuinginkan dan telah diterbitkan. Beberapa di antara buku itu juga termasuk ke dalam buku dengan penjualan terbaik di Korea Selatan dan tentunya Indonesia, dan kalau boleh cocoklogi, selain karena kualitas buku yang memang top, kurasa peran BTS yang membaca buku itu juga jadi salah satu faktor penting buku itu terjual banyak. BTS benar-benar memengaruhi penggemarnya untuk hal-hal yang baik, fren. Bahkan barangkali jadi salah satu alasan orang yang semula tidak gemar membaca jadi seorang yang rajin baca buku.

Sebenarnya, inilah inti penting dari keseluruhan tulisan ini. Niat awalku menulis ini bermula sejak aku tahu member BTS juga suka membaca dan aku secara kebetulan menemukan utas dari seseorang dengan username @dogarepages di Twitter. Utasnya berisi buku-buku yang dibaca oleh member BTS dan juga telah dipakai dalam konsep BTS. Tulisannya akan kurangkum di sini, selain karena akan memudahkanku untuk mengingat buku-buku ini—yang sekarang sudah otomatis jadi wishlist-ku, karena bagiku rekomendasi buku terbaik adalah rekomendasi dari seseorang yang jadi inspirasi kita—aku juga berharap rangkuman ini bisa bermanfaat bagi siapapun.

📒Into The Magic Shop (James R. Doty. MD) — yang dipakai untuk konsep lagu Magic Shop dan konsep Festa BTS.

📒Almond (Sohn Won-Pyung)— dibaca oleh RM di BTS in The Soop, diterbitkan oleh Grasindo.

📒Kim Ji Yeong lahir tahun 1982 (Cho Nam-Joo) — dibaca oleh Kim Nam Joon.

📒The Power of Languange (Shin Do Hyun & Yoon Na Ru) — sudah jadi wishlist-ku sebelum tahu kalau Kim Taehyung kabarnya pernah membaca buku ini.

📒I See You Like A Flower (Na Tae Joo) — buku puisi yang pernah dibaca oleh Hoseok dan menjadi inspirasi untuk lagu Serendipity.

📒Keajaiban Toko Kelontong Namiya (Keigo Higashino) — sempat viral di @literarybase dan jadi rekomendasi di mana-mana juga masuk daftar buku yang ingin kubaca dan ternyata buku ini sudah pernah dibaca oleh RM dan Seok Jin.

📒Hidup Apa Adanya (Kim Suhyun) — buku yang menarik perhatianku dari warna sampulnya yang cantik ini ternyata juga pernah dibaca oleh Jung Kook, fren.

📒Reinventing Your Life (Jeffret E. Young, Ph.D. & Janet S. Klosko, Ph.D.) — buku yang kabarnya pernah dibaca oleh Yoongi.

📒Amor Fati, Cintai Takdirmu (Rando Kim) — WAH! ada dandelion di sampul buku versi Indonesinya dan menurut @dogarepages buku ini pernah dibaca RM dan menjadi inspirasi untuk album BTS Love Yourself.

📒Demian (Herman Hesse) — pernah dibaca oleh RM dan menjadi konsep utama utama di era Wings.

📒The Little Prince (Antoine de Saint-Exupery) — buku favoritku di urutan pertama ini ternyata juga dibaca oleh RM dan menjadi salah satu referensi lagu Serendipity.

📒Map of The Soul & Map of the Soul Persona (Murray Stein) — buku ini jadi referensi untuk konsep album BTS dengan judul yang sama.

📒The Stranger (Albert Camus) — kabarnya pernah dibaca oleh RM.

📒Metamorfosis (Franz Kafka) — kabarnya pernah dibaca oleh RM.

📒Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda (Ernst H.) — kabarnya pernah dibaca oleh RM

🌠🌠🌠

Daftar itu masih akan berlanjut, @dogarepages masih menulis banyak buku referensi yang secara tidak langsung direkomendasikan oleh BTS. Mungkin di tulisan berikutnya akan aku rangkum kembali di blog ini. Dari daftar di atas, kita tahu bahwa RM (Kim Nam Joon) ternyata pembaca buku sejati, ya.

Btw, See you in the next post! I purple You! 💜

(Tanpa) Selebrasi

Saat kalimat pertama ini dibuat, dalam lima hari ke depan aku dijadwalkan untuk seminar proposal (sempro) dan tentu saja aku masih belum tahu akan berakhir bagaimana. Namun, apapun itu aku ingin segalanya tanpa selebrasi.

Tanpa selebrasi berarti aku menantang diriku sendiri untuk tidak mengunggah apapun yang berhubungan dengan seminar proposalku di media sosial; kecuali tentunya tulisan ini, yang baru akan kuunggah (mungkin) sehari setelah aku sempro. Jadi, ketika siapa pun kamu yang membaca tulisan ini sekarang, itu berarti kemarin atau beberapa hari yang lalu aku sudah selesai sempro (insyaallah). Dan kita akan sama-sama melihat apakah aku berhasil untuk tidak mengunggah apapun pada hari aku dijadwalkan sempro.

Kalau ada hal yang bisa kulakukan sebagai penanda bahwa aku telah melewati 1/3 dari kelulusan, maka barangkali tulisan ini saja sudah cukup–bahkan mungkin terlalu berlebihan.

Sekarang tanggal 29 April 2021, tulisan ini kusudahi untuk sementara. InsyaAllah akan kulanjut setelah seminar proposalku kelar.


Jika kamu akhirnya sampai pada kalimat ini, selamat, kamu sudah jadi salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa pada akhirnya aku telah berhasil melewati 1/3 dari kelulusan. Sebagai bentuk apresiasi untuk diriku sendiri, pada tulisan ini aku ingin mengenang perjalanan yang penuh lika liku dan tentunya juga luka yang telah kulewati. Entah ada yang berkenan membaca ini atau tidak (kurasa tidak, karena ini mungkin terlalu panjang dan membosankan), bagaimanapun aku ingin menulisnya untuk diriku sendiri di masa depan.


Pengajuan Judul Proposal

Aku akan mulai ceritanya dari pertama kali aku mengajukan judul proposal pada bulan Februari tahun 2020 lalu. Pengajuan judul ini sebenarnya adalah salah satu tugas untuk mata kuliah Metode Penelitian, dan persyaratannya mewajibkan setiap mahasiswa sudah punya judul dan menyelesaikan proposal pada akhir semester 6.

Pada akhir bulan Februari, judulku akhirnya diterima setelah melewati beberapa kali penolakan. Proses pengerjaan proposalku pun berjalan seiring waktu dengan satu tujuan utama: lulus mata kuliah metpen. Sama sekali belum berani untuk membayangkan bahwa aku mengerjakan proposal itu untuk: lulus dari UNM.

Mengingat Pandemi Covid-19 yang terjadi, maka akhirnya kuliah yang baru berjalan sekitar sebulan lebih harus dilakukan dari rumah, tentu kamu juga ingat itu, kan? Karena Pandemi itu pun, akhirnya penetapan SK Pembimbing dilakukan secara daring dan secara otomatis proses bimbingan juga berlangsung daring. Permasalahan pertama yang kutemui di sini adalah dospem pertamaku merupakan dosen yang belum pernah mengajar di kelasku, bahkan aku tidak punya ide apa-apa tentang bagaimana karakternya.

Drama kesalahpahaman antara aku dan dospem pun dimulai ketika aku pertama kali mengabari bahwa beliau adalah dospemku lewat WA. Awalnya obrolan masih normal-normal saja, sampai ketika suatu hari aku mengubah foto profil WA-ku dengan foto selfie. 😆 Apa yang kemudian terjadi? Aku ditegur dong:

Wkwkwk. Ini amat lucu bila kuingat-ingat lagi. Padahal di foto itu aku bahkan cuma selfie dengan mengangkat dua jari tanda peace. Ya menurutku itu masih sopan-sopan aja sih, ya kan? Meski begitu, aku sadar bahwa aku butuh bimbingan beliau untuk kelancaran proposalku, akhirnya aku minta maaf dan mengakui bahwa foto profil peace-ku itu tidak sopan. 🤫 Sejak kejadian itu, aku jadi trauma memasang foto profil yang macem-macem. Jadi, tiap kali aku akan mengirim pesan ke beliau, aku selalu pastikan foto profilku bukan kucing (karena aku selalu menjadikan hewan itu sebagai pilihan foto profil wkwk) atau foto dengan gaya banyak tingkah (meski kalau dipikir-pikir juga, seorang aku bisa sebanyak tingkah apasih kalau lagi foto. Ya, nggak?)

Meski pengalaman bimbinganku dengan beliau bermula dengan kesalahpahaman yang agak gimana banget, tetapi aku bersyukur bisa dibimbing oleh beliau. Mengenai teguran itu, serius aku sama sekali tidak menyimpan dendam atau perasaan marah dan jengkel sampai sekarang. Plot twist-nya ketika aku berkunjung ke rumah beliau untuk pertama kali, beliau begitu ramah dan penuh humor. Meski terbilang sudah berumur, beliau tetap bersedia memberikan arahan sesuai yang dibutuhkan oleh mahasiswa bimbingannya.

