(Tanpa) Selebrasi

Saat kalimat pertama ini dibuat, dalam lima hari ke depan aku dijadwalkan untuk seminar proposal (sempro) dan tentu saja aku masih belum tahu akan berakhir bagaimana. Namun, apapun itu aku ingin segalanya tanpa selebrasi.

Tanpa selebrasi berarti aku menantang diriku sendiri untuk tidak mengunggah apapun yang berhubungan dengan seminar proposalku di media sosial; kecuali tentunya tulisan ini, yang baru akan kuunggah (mungkin) sehari setelah aku sempro. Jadi, ketika siapa pun kamu yang membaca tulisan ini sekarang, itu berarti kemarin atau beberapa hari yang lalu aku sudah selesai sempro (insyaallah). Dan kita akan sama-sama melihat apakah aku berhasil untuk tidak mengunggah apapun pada hari aku dijadwalkan sempro.

Kalau ada hal yang bisa kulakukan sebagai penanda bahwa aku telah melewati 1/3 dari kelulusan, maka barangkali tulisan ini saja sudah cukup–bahkan mungkin terlalu berlebihan.

Sekarang tanggal 29 April 2021, tulisan ini kusudahi untuk sementara. InsyaAllah akan kulanjut setelah seminar proposalku kelar.


Jika kamu akhirnya sampai pada kalimat ini, selamat, kamu sudah jadi salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa pada akhirnya aku telah berhasil melewati 1/3 dari kelulusan. Sebagai bentuk apresiasi untuk diriku sendiri, pada tulisan ini aku ingin mengenang perjalanan yang penuh lika liku dan tentunya juga luka yang telah kulewati. Entah ada yang berkenan membaca ini atau tidak (kurasa tidak, karena ini mungkin terlalu panjang dan membosankan), bagaimanapun aku ingin menulisnya untuk diriku sendiri di masa depan.


Pengajuan Judul Proposal

Aku akan mulai ceritanya dari pertama kali aku mengajukan judul proposal pada bulan Februari tahun 2020 lalu. Pengajuan judul ini sebenarnya adalah salah satu tugas untuk mata kuliah Metode Penelitian, dan persyaratannya mewajibkan setiap mahasiswa sudah punya judul dan menyelesaikan proposal pada akhir semester 6.

Pada akhir bulan Februari, judulku akhirnya diterima setelah melewati beberapa kali penolakan. Proses pengerjaan proposalku pun berjalan seiring waktu dengan satu tujuan utama: lulus mata kuliah metpen. Sama sekali belum berani untuk membayangkan bahwa aku mengerjakan proposal itu untuk: lulus dari UNM.

Mengingat Pandemi Covid-19 yang terjadi, maka akhirnya kuliah yang baru berjalan sekitar sebulan lebih harus dilakukan dari rumah, tentu kamu juga ingat itu, kan? Karena Pandemi itu pun, akhirnya penetapan SK Pembimbing dilakukan secara daring dan secara otomatis proses bimbingan juga berlangsung daring. Permasalahan pertama yang kutemui di sini adalah dospem pertamaku merupakan dosen yang belum pernah mengajar di kelasku, bahkan aku tidak punya ide apa-apa tentang bagaimana karakternya.

Drama kesalahpahaman antara aku dan dospem pun dimulai ketika aku pertama kali mengabari bahwa beliau adalah dospemku lewat WA. Awalnya obrolan masih normal-normal saja, sampai ketika suatu hari aku mengubah foto profil WA-ku dengan foto selfie. πŸ˜† Apa yang kemudian terjadi? Aku ditegur dong:

Wkwkwk. Ini amat lucu bila kuingat-ingat lagi. Padahal di foto itu aku bahkan cuma selfie dengan mengangkat dua jari tanda peace. Ya menurutku itu masih sopan-sopan aja sih, ya kan? Meski begitu, aku sadar bahwa aku butuh bimbingan beliau untuk kelancaran proposalku, akhirnya aku minta maaf dan mengakui bahwa foto profil peace-ku itu tidak sopan. 🀫 Sejak kejadian itu, aku jadi trauma memasang foto profil yang macem-macem. Jadi, tiap kali aku akan mengirim pesan ke beliau, aku selalu pastikan foto profilku bukan kucing (karena aku selalu menjadikan hewan itu sebagai pilihan foto profil wkwk) atau foto dengan gaya banyak tingkah (meski kalau dipikir-pikir juga, seorang aku bisa sebanyak tingkah apasih kalau lagi foto. Ya, nggak?)

