a poem

Sebuah surat telah kukirimkan padamu
mengarung pada desiran darahmu
lalu berlabuh di matamu

Read More »

INFP-T

Beberapa waktu lalu, ada seorang member Komunitas Ikatan Kata–atau singkatnya kusebut saja komunikata, semoga teman-teman yang lain tidak keberatan wkwk–yang mengirim pranala tes tipe kepribadian. Nanti aku sisipkan pranalanya di bagian akhir tulisan ini, ya.

Read More »

Bongkar Pakaian Lama

Kesibukanku dari pagi kemarin bersama Ibu adalah membersihkan kamar, mengubah posisi ranjang, lemari dan memilah-milah baju-baju lama. Mana yang masih pantas disimpan, mana yang memang sudah harus disingkirkan karena sudah usang dan dimakan kecoa. ๐Ÿธ(Anggap saja ini emoji kecoa gais).

Ternyata kegiatan pilah-pilih baju cukup menyenangkan meski menguras tenaga plus harus siap bersin-bersin. ๐Ÿ˜น Bagian menyenangkannya ketika aku mendapat baju-baju masa kecilku. Sedikit-banyaknya aku masih ingat momen ketika menggunakan baju-baju itu.

Misal baju jingga bergambar pokemon itu, aku ingat sekali pernah memakainya ke rumah tante. Terus adiknya si tante bilang, “Pake baju baru ya si Kucca.” Wkwk. Itu momen kapan yaaa, mungkin umurku sekitar 5 atau kurang haha.

Selain itu, ada juga topi rajut buatan tanteku. Ini tante yang lain lagi, lho, ya. ๐Ÿ˜น Sudah lama kucari ternyata topi itu tenggelam di antara baju-baju lama ini. Hmm~.

Selain baju-bajuku, ada juga baju punya Ibu waktu masih dewasa muda, Kakak pas masih remaja dan baju-baju lainnya.

Di antara baju-baju itu, aku mengambil satu baju Ibu yang kurasa masih cocok kukenakan di zaman sekarang hehehe๐Ÿ˜น dan handuk besar yang kelihatan masih baru. Handuk itu punya kakakku ketika masih bayi. Bayangkan~. Awet banget ya handuk itu! ๐Ÿ˜น

Sisanya, baju-baju yang tidak lolos sortiran, kami masukkan ke karung. Dan hasilnya ada dua karung lebih! ๐Ÿ˜น

Selanjutnya mau dikemanakan ya baju-baju ini? Mau disumbangin juga semuanya sudah tak layak pakai. Hm~

Ada saran?

.

.

.

Januari 2020

#Throwback 1 Dekade

Satu dekade, 2009-2019.

Merangkum perjalanan sepuluh tahun dalam sebuah postingan. How can?

Hanya beberapa. Sebagian tak diungkap karena memang tidak terlalu penting dan sebagian besarnya lagi tak diceritakan karena terlalu privasi.

“Lantas, kami kebagian potongan cerita yang mana dong?!” Ujar kucing tetangga.

“Kalian kebagian yang tidak amat penting tapi perlu diceritakan untuk dikenang.” Jawab Encur, kucingku.

*abaikan saja percakapan dua sejoli di atas.

Kurasa aku pernah berbagi kisah soal awal mula aku jadi seorang maniak idola cilik fangirl anak-anak ICIL. Tahun 2009 adalah masa-masa kejayaan acara anak-anak itu. Usiaku saat itu baru sebelas. Masih terlalu belia untuk mengerti rasa suka dan cinta. Tapi, saat itu di binderku, di bagian belakang bukuku, di kamusku, di dinding kamarku, semuanya berisi kecintaanku pada acara musik itu dan tentunya mereka yang punya suara merdu dan bonus wajah tampan.

Sebut saja Rio dari Manado, Ozy dari Makassar, Ray dari Bekasi dan lain-lain. Mungkin ada yang heran, mengapa sampai nama kota kelahiran mereka saja aku bisa hafal sampai sekarang. Jadi, aku memang sefanatik itu gais. Ini agak malu-maluin, tapi perlu kuakui bahwa bahkan tanggal lahir mereka saja aku tahu.

Bahkan sampai sekarang ini, aku masih berharap mereka ngadain acara reuni. Hitung-hitung mengenang masa kecil, kan?

Bahas ICIL enggak bakalan ada usainya. Kita beralih ke tahun-tahun setelahnya. Tahun ketika aku mulai berkenalan dengan media sosial.

Ini terjadi kala aku kelas tujuh. Media sosial itu tentu sudah teman-teman tahu. Si F yang Biru. Facebook. Si F yang masih eksis hingga kini.

Akun Facebook pertamaku–yang omong-omong masih kupakai hingga kini–adalah akun yang dibuat oleh teman SMP-ku. Mulai dari musim tulisan alay (untungnya bukan gabungin huruf dengan angka, wkwk) sampai musim kata-kata bijak, semua terangkum di sana. ๐Ÿ˜น

Setelah media sosial F itu, beralihlah aku ke si burung biru muda yang senang berkicau. Twitter. Di sana segala macam bentuk perasaan tertuang. Dan masih terekam hingga sekarang. Aku kadang bersyukur pernah sebegitu aktifnya di media sosial itu. Dari sana aku tinggal mengetik ‘kata kunci’ lantas menemukan twit-twit lamaku, yang kadang-kadang bikin aku yang sekarang, mengerutkan kening, ketawa, bahkan memaki diri sendiri saking ‘enggak warasnya’ isi twit itu.

Beralih ke musimnya novel. Semenjak yang kuceritaka di sini, aku semakin gencar mencari novel. Dari yang ‘pdf gratisan’ alias ‘ebook bajakan‘ hingga buku hasil pinjam dari teman. Masih benar-benar polos persoalan novel, asal bisa baca, ceritanya ngalir, dan bikin termotivasi buat menulis juga.

Sampai pada akhirnya kesadaran akan bukupun muncul. Tak perlu lagi kujelaskan, kalian tentu paham maksudku.

Lanjut.

Musimnya drakor juga sempat mengalihkan perhatianku. Semenjak SMA, hobiku mengumpulkan drakor-drakor itu, kutonton sampai larut, dan esoknya ngborol heboh barenga teman. ๐Ÿ™‚ Namun, ternyata yang pernah bikin candu juga bisa bikin enek. Lebih dari setahun lalu, aku tidak pernah lagi mengoleksi drakor atau menontonnya. Kalau di TV mungkin masih kutonton, sih.

Sebenarnya masih banyak yang perlu kucerita, mungkin di postingan berikufjya. Tunggu yaaaa ๐Ÿ˜น

.

.

.

:))

Januari 2020

Segepok ‘Ole-Ole’

Pagi tadi aku ke Puskemas karena batuk dan demam masih belum sembuh-sembuh juga. Datang pagi-pagi biar bisa dapat nomor antrean paling depan, eh ujung-ujungnya dapat nomor 34.

Mungkin karena kelelahan menunggu, dan tidak sempat sarapan sebelum berangkat aku hampir pingsan di ruang tunggu. Kepalaku pusing dan pandanganku mengabur, keringat dingin mengucur di mana-mana. Duh. Segera aku dibawa ke UGD oleh Kakak buat istirahat sambil menunggu antrean.

Sebelumnya, aku bertemu kawanku saat SMP-SMA, kebetulan dia juga datang untuk berobat bersama mamanya. Nah, mamanya inilah yang kemudian menyarankan agar aku dibawa ke UGD.

Selang beberapa waktu, mereka datang untuk menjenguk sekaligus pamit karena mereka sudah dapat obat dan harus segera pulang.

Setelah drama panjang itu, akhirnya nomor antreanku disebut. Sekian tahap kulewati, tiba juga di bagian Farmasi untuk menebus obat sesuai resep dokter.

Dan dapatlah obat-obat ini sebagai ole-ole. Semoga demam dan batuknya bisa sembuh dengan ini. :))

.

.

.

Januari 2020