Cermin (Cerita Mini): Eps. Dirham & Liza

Mimpi buruk!

Seandainya sesuai rencana–dan seandainya Liza tidak perlu kehilangan koper dan seluruh barang bawaannya dan (sekali lagi!) seandainya semalam Liza tidak bertemu dengan cowok super perfeksionis itu di Bandara–dia pastikan kini sudah duduk manis di rumah Bulik Maryam di Samarinda dan berkumpul dengan ponakan-ponakannya yang seharusnya unyu.

Liza menghela napas pelan dan mengembuskannya agak kasar. Dia tentu masih ingat persis kejadian yang mempertemukannya pertama kali dengan makhluk ajaib bernama Dirham. Si Perfeksionis, yang dulunya adalah teman setimnya sewaktu mengikuti OSN, dan karena keperfesionisan pemuda itulah yang membuat tim mereka terpaksa harus pulang di babak penyisihan.

Ergh! Dan sekarang dia terpaksa terjebak bersama Si Perfeksionis itu di rumah ini! Rumah yang bahkan Liza sendiri tidak tahu apakah bisa ditemukan di google maps atau tidak. Padahal dia sudah menyusun rencana untuk kabur–ehm, memang terdengar seperti baru saja Dirham membuat tindak kriminal sih, padahal yang sebetulnya terjadi justru pemuda itu telah menyelamatkannya dari takdir yang lebih buruk (kesasar, misalnya). Tapi, maksud Liza ingin kabur adalah dia ingin kabur dari segala kekikukan ini!

Entah kenapa Liza merasa bahwa ia tidak suka fakta bahwa dirinya telah diselamatkan oleh orang yang pernah begitu ia benci. Bagaimana ia harus bersikap pada Dirham?

Berterima kasih? Berlaku manis? Serius?! Setelah semua kebencian yang delapan tahun lalu menyelimuti mereka?! GENGSI!

Liza tengah berdebat dengan pikirannya sendiri ketika tahu-tahu suara ketukan terdengar dari luar.

Sepagi ini?!

Seiring Liza membuka pintu kamar tamu, aroma harum tercium dan segera memenuhi rongga penghidunya lantas berakhir di perutnya yang langsung keroncongan. Bukannya teralihkan oleh aroma pappermint yang khas milik Dirham–yang omong-omong masih sama dengan aroma parfum pemuda itu ketika SMA–Liza malah lebih tertarik dengan aroma masakan di dapur.

“Kamu yang masak?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Liza tanpa memikirkan bahwa–HEI! itu masakan musuh kamu!

Ujung bibir Dirham terangkat naik, hingga lesung pipit di pipi pemuda yang berdiri menjulang tinggi di hadapan Liza itu kelihatan jelas.

Duh, harus banget pakai acara pamer lesung pipit segala?! Liza membantin lantas segera menuju ke meja makan demi menghilangkan kegugupannya yang barusan. Hei! Sejak kapan ia segugup ini?!

“Urusan perut memang selalu nomer satu, ya, Za?” cibir Dirham sambil turut duduk di bangku seberang Liza. Kening Liza otomatis tertaut mendengar itu. “Sampai-sampai nanyain kabar saja lupa.”

Liza ingat semalam ia terlalu kelelahan untuk sekadar menanyakan kabar Dirham. Setelah ia menimbang apakah menerima tawaran bantuan dari pemuda itu atau tetap di Bandara dengan kemungkinan hilang atau diculik, akhirnya ia hanya mengangguk samar dan mengikut pada Dirham. Paling tidak mereka dulu adalah musuh–daripada terus di sana tanpa orang yang dikenalnya, kan?

“Kamu mau aku nanya kabar kamu?” ucap Liza setelah meneguk air putih di depannya. Uap nasi goreng di depannya menguar, dan Liza sudah tidak tahan untuk segera menyantapnya.

Dirham yang juga mulai menyantap nasi gorengnya mengangkat bahu, “Kabar saya baik. Dan saya rasa kamu juga.”

Sambil memilah-milah sawi dari nasi goreng yang disantapnya, Liza berkata, “Selain perfeksionis, kamu juga jadi sekaku ini?”

