Sendoyan dan Cerita Tentang Kita | Bagian Pertama

sumber: pinterest

Bangunan sekolah yang dikelilingi pepohonan rimbun itu lengang.

Hanya terdapat baling-baling yang senantiasa berputar tanpa henti. Bangunan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai sekolah darurat itu hanya terdiri dari empat petak saja, tiga petak sebagai ruangan kelas dan sisanya adalah ruangan guru. Karena hal itu, anak-anak yang benar-benar ingin melanjutkan pendidikan ke kelas empat harus menempuh jarak sekian kilometer untuk menumpang di dusun sebelah.

Rangka bangunan itu dibuat dari kayu, sebagian dindingnya adalah kayu murah dan bagian belakangnya menggunakan tripleks bekas hasil patungan orang tua siswa. Di banyak bagian, cat dindingnya sudah pudar bahkan mengelupas hingga semakin terlihat suram–untuk tak mengatakannya tak layak.

Sudah sebulan belakangan ini, tak ada aktivitas belajar-mengajar di sekolah itu karena tak ada guru bantu yang datang. Sebetulnya ada guru tetap, Ibu Desi namanya. Hanya saja menurut informasi Abah Zaim, Ibu Desi baru akan bergabung sekitar sebulan lagi sehabis melahirkan.

Itulah mengapa Pita di sini. Di Sendoyan.

Abah Zaimlah yang mengajaknya ke sekolah darurat ini setelah sebelumnya beliau mengabari ayah Pita kalau desa mereka butuh tenaga pengajar, paling tidak sampai bulan depan.

Pita mengembuskan napas begitu selesai mendengar cerita pilu dari Abah. Di sebelahnya, Abah Zaim tersenyum maklum. Beliau termasuk orang berpengaruh di desa ini. Selain dihormati warga karena beliau adalah ketua RT, Abah Zaim juga terkenal bijaksana dan cerdas. Pendidikannya tinggi. Namun, beliau malah pulang ke kampung halaman dan bekerja jadi petani, alih-alih bekerja di Jakarta, yang mungkin saja membuatnya jadi profesor.

“Mbak Pita harus betah-betahin diri, ya. Sekolah ini sudah lama hampir ditutup karena guru tak kunjung datang, tetapi saya bersikeras untuk mempertahankannya. Kasihan anak-anak.”

“Lho, mengapa mau ditutup, Abah?”

“Beberapa warga nggak terima anaknya sekolah, mereka butuh bantuan tenaga untuk menghidupi keluarga. Itu sudah menjadi semacam tradisi di sini, Mbak. Anak-anak hanya dibiarkan sampai kelas tiga, kalau baca tulis mereka sudah lancar, anak-anak kemudian dipaksa bekerja entah jadi nelayan atau petani, bahkan yang lebih memprihatinkan sebagian besar mereka ikut orangtuanya ke Malaysia. Intinya, mereka membiarkan anak mereka belajar hanya supaya mereka tidak dibodoh-bodohi sama orang.”

Pita tertegun mendengar penjelasan Abah Zaim. Oke, ia memang sering melihat hal serupa di cerita-cerita film, tentang anak anak tanpa pendidikan. Namun, Pita pikir itu sekadar cerita yang dibumbuh-bumbuhi. Nyatanya, sekarang, di tempatnya akan mengabdi satu bulan ke depan, apa yang selama ini ia kira hanya terdapat dalam cerita saja, sudah benar-benar tersaji di depan matanya.

“Sebagian besar warga bersikeras untuk sekolah ini dijadikan gudang penyimpanan hasil ladang warga sebelum diangkut pengepul dari kota, tetapi beruntungnya sedikit warga yang masih ingin menyekolahkan anak-anak mereka tidak terima usul itu. Abah bersyukur sampai hari ini keinginan warga itu tidak lagi pernah terdengar.”

“Ada berapa murid, Bah?” tanya Pita sembari menatap sedih bangunan itu. Mereka berteduh di bawah pohon ketapang, yang kebetulan ada bangku kayu di sana.

“Tiga belas.”

“Lumayanlah, Bah.” Pita hampir tersenyum lebar mengetahui fakta itu ketika Abah Zaim menambahkan, “Itu seluruh kelas, Mbak. Bukan satu kelas saja.”

Pita kembali tercengang akan fakta yang dibeberkan Abah Zaim itu. “Sebegitu parahnyakah?”

Abah Zaim mengangguk dan tersenyum getir, “Seperti yang abah jelaskan tadi, Mbak. Anak-anak banyak di sini. Ramai. Namun, begitulah. Mereka harus membantu bapak dan mamak mereka.”

“Tapi pendidikan itu penting, Bah. Orang tua mereka tidak tahu?”

“Mereka tahu, tetapi mereka susah buat mengerti. Bagi mereka, pendidikan juga pada akhirnya adalah untuk cari kerja, ujung-ujungnya uang juga . Mengapa mesti menunggu dua belas tahunatau repot-repot menambah empat tahun kuliah lagi, kalau dengan kelas tiga saja sudah bisa menghasilkan uang. Itu prinsip mereka.”

“Miris ya, Bah.” Ucap Pita. Tak sanggup ia membayangkan anak-anak yang seharusnya tengah duduk manis, memperoleh pengetahuan dari gurunya dan mulai mengenal bahwa dunia bukan hanya tentang desa mereka saja, harus dipaksa bekerja keras bahkan untuk pekerjaan yang seharusnya hanya dikerjakan oleh orang dewasa.

“Itulah, Mbak. Ini menjadi tugas kita bersama. Abah senang kamu bersedia mengabdi di sini. Desa ini benar-benar butuh untuk dibangunkan, diterangi oleh cahaya pendidikan. Ini barangkali akan berat, Mbak, tapi Abah yakin selama kita punya tekad kuat, Inshaa Allah, Allah akan membantu.”

“Aamiin, Bah.”


Akan ada lanjutannya…

(Cerita ini adalah hasil dari #Cerpen5000Kata yang beberapa waktu lalu kuposting di sini)

3 responses to “Sendoyan dan Cerita Tentang Kita | Bagian Pertama”

  1. Ada kisah nyata, seperti ini juga, di Lombok bagian selatan. Murid tinggal 10. Seorang anak muda dari Kota Mataram meminta Tetua Adat mengumpulkan masyarakat. Ia bilang, Madrasahhya dibubarkan saja. Diganti jadi sekolah non-formal. Sekolah Adat. “Kalau tujuannya supaya anak-anak kita berdaya dan tidak mudah dibohongi orang kota, kita pakai sekolah adat. Pelajarannya kita yang bikin. Saya ndak perlu dibayar.” Dia menerapkan literasi kritis. Anak-anak yang tidak sekolah itu kini jadi pembaca buku ulet. Mereka kritis terhadap berita. Pandai membaca situasi. Punya kesadaran sekaligus kepedulian.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: