Privilese; Mengobrol Bersama Le Petit Prince

Beberapa malam lalu, ketika menatap langit yang sedang ramai, aku teralihkan oleh satu bintang paling terang. Posisinya tepat di sebelah bulan yang sedang tersenyum.

Konon, bintang paling terang itu bernama Sirius. Mungkin yang kulihat adalah Sirius, mungkin saja, tapi aku jauh lebih yakin kalau itu adalah Asteroid B-612.

Tempat tinggal seseorang yang sangat berarti buatku–dan banyak orang yang mengenalnya. Pangeran Kecil. Le Petit Prince.

Dari jendela kamarku, aku menyapanya. Bila dia menjawab sapaanku, itu berarti benar bahwa dia sedang di atas sana memperhatikan Bumi.

Lama sekali aku menunggu, tetapi tak ada jawaban. Kupikir, barangkali memang bukan.

“Hai.” Suara lembut itu tiba-tiba terdengar. Benar, itu Asteroid B-612! Dan di sana, aku yakin Pangeran Kecil duduk bersama mawarnya menyaksikan bulan sabit–atau justru matahari tenggelam?

Aku begitu antusias kala mendengarnya. “Bagaimana kabarmu? Kau tahu, Sang Pilot merindukanmu. Ah, aku menyampaikan pesan terakhir di bukunya. Sekarang mungkin dia juga sudah bersamamu di atas sana.”

“Aku baik. Mawarku juga baik. Sang Pilot tidak di sini. Tapi aku tahu, dia merindukanku. Karena aku juga.” Katanya.

“Semua yang pernah mengenalmu, akan merindukanmu.”

“Terima kasih.”

“Apa planetmu baik-baik saja?” Tanyaku.

“Pohon Baobab masih sering tumbuh. Kadang mawarku bersedih karena ia tak bisa bebas menyaksikan matahari tenggelam dengan sempurna, tapi dombaku masih setia membantuku untuk membasminya.”

“Oh domba-dombamu masih di sana?”

“Ya. Tapi aku kewalahan. Domba-domba itu terus berkembang biak. Planetku penuh. Dan aku tidak tahu harus menyimpan mereka di mana lagi. Bolehkah aku mengembalikan sebagian dari mereka ke Bumi? Apa saat ini Bumi baik-baik saja?”

Aku menghela napas, “Bumiku sedang tidak baik. Sesuatu terjadi dan sulit kujelaskan padamu. Aku berharap kamu datang ke sini–tapi jangan sekarang.”

“Mengapa? Apa yang terjadi?”

“Tidak akan baik untukmu. Bila kau kemari, sesuatu yang tak terlihat boleh jadi kau bawa pulang ke planetmu. Dan itu tak baik buatmu. Juga buat mawarmu. Dan planetmu.”

“Apa itu?”

“Kami menyebutnya Covid-19. Sesuatu yang belum terbayangkan ketika terakhir kali kamu ke sini.”

“Apa dia lebih berbahaya dari Pohon Baobab?”

Aku diam sejenak, “Keduanya berbeda, tetapi sama berbahayanya. Pohon Baobab bila tak dibasmi oleh domba-dombamu, akan merusak planetmu. Covid-19 bila tak dibasmi dengan segera, juga akan berbahaya bagi Bumi–dan isinya.”

“Apa tidak ada ‘domba’ yang bisa mengatasi makhluk itu?” Pangeran Kecil bertanya.

“Belum. Semoga secepatnya.”

“Aku akan mendoakan Bumi kalian.”

“Terima kasih.”

Asteroid B-612 berkedip-kedip. “Selamat tidur. Semoga, esok Bumi segera pulih seperti saat aku berkunjung ke sana.”

“Semoga. Dan selamat tidur, Pangeran Kecil.”

.

.

.

🌏 April 2020

2 thoughts on “Privilese; Mengobrol Bersama Le Petit Prince

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s