Meski pengalaman bimbinganku dengan beliau bermula dengan kesalahpahaman yang agak gimana banget, tetapi aku bersyukur bisa dibimbing oleh beliau. Mengenai teguran itu, serius aku sama sekali tidak menyimpan dendam atau perasaan marah dan jengkel sampai sekarang. Plot twist-nya ketika aku berkunjung ke rumah beliau untuk pertama kali, beliau begitu ramah dan penuh humor. Meski terbilang sudah berumur, beliau tetap bersedia memberikan arahan sesuai yang dibutuhkan oleh mahasiswa bimbingannya.

Singkat cerita, semester enam selesai dan untunglah aku bisa menyelesaikan proposalku. Benar-benar hanya sekadar selesai khusus untuk mata kuliah metpen saja. Setelah semester enam berakhir, aku sempat beberapa kali konsultasi daring ke dospem pertamaku, tetapi akhirnya harus tertunda oleh kegiatan PKM yang disusul oleh kegiatan KKN. Jadi, kesimpulannya bimbingan proposal itu kutunda selama semester tujuh. Aku benar-benar tidak menyentuh proposalku lagi waktu itu, sok ngide: “Inshaa Allah, awal semester delapan lanjut bimbingan serius.” Dan ternyata tak semudah itu, Kawan.

Nyatanya….

Harus Ganti Judul Setelah Sempat Bimbingan Beberapa Kali

23 Februari ketika aku sudah cukup yakin bakalan dapat ACC dari dospem pertama, aku ke rumah beliau untuk pertama kali dengan was-was tentunya, yang terjadi adalah GANTI JUDUL. GANTI TOPIK.

Panik nggak? Panik nggak? Ya paniklah masa nggak! πŸ˜†

Beliau bilang kalau judulku masih terlalu sederhana bla bla bla dan sebagainya. Meski awalnya aku sempat ingin membela diriku yang malang ini, tetapi pada akhirnya kata yang pertama keluar dari mulutku adalah: “Baik, Prof. Saya setuju.” Dan sore itu, beliau memintaku untuk langsung menyebut topik yang masih mungkin dihubungkan dengan judulku sebelumnya. Aku menyebutkan topik itu dan beliau mengangguk. Oke, katanya. Beliau lalu berkata, ” Kamu boleh pilih mau korelasi atau pengaruh.” dan aku menyepakati yang kedua. Dan akhirnya beliau memintaku untuk merumuskan topik itu menjadi judul.

Sepulang dari rumah beliau, malam harinya aku langsung riset judul-judul yang berkaitan dengan topikku dan akhirnya jadilah beberapa opsi. Dua hari kemudian, melalui pesan WA, judulku diterima oleh beliau. Lima hari, aku mengerjakan draft kasar proposal untuk judul baruku dan selesai. Sepekan setelah aku pertama kali ke rumah dospem pertama, aku konsultasi untuk pertama kali. Dan baru mendapat ACC 23 Maret 2021, tepat sebulan setelah drama ganti judul.

Berjuang Mendapat ACC dari Dospem Kedua

Berbeda dengan kebanyakan dosen, kedua dospemku sama-sama tidak bersedia melakukan bimbingan secara daring. Jadi, untuk konsultasi, aku harus ke rumah mereka. Rumah dospem pertamaku cukup dekat jaraknya (dan cukup bikin krisis moneter karena harus bayar abang abang grab wkwk). Sementara rumah dospem keduaku terbilang cukup jauh. Beruntungnya, untuk dospem keduaku ini, aku tidak berjuang sendiri, aku bersama teman seperjuangan dan seperhaluanku, Park He Ra, my best partner ever🀑, yang setia jadi Mbak Grab, menerjang panas dan banjir menuju Romangpolong. πŸ˜† Tidak hanya itu, drama kecil seperti menunggu berjam-jam, tidak mendapati dospem kedua di rumahnya setelah perjalanan panjang nan melelahkan dan drama-drama lain turut mewarnai perjuangan kami mendapatkan ACC. Syukur-syukur, perjalanan ke sana tidak pernah boring karena selalu ada bahasan seru. πŸ€«πŸ˜†

Ini sudah terlalu panjang, padahal cerita ini bahkan belum 50% dari realita yang sesungguhnya. Jadi, sepertinya setelah ini aku akam lebih banyak menggunakan kata ‘singkat cerita sekali lagi’ hahaha. Aku akan mulai menggunakannya di sini. Singkat cerita, 6 April 2021 akhirnya aku dan Hera sama-sama dapat. ACC. Yeay.✨

Lalu drama apa lagi setelah ini?

Memenuhi Syarat Pendaftaran Seminar Proposal

Dapat ACC kedua pembimbing tentu tidak ujug-ujug besok langsung sempro. OH TIDAK. Tidak semudah itu. Khusus jurusanku, syarat untuk daftar sempro yaitu wajib punya KBBI versi cetak dan kalau bisa versi terbaru, PUEBI, Kamus Linguistik dan TBBI. Beberapa buku itu sebetulnya sudah sejak semester pertama diinformaiskan untuk wajib dimiliki, tetapi khusus Kamus Linguistik, aku baru beli setelah dapat ACC. 🀫🧞 Selain keempat buku wajib itu, syarat paling utama adalah naskah proposal lolos uji turnitin dengan batas toleransi plagiasi adalah 20%.

Setelah semua persyaratan terpenuhi, akhirnya aku dan Hera bisa sama-sama daftar seminar proposal pada Senin, 12 April, tepat sehari sebelum puasa pertama. Meski harapan pulkam sebelum Ramadan tidak terealisasai, kami tetap bersyukur bisa daftar sempro dan pulkam dengan beban yang sedikit berkurang.

Setelah pulkam (karena memang kami tidak berniat sempro di kampus wkwk), drama selanjutnya adalah….

Kapan Jadwal Keluar?

Menunggu jadwal sempro nyatanya bukan pekerjaan enteng. Setiap hari was-was mengecek laman jurusan, harap-harap cemas dapat jadwal kapan dan dapat penguji siapa… . Setelah dua pekan jadwal belum keluar, aku mulai gelisah. Kok belum keluar? Apa operator jurusan lupa? Dan sebagainya dan sebagainya. Singkat cerita sekali lagi, barulah setelah hampir tiga pekan sejak pendaftaran, jadwal sekaligus dosen pengujiku diumukan. Beberapa drama lain sebelum pelaksanaan sempro adalah sakit menjelang seminar ditambah tiba-tiba dospem pertama meminta dikirimkan naskah cetak proposalku, sementara aku di kampung. Panik nggak? Bukan lagi! Keringat dingin! Untung, Harlina bersedia mau kurepotkan. Borahae LinaπŸ’œ Terima kasih sudah mau jadi bagian dari perjuangan mahapenuhlikalikuluka ini. ✨

Aku tidak mau berpanjang-panjang lagi, intinya 4 Mei 2021 akhirnya aku bisa melewati 1/3 dari kelulusan. Tak ada yang mesti diselebrasikan secara berlebihan, itulah mengapa aku menantang diriku sendiri. Bukan karena tidak bersyukur, aku cuma tidak ingin seminar proposal ini bikin aku jemawa dan malah ditenggelamkan euforia, padahal rintangan yang jauh lebih berat masih menghadang di depan sana.

Tidak tahu apa yang akan kita hadapi lagi setelah ini, tapi kita harus siap untuk drama-drama lain yang lebih menantang.

Akhirnya… Hei ini sama sekali belum akhirnya

Btw… thankyou for coming, Kookie. πŸ™ˆ

halu adalah hak segala bangsa.

4 responses to “(Tanpa) Selebrasi”

  1. Drama menuju akhir ha ha ha.
    Selamat sudah sempro.
    Btw, ngakak juga baca cerita tentang PP WA dan prof. Langsung nebak pasti sudah tua dan memang betul. Hanya tidak berani menebak beliau wanita, karena masih jarang prof wanita πŸ˜€

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: