Tukbatuk Pancaroba

Sudah hampir empat hari ini aku dilanda demam tinggi. Selain karena emang cuaca yang masih labil di tempatku, aku juga agak kepikiran tertular dari ponakanku yang sempat bermalam di rumah. Yap, waktu itu si kecil umur tujuh tahun itu sedang demam tinggi juga.

Selain demam, batuk ternyata juga enggak mau kalah. Tiap kali aku demam, pasti batuknya menyusul. Bukan batuk berdahak, alhamdulillah, cuma ya ganggu banget. Mulai tenggorokan sampai perut harus kerja ekstra tiap kali batuk. Dan mirisnya, batuknya bisa dibilang datang tiap beberapa kali dalam semenit. Hikssss…

Nah, baru setelah tiga hari batuknya enggak sembuh-sembuh aku kepikiran obat tradisional, yang semoga ampuh. Bahannya cukup mudah sih, mungkin juga sudah banyak yang membagikan informasinya di internet, yaitu kecap ditambah jeruk nipis. Beuh, meski rada kecut, tapi rasanya enak, sih. Hihi.

Sejauh ini, aku baru meminum ramuan(?) itu–kalau boleh kusebut begitu–dua kali. Tepatnya sebelum tulisan ini dibuat. 😹

Duh, tulisan ini cenderung curhat deh. Maaf-maaf, tapi kalau kalian punya saran ramuan obat batuk tradisional lainnya, silakan komen di bawah, ya! 😹😹

.

.

.

.

Januari, 2020

Tentang Pink

Tulisan ini… terlahir di tengah-tengah seabrek deadline yang mesti dikejar. Beranjak barang sejenak dari hiruk-pikuk, dan memberi ruang bagi diri untuk–yaa, paling tidak–menerbitkan senyum, meski tipis.

Sebelum beralih untuk menuliskan ini, aku iseng-iseng mengecek Facebook. Media sosial satu ini–meski banyak yang mengatakannya sebagai tempat berkumpulnya orang-orang alay atau para pemula di dunia maya–nyatanya ia punya kekhasannya tersendiri sebagai tempat menemukan sahabat yang sudah lama tak saling bersua.

Singkat cerita, lewat beranda Facebook-ku aku melihat sahabat lamaku, Pink namanya. Benar, itu hanya nama samaran. Aku tak akan membeberkan lebih jauh identitasnya karena… ya tulisan ini akan sedikit berhubungan dengan seseorang yang juga tak akan kusebut nama aslinya. Bila kau ingat, dia adalah Biru.

Pink, adalah sahabatku zaman TK/TPA dulu. Duh, zaman baheula, euy! Kami berteman baik karena tantenya yang menikah dengan sepupuku. Aku dan Pink beda tingkatan kelas dan beda sekolahan. Pink satu tahun di atasku. Tapi yaaa, zaman bocah, kayaknya kami tidak terlalu mementingkan kami kelas berapa, asal sudah cocok ya hayuk main. Pertemanan masa kecil itu memang sesederhana itu.

Karena berbeda sekolah, aku dan Pink biasa bertukar surat untuk menceritakan pengalaman kami di sekolah. Ah, bukan surat lewat pos kok. Kalau suratnya tidak dikirim lewat teman TK/TPA, paling langsung dikasih ke orangnya, wkwk. Tapi, tetap saja, suratnya harus dibaca di rumah masing-masing.

Agak menyesal sih, kenapa suratnya tidak kujaga baik-baik. Padahal itu salah satu kenangan yang cukup istimewa buatku. Pink selalu memberiku surat yang panjang, ditulis rapi di kertas folio bergaris, dan aku senang membacanya. Aku sendiri, selalu menulis surat di kertas binder yang bergambar princess, tapi tulisanku masih jauh lebih pendek dari yang Pink tulis untukku.

Selepas TK/TPA, kami sudah semakin jarang bertemu dan tak ada lagi surat-suratan. Selain karena memang beda sekolah, rumahnya juga cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Setelah itu, kami hanya bertemu sesekali di rumah sepupuku, itu pun dalam keadaan canggung, padahal dulunya lengket sekali. Aku bisa menebak alasannya sih. Mungkin karena saat itu dia sudah SMP dan aku masih di bangku SD, jadi semacam ada jarak di antara kami.

Sampai saat ini, kecanggungan itu nyatanya masih ada. Rentang waktu yang tak mempertemukan kami, nyatanya juga mencipta jarak untuk persahabatan masa kecil kami.

Boleh tidak, sebentar saja, kembali ke masa-masa itu?

Hm, omong-omong, Biru kapan muncul, nih, Kucca?

Ah, iya. Satu fakta yang tidak penting sih, tapi mungkin perlu kutuliskan di sini. Biru yang kaukenal lewat tulisanku adalah sepupunya Pink. Ibu mereka saudara kandung.

Sudah itu saja. πŸ™‚

.

.

.

Gambar: Pinterest

Desember 2019

Biru, Sekali Lagi

Tiga tahun lebih beberapa bulan bukanlah waktu yang singkat untuk merangkaki titian waktu bersama perasaan yang diam-diam tertanam dalam bingkai merah jambu dalam dada. Perasaan yang dititipkan pada seseorang yang bahkan tahu kalau dia punya pengagum saja tidak. Atau lebih parahnya lagi, seseorang yang bahkan tak pernah tahu bahwa ‘diri ini’ ada di bumi.

🌻🌻🌻

Namanya Biru. Mahasiswa Sejarah tingkat akhir. Tak ada yang istimewa, kecuali bahwa dia adalah seorang penulis dan (tentunya) punya minat besar pada buku-buku.

Hampir setengah tahun lalu, kuputuskan untuk berhenti. Berhenti mengaguminya, berhenti memantau akunnya diam-diam, dan berhenti untuk melakukan hal konyol lainnya. Kataku waktu itu, “Aku tidak ingin terjebak pada harapan-harapan yang kuciptakan sendiri.”

Benar. Seperti itulah adanya. Bulan-bulan setelahnya, pelan-pelan segalanya kembali terasa normal. Terasa baik-baik saja.

Lalu suatu hari, aku tergerak untuk mengintip akunnya. Kembali lagi memantaunya dengan perasaan yang jauh lebih enteng. Mm, mungkin hanya seperti seseorang yang sedang mengintip akun orang-orang yang tanpa sengaja lewat di beranda.

Dari sana aku mendapat informasi, “Ah, sedang sibuk skripsian rupanya.”

Hari-hari setelahnya, aku lebih intens mengunjungi akunnya, tetapi hampir sebulan lamanya, berandanya kosong. Benar-benar sibuk sepertinya.

Bulan-bulan berikutnya, tepatnya beberapa menit yang lalu, kudatangi lagi akunnya. Hanya penasaran saja, sudah sejauh mana sih perkembangan skripsinya?

Ah, padahal kalau dipikir-pikir untuk apa juga aku memikirkannya? Siapalah aku ini.

Bibirku tertarik samar kala melihat dia memposting beberapa kicauan. Lumayan banyak sebenarnya, itu membuatku menggulir layar ke atas demi membaca ocehannya.

“Oh, skripsinya sudah kelar.” kataku, dalam hati. Lalu diam-diam mengucapkannya selamat.

Di beberapa kicauan, dia menuliskan pertemuannya dengan beberapa teman lama. Mereka banyak mengobrol persoalan kehidupan sehari-hari, kesibukan masing-masing, mimpi, dan… teman hidup.

Ah, obrolan yang satu itu membuatku lebih mempertajam mata menatap huruf-huruf yang tersaji di layar.

Di sana ia menulis sesuatu. Katanya, “Suara gadis di belakangku benar-benar membuatku tak tahan untuk tidak menoleh. Mata kami bersitatap, dan dia tersenyum simpul padaku.”

“Ah, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama, tetapi ketika berjumpa dengannya, rasanya kekuatan matanya mampu merontokkan prinsipku soal cinta pada pandangan pertama adalah omongan kosong. Buktinya, sekarang ini terjadi.”

Tanpa berkomentar apa-apa, aku terus membaca. Menggulir layar, membaca satu kicauan demi kicauan yang dibuatnya menjadi utas.

“Aku memberanikan diri menyapanya, menawarkan kopi, dan dia menerimanya dengan senang hati. Ah, senyum manisnya bahkan mengubah kopi yang pahit menjadi manis.”

“Aku tidak tahu kapan, tetapi obrolan malam itu mengalir begitu saja diselingi canda tawa kami. Lalu janji berjumpa di tempat yang sama di lain waktu pun terucap.” tulisnya lagi.

Aku terdiam. Menghentikan tanganku untuk tidak menggulir layar ponsel, sejenak.

Ia melanjutkan, “Aku menemukannya. Teman hidup yang selalu jadi bahan obrolan dengan beberapa teman, aku sudah menemukannya.”

Ah, selamat sekali lagi kalau begitu.

Klise sekali dan terkesan terpaksa, tetapi sungguh aku sudah siap untuk fakta yang satu itu. Bagiku, menggantungkan harapan pada manusia sama saja membuat jebakan untuk diri sendiri. Untuk itulah, setengah tahun lalu aku mengusaikannya. Atau lebih tepatnya berusaha mengusaikannya, pelan-pelan.

Dan syukurlah… dia menemukan apa yang dia nantikan selama ini. Dia menemukan teman hidupnya.

Namun, setelah keikhlasan itu, kicauan berikutnya cukup mengejutkanku.

Ia melanjutkan, “Ah, Kawan. Ini hanyalah kisah fiktif. Sebagian kecil adalah kenyataan yang dibumbuhi kisah-kisah pemanis. Sudah lama sekali rupanya aku tak menulis roman seperti ini. Rindu juga.”

Aku terdiam, membacanya sekali lagi. Lalu mengucap sesuatu dalam hati, “Semoga segera kau benar-benar menemukan teman hidupmu.”

Dia menutup dengan kalimat, “Persoalan jodoh, biarlah takdir Tuhan berjalan sesuai rencana-Nya.”

Aku mengamini.

🌻🌻🌻

Layar ponselku berkedip, menampilkan indikator daya. Ah, 8%. Aku menutup ponsel lantas mengisi dayanya, kemudian terpikir untuk menulis kisahnya di sini, yang tentu saja jauh lebih fiktif. 😸

.

.

.

November, 2019

Komunitas Ikatan Kata

Maaf–aku tidak tahu ini maaf keberapa–untuk jarang sekali mengisi sesuatu di blog ini. Entah mengapa, belakangan ini aku kurang bisa mengatur waktu antara menulis, kerja tugas kuliah, dan melakukan aktivitas seputar kosan (alias bersih-bersih, dan sebagainya).

Oktober 2019 berlalu begitu saja, tanpa kesan manis yang berarti. Maksudku, jumlah tulisanku di Bulan Bahasa itu sungguh-sungguh mengecewakan diriku pribadi.

Lantas siapa yang patut disalahkan? Tak ada, selain diri sendiri. Ah, siapa suruh terlalu malas, siapa suruh terlalu memanjakan diri.

Sudah. Sudah. Cukup curhatnya!

Bulan Oktober itu, aku resmi bergabung dengan salah satu komunitas bloger Ikatan Kata yang diprakarsai oleh Mas Fahmi. Komunitasnya terbilang masih segar. Aku bergabung bersamaan dengan lahirnya komunitas ini–atau beberapa hari setelah komunitas ini lahir. Entahlah.

Mengapa aku memilih bergabung?

Sebenarnya, awalnya aku kurang yakin apakah harus bergabung atau tidak mengingat aku punya masalah besar terhadap konsistensi. Takut kalau-kalau tidak bisa memenuhi tuntutan komunitas. Namun, tak apalah mencoba dulu. Ini menjadi komunitas pertamaku (sebenarnya yang pertama adalah Blogger Perempuan Network, tetapi aku tidak terlalu paham bagaimana cara aktif di sana, hehe) dan syukur di komunitas ini bisa berkenalan dengan banyak bloger baru maupun yang sudah kenal cukup lama yang berarti bisa mendengar cerita-cerita baru dari mereka.

Kamu berminat bergabung? Bisa langsung ke sini, ya! πŸ™‚

.

.

.

2 November 2019

Menulis di Wattpad, Sekali Lagi

Gambar: Pinterset

Aku sudah mengenal wattpad semenjak duduk di bangku kelas sepuluh. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar dapat menyelesaikan ceritaku di sana. Di tahun-tahun itu, aku pernah menerbitkan satu cerita dengan judul yang keseringan berganti. Rekorku di wattpad buruk sekali. Aku hanya pernah berhasil menyentuh angka lebih dari seribu pembaca. Dan karena hal itu, aku memutuskan untuk berhenti dan menghapus cerita itu–selain karena ide yang mandeg, tentu saja.

Read More »

Kaktus untuk Nanas | Octobewrite #6

Pekan-pekan terakhir ini, rasanya jauh lebih melelahkan. Aku jadi tidak punya kesempatan buat menulis di blog–atau punya, tetapi terlampau malas karena kelelahan dan butuh istirahat lebih.

Padahal, rencananya Octobewrite ini belangsung setiap hari di bulan Oktober. Sayang sekali, tidak. πŸ™‚

Ya sudah, tak usah lama-lama dengan setumpuk alasan yang lebih terdengar seperti sebuah keluhan itu. Uhuk!

Baca juga: Putri Nanas dan Pangeran Kaktus

Aku mungkin pernah cerita (atau tidak) bahwa aku senang dengan beberapa tanaman seperti nanas, kaktus, dandelion, bunga matahari, dan sebagainya. Dan tentunya segala pernak-pernik yang berhubungan dengan itu.

Beberapa waktu lalu, aku iseng meminta gantungan kunci milik temanku yang berbentuk kaktus. Itu lucu banget, soalnya! Haha. Sebetulnya enggak berharap juga akan dikasih benaran, dan kata temanku, dia enggak bisa ngasih soalnya tas yang dia pakai juga bukan punya dia. Itu ounya temannya yang suka banget sama kaktus.

Terus, berlanjutlah percakapan kami soal kaktus. Katanya, “Kukira dandelion (yang aku suka maksudnya)?”

Kujawab, “Iya. Tapi aku juga suka banyak hal lainnya, salah satunya kaktus.”

Terus dia cerita kalau temannya itu mengoleksi bermacam-macam kaktus di kosannya. Dan temanku ini menawari, “Mau kumintakan kaktusnya?”

“Emang boleh?” kutanya. Soalnya setahuku harga kaktus cukup lumayan.

“Ya, kan, anaknya.”

Aku tersenyum semringah. “Mau dong!”

“Tapi kecil aja, ya.” kata temanku lagi.

“Iya. Gapapa. Asal gratiiiis.” 😸

Lalu, hari ini temanku benaran membawakan kaktus itu buatku. Lengkap dengan pot mininya yang aku suka banget. Kalau pot mininya, ini rada surprise sih buatku, soalnya tadinya temanku ini bilang kalau kaktusnya ditaruh di gelas plastik saja. Menurut pengakuannya, dia sempat ke toko buat cari sesuatu dan kebetulan lihat pot mini itu, alhasil dia beli deh buatku, hihi.

Kemudian, yang juga agak kejutan itu kaktusnya sendiri. Kukira dia ngasih satu, ternyata dapat bonus, dua pula.

Pot sebelah kiri itu isinya ada dua, yang satu agak enggak kelihatan soalnya masih kecil banget, hehe. Terus yang sebelah kanan inilah bonusnya, hihi. Udah gede. πŸ’›

Doakan ya, supaya tanaman kaktusnya bisa tumbuh dan sehat. πŸ™‚

Thanks a lot buat Evi dan temannya yang sudah berbaik hati berbagi koleksi kaktusnya. Semoga bisnis kaktusnya lancar jaya. 😸😸😸

O, ya. Kamu merawat kaktus juga? Berbagi cerita atau tips merawat kaktus dong, hehe. πŸ™‚

.

.

.

πŸ“– Oktober 2019

[Resensi]: Stormitory – Rina Kartomisastro

  • Identitas Buku:

Judul Buku: Stormitory

Penulis: Rina Kartomisastro

Penerbit: Bhuana Sastra

Tahun Terbit: 2018

ISBN: 978-602-455-268-8

  • Blurb:

“Ini… kost campuran? Cewek-cowok? Atau kost ceweknya terpisah di rumah lain?”

Lelaki lolipop memutar matanya dengan gaya jenaka, seperti bingung dengan pertanyaan Una. Tak lama, ia tersenyum sambil menatap mata Una lekat-lekat. “Seperti yang kamu lihat, runahnya cuma ada satu. Dan, ini bukan kost campuran, tapi kost khusus cowok.”

“APA??!”

  • Resensi:

Stormitory ini adalah satu dari sepuluh buku yang kubeli beberapa waktu lalu. Novel ini juga yang pertama kali mencuri perhatianku untuk membacanya karena sedikit blurb+sinopsis pendek di sampul belakangnya.

Omong-omong, alasan lainku adalah karena sinopsis yang kumaksud itu langsung mengingatkanku pada novel The Chrinicles of Audy, yang terjebak dengan cowok-cowok tampan di keluarga 4R.

Eum, sebenarnya aku sama sekali tidak ingin membandingkan keduanya, hanya saja… mungkin aku tidak bisa untuk tidak melakukannya. Karena… premis ceritanya terlalu mirip, menurutku.

(Mirip bukan berarti sama lho, ya! Hehe.)

Novel ini termasuk ringan. Diceritakan seorang gadis bernama Una, semester lima dan kuliah di Jurusan Komunikasi di salah satu kampus di Jakarta, memilih Kota Malang sebagai kota tempatnya magang.

Ia sebenarnya bisa magang di Jakarta atau lokasi yang jaraknya dekat dari rumahnya, tetapi ia punya alasan kuat mengapa harus Kota Malang. Alasan itu tak lain adalah Fedy, senior Una kala masih SMA, dan baik banget pada Una.

Berangkat dengan kereta, Una mengalami insiden setibanya di Malang. Pertama, ia hampir saja melupakan tasnya kalau saja seorang cowok yang tak ia kenal menyerahkan tas itu padanya. Kedua, Una tersesat di jalan. Ia tidak tahu bagaimana supaya bisa tiba di penginapan gratis yang beberapa hari sebelumnya dicarikan ayahnya. Ketiga, ia ditolong oleh seorang cowok yang superdingin. Cowok itu mengantarnya hingga tiba di alamat yang ia maksud. Keempat, Una terperanjat. Ternyata, penginapan yang dicarikan ayahnya itu adalah kost khusus cowok!

Lalu, bertemulah Una dengan orang-orang aneh bin ajaib di The Random House–nama kost itu. Kost yang berisi orang-orang random. Fiuuuuuh.

Ada Deva, cowok tengil, usil, baik hati, perhatian, dan suka lolipop di usianya yang tidak remaja lagi! Dan oh.. dia playboy!

Ada si Kembar, Endra dan Endru. Endru yang selalu memakai topi dan si Endra yang tidak suka dengan Una sejak pertama bertemu.

Ada si Altof, pemuda berkacamata yang karismatik.

Ada Bayu, pemuda dingin yang susah dideskripsikan!

Dan ya, satu lagi. Mamas.

Mamas itu… seekor kucing, omong-omong. 😻

Dan begitulah kisah ini bermula.

Di antara kelima cowok di The Random House (+ 1 Mamas), Una paling dekat dengan Deva. Namun, kemudian ia pelan-pelan juga dekat dengan Mas Altof yang berubah dipanggil jadi Bang Altof ketika Una tahu bahwa Altof juga orang Jakarta.

Una mulai magang di majalah Paper Girls, sesuai tujuannya semula, Una berusaha mencari tahu keberadaan Fedy. Di tengah-tengah permasalahan itu, Una juga terusik oleh kabar simpang siur yang mengatakan bahwa di The Random House, pernah terjadi pembunuhan. Lalu… di antara lima cowok itu, siapa pembunuhnya?

Yaa… seratus lima puluh halaman pertama, aku bosan. Jujur. Meski premisnya kuat, sayang sekali Rina Kartomisastro belum mampu membuatku jatuh hati semenjak di kata pertama–atau paling enggak di paragraf pertama. Sayang sekali.

Mm, mungkin juga karena aku menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada novel ini. Aku diam-diam menaruh harap bahwa novel ini akan seseru The Chronicles of Audy. Namun ternyata… aku justru kecewa.

Di novel ini, aku banyak menemukan ketidakkonsistenan tokoh. Yang awalnya tujuan Una ke Malang kan mau mencari Fedy, lha, kenapa sepanjang novel ia justru sibuk mencari tahu rahasia di The Random House. Teruuuus, penggambaran cowok-cowoknya juga tidak membuatku menitipkan hati pada satu pun di antara mereka. Aku tidak tahu harus ngeship si Una ini dengan siapa. Apakah Deva? Altof? Bayu? Atau siapa?! Di antara mereka, aku kok tidak menemukan chemistry (?).

Aku bingung, sungguh. 😹

Heheheeee….

Oh, ya. Selain persoalan itu, alurnya terlalu terburu-buru juga menurutku. Dan paling penting ada bagian yang absurd, tidak jelas, dan membingungkan.

Ada adegan ketika si Altof dan Bayu tiba-tiba saling serang, mendadak. Dan aku kaget, dong. Pasalnya, sebelumnya konfliknya apa, sama-sekali tidak diceritakan. Pun setelahnya, juga tak tergambar jelas apa alasan mereka saling serang.

Bukannya tegang dengan aksi itu, aku malah mengerutkan dahi; bingung sungguh aku bingung.

Di beberapa bagian saat penceritaan Si Kembar, aku menemukan typo. Ada yang seharusnya ditulis Endra malah tertulis Endru, dan sebaliknya.

Panjang yaaaa komentarku. Hehe. Tenang… tenang.

Selain itu, aku suka kok beberapa bagian dari buku ini. Pertama sampulnya. Unyu cute, menggemaskan. Ukuran novelnya juga imut, enak kalau dibaca.

Kedua, buku ini lumayan paslah dibaca untuk refreshing setelah banyak tugas. Meski banyak kekurangannya, dengan usaha keras, penulisnya bisa menyisipkan sisi humor hingga ketika membacanya aku bisa terhibur, hehe.

Ketiga, pesan yang ingin disampaikan penulis, bisa dibilang lumayan berhasil.

Keempat, aku suka bagian kebersamaan si Kembar yang saling cuek tapi diam-diam saling perhatian. Uuuuh. 🌻 Dan karakter Deva sebenarnya lumayan bikin terenyuh, terutama fakta mengenai masa lalunya. 🌻

Kelima, karena ada Mamas. 😹

Dan begitulah pengalamanku membaca Stormitory. Kamu sudah pernah baca juga? Yuk berbagi pengalamanmu di kolom komentar, thankssss. πŸ™‚

  • Penilaian:

3 dari 5 Bintang

.

.

.

πŸ“– Oktober 2019