Singkat cerita, semester enam selesai dan untunglah aku bisa menyelesaikan proposalku. Benar-benar hanya sekadar selesai khusus untuk mata kuliah metpen saja. Setelah semester enam berakhir, aku sempat beberapa kali konsultasi daring ke dospem pertamaku, tetapi akhirnya harus tertunda oleh kegiatan PKM yang disusul oleh kegiatan KKN. Jadi, kesimpulannya bimbingan proposal itu kutunda selama semester tujuh. Aku benar-benar tidak menyentuh proposalku lagi waktu itu, sok ngide: “Inshaa Allah, awal semester delapan lanjut bimbingan serius.” Dan ternyata tak semudah itu, Kawan.

Nyatanya….

Harus Ganti Judul Setelah Sempat Bimbingan Beberapa Kali

23 Februari ketika aku sudah cukup yakin bakalan dapat ACC dari dospem pertama, aku ke rumah beliau untuk pertama kali dengan was-was tentunya, yang terjadi adalah GANTI JUDUL. GANTI TOPIK.

Panik nggak? Panik nggak? Ya paniklah masa nggak! 😆

Beliau bilang kalau judulku masih terlalu sederhana bla bla bla dan sebagainya. Meski awalnya aku sempat ingin membela diriku yang malang ini, tetapi pada akhirnya kata yang pertama keluar dari mulutku adalah: “Baik, Prof. Saya setuju.” Dan sore itu, beliau memintaku untuk langsung menyebut topik yang masih mungkin dihubungkan dengan judulku sebelumnya. Aku menyebutkan topik itu dan beliau mengangguk. Oke, katanya. Beliau lalu berkata, ” Kamu boleh pilih mau korelasi atau pengaruh.” dan aku menyepakati yang kedua. Dan akhirnya beliau memintaku untuk merumuskan topik itu menjadi judul.

Sepulang dari rumah beliau, malam harinya aku langsung riset judul-judul yang berkaitan dengan topikku dan akhirnya jadilah beberapa opsi. Dua hari kemudian, melalui pesan WA, judulku diterima oleh beliau. Lima hari, aku mengerjakan draft kasar proposal untuk judul baruku dan selesai. Sepekan setelah aku pertama kali ke rumah dospem pertama, aku konsultasi untuk pertama kali. Dan baru mendapat ACC 23 Maret 2021, tepat sebulan setelah drama ganti judul.

Berjuang Mendapat ACC dari Dospem Kedua

Berbeda dengan kebanyakan dosen, kedua dospemku sama-sama tidak bersedia melakukan bimbingan secara daring. Jadi, untuk konsultasi, aku harus ke rumah mereka. Rumah dospem pertamaku cukup dekat jaraknya (dan cukup bikin krisis moneter karena harus bayar abang abang grab wkwk). Sementara rumah dospem keduaku terbilang cukup jauh. Beruntungnya, untuk dospem keduaku ini, aku tidak berjuang sendiri, aku bersama teman seperjuangan dan seperhaluanku, Park He Ra, my best partner ever🤡, yang setia jadi Mbak Grab, menerjang panas dan banjir menuju Romangpolong. 😆 Tidak hanya itu, drama kecil seperti menunggu berjam-jam, tidak mendapati dospem kedua di rumahnya setelah perjalanan panjang nan melelahkan dan drama-drama lain turut mewarnai perjuangan kami mendapatkan ACC. Syukur-syukur, perjalanan ke sana tidak pernah boring karena selalu ada bahasan seru. 🤫😆

Ini sudah terlalu panjang, padahal cerita ini bahkan belum 50% dari realita yang sesungguhnya. Jadi, sepertinya setelah ini aku akam lebih banyak menggunakan kata ‘singkat cerita sekali lagi’ hahaha. Aku akan mulai menggunakannya di sini. Singkat cerita, 6 April 2021 akhirnya aku dan Hera sama-sama dapat. ACC. Yeay.✨

Lalu drama apa lagi setelah ini?

Memenuhi Syarat Pendaftaran Seminar Proposal

Dapat ACC kedua pembimbing tentu tidak ujug-ujug besok langsung sempro. OH TIDAK. Tidak semudah itu. Khusus jurusanku, syarat untuk daftar sempro yaitu wajib punya KBBI versi cetak dan kalau bisa versi terbaru, PUEBI, Kamus Linguistik dan TBBI. Beberapa buku itu sebetulnya sudah sejak semester pertama diinformaiskan untuk wajib dimiliki, tetapi khusus Kamus Linguistik, aku baru beli setelah dapat ACC. 🤫🧞 Selain keempat buku wajib itu, syarat paling utama adalah naskah proposal lolos uji turnitin dengan batas toleransi plagiasi adalah 20%.

Setelah semua persyaratan terpenuhi, akhirnya aku dan Hera bisa sama-sama daftar seminar proposal pada Senin, 12 April, tepat sehari sebelum puasa pertama. Meski harapan pulkam sebelum Ramadan tidak terealisasai, kami tetap bersyukur bisa daftar sempro dan pulkam dengan beban yang sedikit berkurang.

Setelah pulkam (karena memang kami tidak berniat sempro di kampus wkwk), drama selanjutnya adalah….

Kapan Jadwal Keluar?

Menunggu jadwal sempro nyatanya bukan pekerjaan enteng. Setiap hari was-was mengecek laman jurusan, harap-harap cemas dapat jadwal kapan dan dapat penguji siapa… . Setelah dua pekan jadwal belum keluar, aku mulai gelisah. Kok belum keluar? Apa operator jurusan lupa? Dan sebagainya dan sebagainya. Singkat cerita sekali lagi, barulah setelah hampir tiga pekan sejak pendaftaran, jadwal sekaligus dosen pengujiku diumukan. Beberapa drama lain sebelum pelaksanaan sempro adalah sakit menjelang seminar ditambah tiba-tiba dospem pertama meminta dikirimkan naskah cetak proposalku, sementara aku di kampung. Panik nggak? Bukan lagi! Keringat dingin! Untung, Harlina bersedia mau kurepotkan. Borahae Lina💜 Terima kasih sudah mau jadi bagian dari perjuangan mahapenuhlikalikuluka ini. ✨

Aku tidak mau berpanjang-panjang lagi, intinya 4 Mei 2021 akhirnya aku bisa melewati 1/3 dari kelulusan. Tak ada yang mesti diselebrasikan secara berlebihan, itulah mengapa aku menantang diriku sendiri. Bukan karena tidak bersyukur, aku cuma tidak ingin seminar proposal ini bikin aku jemawa dan malah ditenggelamkan euforia, padahal rintangan yang jauh lebih berat masih menghadang di depan sana.

Tidak tahu apa yang akan kita hadapi lagi setelah ini, tapi kita harus siap untuk drama-drama lain yang lebih menantang.

Akhirnya… Hei ini sama sekali belum akhirnya

Btw… thankyou for coming, Kookie. 🙈

halu adalah hak segala bangsa.

Buku Bekas Original Lebih Baik Ketimbang Buku Baru KW

Setuju nggak sama judul di atas?

Membeli buku akan selalu jadi pengalaman seru buatku. Dan sepertinya akan jauh lebih seru kalau didukung oleh kemampuan finansial yang mumpuni, yang artinya aku bisa ceklis satu per satu daftar buku yang masuk wishlist sejak kapan tahu. Ya, memang tidak bisa dimungkiri sih kalau harga buku termasuk mahal–bila dilihat dari persepektif kita sebagai pembaca. Beda lagi kalau dilihat dari persepektif penerbit dan terutama penulis. Jadi, tulisan ini bukan mau protes persoalan harga buku, melainkan cenderung ke kondisi dan kualitas buku.

Kita tahu, pertumbuhan e-commerce ternyata banyak melahirkan pedagang-pedagang buku nonoriginal. Mereka biasanya berlindung di balik istilah repro, bajakan, imitasi, KW super, non-ori kualitas oke, ori 98% (yakali original tapi 98% doang, 2% sisanya ke mana? 😄) dan masih banyak istilah-istilah serupa yang pada dasarnya menunjukkan kalau yang mereka jual sebenarnya bukan buku original.

Setahuku, beberapa buku nonoriginal seperti itu beragam dari segi kualitas. Ada yang benar-benar mirip dengan buku asli, menggunakan kertas yang kualitasnya lumayan, tetapi minus pada bagian tulisan yang kurang terbaca. Ada yang cuma bermodal kertas hvs, cetakan sampul seadanya dan isi yang ternyata hasil fotokopian. Kualitas beragam, tentu harga yang ditawarkan para pencetak buku ‘nakal’ itu juga beragam. Satu yang dapat dipastikan adalah harganya bisa 50% lebih murah dari harga asli buku original.

Sejujurnya, kenapa aku bisa tahu sedetail itu bukan karena aku adalah agen percetakan buku non-ori, kok. Hanya saja, beberapa buku akademik yang kubeli adalah buku bajakan alias kw atau apapun istilahnya. Beberapa buku itu tidak sampai lebih dari 5, kok (ya tetep aja!). Tolong, ini jangan ditiru. Aku bisa beri penjelasan (yang tentunya akan cenderung jadi pembelaan dan semoga termaafkan). Pertama, buku yang kubutuhkan adalah buku yang sudah tidak dicetak lagi, dan yang tersedia hanyalah buku imitasinya. Ya, kalau sudah permintaan dosen harus buku itu ya mau bagaimana lagi, kan? Masa harus kudatangi penerbit dan memaksa mereka menerbitkan buku aslinya. 😳😆 Kedua, ini alasan klasik tapi sangat realistis. Sebagai mahasiswa low budget, tentu saja buku yang dicari pun adalah buku yang ramah kantong, utamanya untuk buku-buku yang kemungkinan besar hanya akan digunakan pada semester tertentu saja.

Semoga saja pengakuan di atas tidak justru membuat kalian yang membaca ini termotivasi untuk membeli buku-buku bajakan, ya. Sebetulnya, itu juga cuma berlaku saat aku beli buku akademik, sementara untuk buku-buku fiksi aku selalu membeli buku original. Pilihannya cuma dua. Beli buku original atau tunggu sampai punya duit. Dari sini, sudah bisa kalian lihat kan sesayang apa aku dengan buku-buku fiksi?

Belakangan, aku baru tahu kalau ternyata di e-commerce pun banyak juga yang menjual buku original bekas dengan harga murah dan tentunya kualitasnya masih oke punya. Serius, dulu aku tidak pernah kepikiran untuk membeli buku original yang bekas. Padahal ide itu brilian sekali untuk menyelamatkan dompet. Ya, meskipun dengan membeli buku bekas berarti uang yang kita bayarkan hanya sampai pada penjual dan tidak bisa dinikmati oleh penulis maupun pihak penerbit. Ya, paling tidak cara ini adalah solusi tepat yang sama sekali tidak mematikan profesi penulis dan orang-orang di balik dapur penerbitan.

Beberapa opsi lain apabila kita tidak bisa membeli buku original adalah dengan cara meminjam. Baik di perpustakan sekolah/kampus, perpustakaan digital atau pinjam sama teman. Ya, secara pribadi opsi meminjam sangat membantu, tetapi terkadang aku kurang puas dengan cara itu. Soalnya bukunya cuma bisa digenggam, tetapi nggak bisa dimiliki. 😆

Omong-omong, kemarin aku baru saja membeli buku bekas pertamaku lewat e-commerce yang BA-nya adalah BTS. 🤫 Buku pertama adalah Tentang Kamu dari Tere Liye. Kondisinya 75% tetapi masih sangat sepadan dengan harganya yang cuma 25 ribu. Toh, isi bukunya nggak bakalan berubah hanya karena ada lecet di beberapa bagian, kertas menguning atau punggung bukunya rusak, kan?

Kedua, Perahu Kertas dari Dee Lestari. Sekadar informasi, ini adalah salah satu buku yang tidak bosan-bosannya kubaca. Pertama kali kubaca dua atau hampir tiga tahun lalu, modal pinjam di perpustakan kampus dan aku langsung suka. Kedua kali, tahun lalu lewat iPusnas yang antreannya sungguh membagongkan (pinjam istilah kekinian bund). Saat kubaca untuk kedua kali, aku langsung memutuskan untuk suatu hari buku fisiknya bisa kupeluk. Dan akhirnya terwujudlah lewat cara beli buku bekas rengan harga 25 ribu. Kondisinya pun masih sangat bagus, kisaran 90%. Aku bahkan bertanya-tanya kok pemilik sebelumnya mau jual buku sebagus ini dengan harga semurah itu? 😭 Padahal harga aslinya sekitar 90 ribuan lho.

Soal buku Perahu Kertas, ada cerita spesial di baliknya. Semoga lain kali aku bisa cerita di sini. Tungguin aja. 🤗

Semoga tidak ada lagi buku bajakan atau apa oun istilahnya yang kubeli setelah ini karena buku bekas original lebih baik ketimbang buku baru tapi KW.

📝ngabubuwrite

Create your website with WordPress.com
Get started