Buku Bekas Original Lebih Baik Ketimbang Buku Baru KW

Setuju nggak sama judul di atas?

Membeli buku akan selalu jadi pengalaman seru buatku. Dan sepertinya akan jauh lebih seru kalau didukung oleh kemampuan finansial yang mumpuni, yang artinya aku bisa ceklis satu per satu daftar buku yang masuk wishlist sejak kapan tahu. Ya, memang tidak bisa dimungkiri sih kalau harga buku termasuk mahal–bila dilihat dari persepektif kita sebagai pembaca. Beda lagi kalau dilihat dari persepektif penerbit dan terutama penulis. Jadi, tulisan ini bukan mau protes persoalan harga buku, melainkan cenderung ke kondisi dan kualitas buku.

Kita tahu, pertumbuhan e-commerce ternyata banyak melahirkan pedagang-pedagang buku nonoriginal. Mereka biasanya berlindung di balik istilah repro, bajakan, imitasi, KW super, non-ori kualitas oke, ori 98% (yakali original tapi 98% doang, 2% sisanya ke mana? ๐Ÿ˜„) dan masih banyak istilah-istilah serupa yang pada dasarnya menunjukkan kalau yang mereka jual sebenarnya bukan buku original.

Setahuku, beberapa buku nonoriginal seperti itu beragam dari segi kualitas. Ada yang benar-benar mirip dengan buku asli, menggunakan kertas yang kualitasnya lumayan, tetapi minus pada bagian tulisan yang kurang terbaca. Ada yang cuma bermodal kertas hvs, cetakan sampul seadanya dan isi yang ternyata hasil fotokopian. Kualitas beragam, tentu harga yang ditawarkan para pencetak buku ‘nakal’ itu juga beragam. Satu yang dapat dipastikan adalah harganya bisa 50% lebih murah dari harga asli buku original.

Sejujurnya, kenapa aku bisa tahu sedetail itu bukan karena aku adalah agen percetakan buku non-ori, kok. Hanya saja, beberapa buku akademik yang kubeli adalah buku bajakan alias kw atau apapun istilahnya. Beberapa buku itu tidak sampai lebih dari 5, kok (ya tetep aja!). Tolong, ini jangan ditiru. Aku bisa beri penjelasan (yang tentunya akan cenderung jadi pembelaan dan semoga termaafkan). Pertama, buku yang kubutuhkan adalah buku yang sudah tidak dicetak lagi, dan yang tersedia hanyalah buku imitasinya. Ya, kalau sudah permintaan dosen harus buku itu ya mau bagaimana lagi, kan? Masa harus kudatangi penerbit dan memaksa mereka menerbitkan buku aslinya. ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜† Kedua, ini alasan klasik tapi sangat realistis. Sebagai mahasiswa low budget, tentu saja buku yang dicari pun adalah buku yang ramah kantong, utamanya untuk buku-buku yang kemungkinan besar hanya akan digunakan pada semester tertentu saja.

Semoga saja pengakuan di atas tidak justru membuat kalian yang membaca ini termotivasi untuk membeli buku-buku bajakan, ya. Sebetulnya, itu juga cuma berlaku saat aku beli buku akademik, sementara untuk buku-buku fiksi aku selalu membeli buku original. Pilihannya cuma dua. Beli buku original atau tunggu sampai punya duit. Dari sini, sudah bisa kalian lihat kan sesayang apa aku dengan buku-buku fiksi?

Belakangan, aku baru tahu kalau ternyata di e-commerce pun banyak juga yang menjual buku original bekas dengan harga murah dan tentunya kualitasnya masih oke punya. Serius, dulu aku tidak pernah kepikiran untuk membeli buku original yang bekas. Padahal ide itu brilian sekali untuk menyelamatkan dompet. Ya, meskipun dengan membeli buku bekas berarti uang yang kita bayarkan hanya sampai pada penjual dan tidak bisa dinikmati oleh penulis maupun pihak penerbit. Ya, paling tidak cara ini adalah solusi tepat yang sama sekali tidak mematikan profesi penulis dan orang-orang di balik dapur penerbitan.

Beberapa opsi lain apabila kita tidak bisa membeli buku original adalah dengan cara meminjam. Baik di perpustakan sekolah/kampus, perpustakaan digital atau pinjam sama teman. Ya, secara pribadi opsi meminjam sangat membantu, tetapi terkadang aku kurang puas dengan cara itu. Soalnya bukunya cuma bisa digenggam, tetapi nggak bisa dimiliki. ๐Ÿ˜†

Omong-omong, kemarin aku baru saja membeli buku bekas pertamaku lewat e-commerce yang BA-nya adalah BTS. ๐Ÿคซ Buku pertama adalah Tentang Kamu dari Tere Liye. Kondisinya 75% tetapi masih sangat sepadan dengan harganya yang cuma 25 ribu. Toh, isi bukunya nggak bakalan berubah hanya karena ada lecet di beberapa bagian, kertas menguning atau punggung bukunya rusak, kan?

Kedua, Perahu Kertas dari Dee Lestari. Sekadar informasi, ini adalah salah satu buku yang tidak bosan-bosannya kubaca. Pertama kali kubaca dua atau hampir tiga tahun lalu, modal pinjam di perpustakan kampus dan aku langsung suka. Kedua kali, tahun lalu lewat iPusnas yang antreannya sungguh membagongkan (pinjam istilah kekinian bund). Saat kubaca untuk kedua kali, aku langsung memutuskan untuk suatu hari buku fisiknya bisa kupeluk. Dan akhirnya terwujudlah lewat cara beli buku bekas rengan harga 25 ribu. Kondisinya pun masih sangat bagus, kisaran 90%. Aku bahkan bertanya-tanya kok pemilik sebelumnya mau jual buku sebagus ini dengan harga semurah itu? ๐Ÿ˜ญ Padahal harga aslinya sekitar 90 ribuan lho.

Soal buku Perahu Kertas, ada cerita spesial di baliknya. Semoga lain kali aku bisa cerita di sini. Tungguin aja. ๐Ÿค—

Semoga tidak ada lagi buku bajakan atau apa oun istilahnya yang kubeli setelah ini karena buku bekas original lebih baik ketimbang buku baru tapi KW.

๐Ÿ“ngabubuwrite

Sepotong Puisi di Penghujung Bulan Bahasa

Tepat pada angka genap terakhir Bulan Bahasa, disapanya alam raya dengan puisi tangisan pertamanya.
Tak ada yang memahami dan tak perlu ada.
Toh puisi adalah jiwa yang sedang merenungi nasibnya sendiri.
Mengais makna dari jalinan kata sampai ia merasa berarti.

Senandung cinta dari Ibu adalah puisi pertama yang didengarkannya.
Dekapan hangat di tubuh mungilnya adalah diksi pertamanya.
Kecupan penuh kasih itu adalah majas paling nyata yang melengkapinya.
Pun hari-hari setelahnya adalah bait-bait puisi kehidupan yang dijalinnya.

Dan puisi ini adalah formula romantis untuk merayakan setiap larik-larik yang telah berlalu.
Hari baik untuk mengucap terima kasih pada sarwa luka dan suka pada bait yang dulu.

Bulan Bahasa, 2020

Postscript:
Terakhir, ia ingin tahu, apakah akan ada kamu di bait-bait puisi ini setelahnya?

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started