#ProyekCerpen5000Kata | I Finished It

Aku berhasil menyelesaikannya.

Semula aku berpikir 5000 kata adalah jumlah yang terlalu banyak untuk dikerjakan dalam waktu sepekan.

Ternyata tidak. Bahkan 5000 kata yang semula kupikir terlalu banyak itu tak mampu menampung seluruh isi kepalaku.

Namun, setiap cerita harus punya muara. Harus diakhiri.

Dengan berat, aku mengakhiri cerita ini dengan total 5424 kata. Lebih sedikit dari target, dan aku tidak mempermasalahkannya sama sekali. Itu jauh lebih baik.

Ini hanya cerita pendek. Tugas dari kampus. Dan aku bisa sebahagia ini mengakhirinya. Tak terbayang bila kelak (semoga) aku bisa menyelesaikan satu cerita yang membentuk satu novel yang utuh. :’)

Sekian.

Kucca.

#ProyekCerpen5000Kata | 1000 Kata Kedua

Yeah, aku menulis ini setelah mendapatkan 1000 kataku berikutnya, kemarin.

Kali ini bukan kutulis kala malam hari. Melainkan sore hari dan kulanjutkan setelah magrib.

Terbukti, inspirasi itu bukan dicari. Ia akan datang sendiri ketika kita sudah memulai kata pertama. Selagi kita ingin melanjutkannya, inspirasi itu akan datang dengan sendirinya.

Ia muncul–entah dari balik keyboard atau di balik huruf-huruf yang telah tersaji sebelumnya. Prosesnya tak serumit yang kita bayangkan. Ini mudah–jauh lebih muda. Terlebih ketika sejak awal pondasi–plot dan premis–yang dibangun sudah kokoh, maka berikutnya insya Allah tidak akan ada kesulitan berarti.

Oke, mungkin terkadang rasa badmood muncul. Itu yang kerap kali terjadi padaku. Sebetulnya bisa saja aku menulis kala badmood, tetapi aku meragukan hasil akhirnya. Cerita yang baik akan terwujud manakala suasana hati ketika menyusunnya juga baik. Itu yang kupercaya. Mungkin aku salah–entahlah, tetapi rasanya sejauh in, hal itu bekerja baik.

Ah, barangkali cara kita yang berbeda-beda.

Namun, satu yang mesti kita percaya. Menulis tak boleh membuat kita merasa tertekan. Itu adalah proses menyenangkan, dan kita harus menikmatinya. Bisa jadi kita menulis berlembar-lembar, berpuluh-puluh kata, tetapi bila kita tak menikmati prosesnya, akankah hasilnya–meski baik–memuaskan (paling tidak bagi diri sendiri)?

Well, 2000 kata ini telah selesai kemarin sore. Sementara malam harinya aku tidak menulis. Dan hari ini aku mengupayakan menyelesaikan seribu kata berikutnya–atau lebih. Entahlah, mari kita lihat hasilnya nanti. Semoga segalanya berjalan mulus.

Pelan-pelan, jangan terburu-buru. Ceritamu butuh jeda sehingga ia punya nyawa. Bisa dinikmati, bukan hanya oleh kita sendiri sebagai penulis. Melainkan juga dinikmati orang banyak.

Have a good day!

Kucca

#ProyekCerpen5000Kata | 1000 Kata Pertama

Sebenarnya… sebenarnya aku sudah kepikiran untuk membuat jurnal rutinitasku dalam menulis cerpen (yang sebetulnya adalah tugas kampus) ini sejak beberapa hari lalu, tetapi ternyata aku baru mood menuliskannya hari ini.

O, ya. Mungkin kalian udah tahu, kalau aku terinspirasi dari jurnal yang ditulis Dee Lestari ketika menyusun ulang novel Perahu Kertas–tahun 2007 lalu.

Yap. Baru-baru ini aku baca ulang buku itu, dan setelah selesai membaca aku tergerak membaca blognya Dee. Dan, ya, aku terinspirasi. Sangat terinspirasi.

Tak lama kemudian, datanglah tugas kampus yang bejibun. Salah satunya tugas menulis cerpen sejumlah 5000 kata atau lebih dalam waktu sepekan. SEPEKAN. Kebayang nggak tuh. Mengingat bukan cuma tugas itu yang harus dikerjakan. 🙃

(Sebetulnya ada tugas yang sepaket dengan itu; menulis naskah drama dua babak. Namun, mari kita fokus ke cerpen dulu).

Ya, jadi tugasnya itu diberitahu entah hari jumat atau kamis yang lalu dan akan dikumpulkan sepekan setelahnya.

DAN.. aku baru mulai menulis kemarin banget. Kemarin, setelah h+3 tugasnya disampaikan. Betapa malasnya diriku. Namun, demikianlah caraku. Aku baru akan menulis kalau mood baikku terkumpul total. Sebetulnya aku sudah menulis 500 kata pertamaku dua hari yang lalu–but, aku tidak srek dengan apa yang kuhasilkan. Jadi, sambil menunggu inspirasi muncul secara tiba-tiba, goleranlah aku di kasur sambil mendengar lagu-lagu zaman dulu. Dan ternyata caraku berhasil.

Malam harinya (kemarin malam, tepatnya) aku berhasil menyelesaikan 1000 kata pertama (tanpa mengambil 500 kata yang sudah kubuat sebelumnya). Nasib 500 kata yang sebelumnya kubiarkan teronggok saja di laptop. Kubiarkan. Aku mugkin tidak akan membukanya sebelum proyek ini selesai. Alasannya? Karena aku tidak ingin ‘menganggu’ plot cerita baru yang telah kususun ini.

Btw, seribu kata pertamaku kudapat selama 30 menit–atau lebih sebelum tidur. Dan aku mulai memahami diriku, munculnya inspirasiku adalah pada jam-jam itu. Jam-jam ngantuk yang benar-benar membuatku HARUS memilih apakah inspirasi itu perlu kutangkap atau memilih melanjutkan tidur saja.

Dan pilihanku jatuh pada pilihan pertama. Well, aku berhasil. Seribu kata pertama kudapatkan. Aku cukup puas dengan plot yang kuhasilkan (jarang-jaranh, lho, aku mengakui kepuasanku pada apa yang kukerjakan).

Dan aku bisa tidur nyenyak tanpa diganggu oleh inspirasi yang terus melayang karena tak kutangkap.

Jadi, begitulah aku mendapatkan 1000 kata pertamaku.

Mari membaca kelanjutan ceritaku mendapatkan 1000 kataku yang kedua. Semangat!

Kucca

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started