Once in a Blue Moon

Because i’ve reread Kugy-Keenan, now i wanna tell some story about someone. Seseorang yang telah lama kutahu (but i guest, he never noticed me–till now i think, even though i’m okay about that). Tulisan ini juga untuk melunasi janji di pos sebelumnya.

Agustus 2016, dari orang terdekatnya aku tahu satu informasi bahwa dia juga seseorang yang senang menulis. Sangat langka untuk ditemukan di daerah itu. Lalu, entah keping keajaiban mana yang tiba-tiba mempertemukan kami untuk kali pertama pada pertengahan 2017 di sebuah acara silaturahmi, meski tanpa perbincangan sama sekali di antara kami. That’s why, i guest, he don’t know me.

*auto play You Don’t Know Me by Soyou & Brother Su 😂

Akhir 2017, aku tahu kalau dia ternyata telah membaca banyak buku, dan aku tertarik pada satu buku yang selalu ia sebut-sebut; Perahu Kertas (Okay, now you know that i was stalking him 🙈). Aku tahu buku itu, bahkan filmnya, tapi aku tak pernah tertarik menonton atau membacanya, sampai hari itu tiba. Suatu hari di tahun yang sama, di perpustakan kampus, aku tanpa sengaja menemukan buku itu, aku meminjamnya dan akhirnya turut hanyut dalam cerita Kugy-Keenan yang penuh dengan idealisme remaja yang harus dihadapkan pada realitas, kisah persahabatan, cinta dan mimpi. Klik, aku jatuh cinta pada kisah menarik itu. Dan akhirnya jadi buku dengan plot dan tema terbaik yang pernah kubaca sejauh ini.

Beberapa bulan lalu, hampir tiga tahun sejak hari itu, kami akhirnya ‘bertemu’–lewat jalur reply di salah satu media sosial, dan lagi-lagi aku sangat yakin dia (masih) tidak tahu aku. Kejadian itu tentu bukan disengaja, dan terjadi secara kebetulan saat aku menulis sebuah kutipan yang waktu itu aku lupa pernah baca di mana, dan dia tiba-tiba berkomentar, “kutipan dari Perahu Kertas, Dee Lestari.” dan saat itulah diskusi pendek persoalan idealisme terjadi, singkat tapi cukup menyenangkan dengan segala kebetulan yang ada.

Aku belum baca ulang lagi buku itu waktu dia bilang begitu, dan aku juga sudah agak lupa dengan beberapa plot ceritanya, tapi dia bilang, “selami dulu bukunya, kalau udah beres baca, sharing bisa.”

Dan begitulah sampai akhirnya hal itu jadi salah satu alasan aku pengin punya buku itu dalam bentuk fisik, hingga terbitlah tulisan ini.

Sekarang aku sudah selesai membaca ulang buku itu, so, should I discuss about that book with him?

NOOOO! It’s impossible. 🙈

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: