Hah? Jadi Guru?!

“Apa cita-citamu?” Sebuah pertanyaan yang tertulis di kertas kala aku masih sekolah menengah.

“Guru.” Jawabku, sebenarnya asal comot saja dari langit-langit kelas.

Lalu mengapa aku ingin jadi guru? Seriuskah itu cita-citaku? Waktu itu, aku belum punya ide apa-apa untuk menjawabnya. Aku sendiri bahkan menganggap profesi guru itu sesuatu yang membosankan, harus ikut tata-tertib, seragam, dan otomatis balik lagi ke rutinitas yang menjemukan alias mesti bangun pagi, berangkat pagi, harus senyum ke ratusan siswa, dan segala macam.

ADUH! Membayangkannya bikin puyeng!

Lalu, suatu waktu, aku menemukan satu alasan mengapa aku seharusnya jadi guru. Dan alasan itu adalah: menularkan virus literasi pada anak-anak!

Ah, ya. Aku suka berbagi hal yang baik-baik. Berbagi sesuatu yang kuanggap menyenangkan ke orang-orang, termasuk menebar benih ‘gemar baca’ di mana pun, pada siapa pun.

Berkaca dari pengalaman yang kulalui dua belas tahun di bangku sekolah, aku tidak pernah ingat ada guru yang mengingatkanku untuk membaca di rumah–kecuali buku pelajaran! Dan itu sama sekali tidak seru!

Harusnya guru-guru di sekolahlah yang memupuk gemar membaca di sekolah. Kenyataan yang terjadi justru gurunya sendiri malas membaca, apalagi menulis!

Uhuk–maaf-maaf. Tidak semua guru kok.

Jadi, atas dasar itu, aku ingin sebelum anak-anak terjun ke dunia perkuliahan, setidaknya mereka sudah menamatkan ratusan buku–kalau boleh ribuan.

Aku ingin anak-anak di generasi mendatang sudah melek literasi sejak dini. Aku berharap mereka tahu bahwa; HEI–ada lho kegiatan yang sangat menyenangkan yaitu membaca dan menulis apa pun, asal itu baik.

Jadi, kamu sendiri, apa cita-citamu?

.

.

.

🌻 September, 2019

Jangan Mengeluh Melulu, Dong!

Kurangi mengeluh; ini yang selalu aku ucapkan pada diri sendiri. Bahwa mengeluh, utamanya mengeluh pada orang-orang di sekitar kita, itu sama sekali tindakan tidak sopan.

Setiap orang punya ‘sampah’-nya masing-masing, kata teman twitterku sekali waktu. Tidakkah kita sadar bahwa keluhan-keluhan yang kita keluarkan saban hari di dekat kuping-kuping teman kita adalah toxic bagi mereka?

Pernah dengar semesta tidak berputar untuk kita saja? Aku setuju dengan ini. Bahwa kita perlu benar menyadari bahwa di dunia ini, bukan hanya kita seorang yang punya masalah. Jadi berhenti berlagak seolah-olah kita adalah pusat segalanya, seolah masalah hanya setia pada kita, tidak dengan orang lain hingga ketika kita punya masalah, kita menganggap orang lain perlu memusatkan perhatiannya pada kita.

Dude, mungkin kita seenak jidat mengeluh sana-sini, karena melihat teman kita dalam keadaan ‘baik-baik saja’ tanpa masalah apa-apa. Padahal, jangan-jangan kitanya saja yang terlalu bodoh untuk menyembunyikan masalah yang kita hadapi hingga perlu meracuni orang lain dengan masalah-masalah kita–yang sebenarnya tidak penting-penting amat.

Sekali lagi, semua orang punya masalahnya masing-masing. Mereka yang terlihat ‘baik-baik saja’ pun, punya masalahnya sendiri. Hanya saja mereka tidak seperti kamu kita yang sedikit-sedikit mengeluh ini-itu. Mereka punya caranya sendiri menghadapi masalahnya tanpa melibatkan orang lain.

Bukannya aku menentang segala bentuk kegiatan ‘berbagi masalah dengan orang lain’, hanya saja kalau masalahnya masih kecil-kecil dan masih bisa diselesaikan sendiri, kenapa harus melibatkan orang lain, sih?!

Duh.. aku enggak punya ini…

Duh… aku enggak bisa ini…

Duh… harusnya aku begini-tidak begitu…

Duh aku capek gini terus…

HEI! Orang lain juga capek dengerin keluhan itu!

Kelak, saat dorongan dalam diri untuk mengeluh itu kembali, semoga kita mengingat kembali tulisan ini. Bahwa, hei semua orang punya masalahnya masing-masing.

.

.

.

🌻 September 2019


Rezeki Itu Ada di Sekitar Kita

Sehabis salat magrib, tiba-tiba grup obrolan kosanku ramai. Katanya Ibu Kos memanggil kami–para anak kosannya–untuk makan malam bersama. Entah dalam rangka apa, mungkin habis arisan.

Meskipun sebenarnya aku dapat info itu sesaat setelah makan, aku tetap saja turun ke bawah buat makan bersama, hehe. Bukan rakus, kok. Tapi menolak rezeki itu tak baik. Dan enggak enak juga sama Ibu Kosan yang sudah memanggil kami berkali-kali. 😹

Terima kasih, Bu Kos. 🌻

.

.

.

🌻 September 2019

Putri Nanas dan Pangeran Kaktus

Gambar: Pinterest

Ini bukan cerita atau dongeng, kok.

Julukan Putri Nanas dan Pangeran Kaktus itu sudah kubuat setahun yang lalu. Rencana awalnya sih memang akan kubuat tulisan, entah cerpen atau novel, tetapi tidak pernah kesampaian gara-gara aku yang terlalu malas buat menggarapnya. πŸ™€

Gambar: Pinterest

Nanas dan kaktus sendiri adalah sepasang tumbuhan yang menjadi favoritku. Aku berencana untuk memilikinya di kamar kos, tetapi untuk nanas sepertinya sangat tidak memungkinkan. Jadi, kaktus saja. Saat ini aku masih mencari-cari penjual kaktus mini dengan harga yang mini (?) pula. πŸ˜…

Putri Nanas dan Pangeran Kaktus itu… terdengar lucu bagiku. Hehe. 😹

.

.

.

P.S. Ini konsepnya sudah lama, jadi kuunggah saja biar enggak berdebu. 😹

September 2019


Nanas untuk Nanas

Hai.

Alhamdulillah, bisa curi-curi waktu buat menulis ini di tengah ramainya tugas di depan mata. 😨

Masih ingat projek #Rasemen yang kujalani dengan Chan pekan lalu? Sesuai kesepakatan awal, setelah kami berhasil menyelasaikan tulisan selama sepekan itu, kami akan saling memberi reward satu sama lain.

Dan, hari itu pun tiba. Projek #Rasemen pertama kami (entahlah, apakah akan ada yang kedua atau ketiga, doakan saja) akhirnya berakhir hari Kamis lalu, hari ini giliran Chan yang memberikan reward padaku, setelah kemarin aku yang memberikannya. πŸ˜„

Lalu, Kucca dapat apa dari Chan?

Sebuah NANAS!

Eh–eh, bukan kok, bukan buahnya. Tapi, gelas dengan bentuk nanas. 🍍

Lucu, kan? Itu kubalik, biar bentuk nanasnya kelihatan. πŸ˜…

Alih-alih kufungsikan sebagai gelas, justru kujadikan tempat pulpen, dong. πŸ˜…

Bahagia rasanya, akhirnya punya produk berbentuk nanas untuk pertama kalinya, wkwk. Ya, meski sebenarnya Chan menyalahi aturan yang telah dibuat karena melebihi batas maksimal dari harga yang telah kami sepakati bersama– demi ‘sebuah’ nanas untukku. πŸ˜…

Oh, ya. Apakah hari ini hari hadiah sedunia?

Soalnya, selain dapat gelas nanas yang unyu tadi, aku juga dapat hadiah berupa ole-ole dari teman-teman yang habis ikut PIMNAS di Bali pekan lalu. Ada gantungan kunci dan pie susu khas Bali, sebuah gelang berwarna gelap dan dream catcher dari Harlina (salah seorang yang ketularan ‘kekucingan’ dariku) 😹 dan juga sebuah gelang berwarna cerah dari Liza (salah seorang yang ketularan Virus WP, wkwk) πŸ˜….

WAH–Terima kasih, kawan-kawanku. πŸ’›

.

.

.

🍍September 2019