“Mm?” Dirham bertanya balik, tapi Liza segera menggeleng. Dia merasa sudah terlalu sarkastis setelah semua bantuan dari Dirham.

Dirham tersenyum samar, “Sayur itu sehat lho, Za.”

Tangan Liza yang tengah memilah sawi langsung tertahan. Dia menatap Dirham yang sedari tadi ternyata memperhatikan tindakan kecil yang dilakukannya itu.

“Makasih infonya. Tapi kamu orang keseribu satu yang bilang begitu.”

Yaampun! Liza benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak sarkastis. Bisa-bisa Dirham mengecapnya sebagai gadis tak tahu diri. Sudah di tolong malah ngelunjak.

Duh.

Setelah menandaskan nasi gorengnya, Dirham beranjak melewati pintu belakang. Liza yang kepo turut mengekor. Jangan-jangan pemuda itu marah gara-gara kelakuannya barusan. Bisa berabe!

Sesampainya di bingkai pintu belakang, Liza mendapati Dirham yang tengah memasang net. Liza tidak yakin, tetapi bila boleh ia tebak, itu net bulutangkis, kan?

Mau ngapain lagi sih?

“Sore nanti saya antar ke rumah Bulik Maryam, sekarang kita main dulu, mau?”

Idih. Kayak ngajak main anak SD aja! Tapi… tunggu.

“Kamu kenal Bulik Maryam? Kok kamu tahu aku mau ke rumah Bulik?”

Dirham tersenyum, kali ini jauh lebih lebar, “Ayo main dulu!”

“Nggak. Aku nggak suka keringetan.”

“Bilang saja enggak suka olahraga, Za. Saya kadang bingung, kenapa ada orang yang enggak doyan sayur dan enggak suka olahraga. Padahal keduanya baik untuk kesehatan.”

Liza terpaksa menghampiri Dirham dan meraih raket yang ditawarkan pemuda itu. Bukan karena perkataan Dirham barusan, lebih karena ia penasaran bagaimana musuhnya ini bisa kenal Buliknya?

“Ya sudah!” kata Liza sambil mengambil posisi di lapangan yang sudah dipasangkan net oleh Dirham, “Jadi kok kamu bisa tahu aku mau ke Bulik?!”

Sambil melakukan service, Dirham menjawab, “Bulik Maryam teman saya.”

“TE-MAN?” Tanya Liza sembari berusaha menangkis shuttlecock yang melambung tinggi di atasnya.

“Ya.” Jawab Dirham, “Kami di PB (Persatuan Bulutangkis) yang sama. Beliau teman sekaligus pelatih.”

Ah. Liza ingat, Buliknya memang mantan atlet Bulutangkis dan punya PB meski untuk skala daerah saja.

“Jangan-jangan seluruh rangkaian kejadian ini ada hubungannya sama ‘pertemanan’ kamu dengan Bulik, ya?!”

Dirham tertawa, “Sepertinya. Bulik menyuruhku menjemputmu di Bandara.”

Liza berhenti berusaha meraih shuttlecock dari Dirham dan membiarkannya tergeletak begitu saja di lapangan. “Termasuk pencopetan itu?!”

“Itu pengecualian, tentu saja.”

“Lantas kalau sudah tahu aku mau ke rumah Bulik, ngapain kamu bawa aku ke sini?!” Intonasi suara Liza meninggi.

“Jangan salah paham. Bulik sampai pagi ini masih di luar kota. Ada urusan mendadak. O, ya, beliau juga minta supaya saya mengenal kamu lebih dekat, mengenal kebiasaanmu dan apa yang kamu suka dan tidak kamu suka.”

“Untuk?”

Dirham tidak menjawab.

“Oh, semua ini bagian rencana sepihak yang enggak aku tahu?!”

“Kalau kamu tahu, memangnya kamu mau ke sini sementara selama ini kamu masih terus menganggap saya sebagai musuh.”

Liza terdiam.

“Saya enggak mau jadi musuh kamu terus-terusan, Za.” Ucap Dirham lantas duduk di sebelah Liza.

“Delapan tahun, Za. Saya berusaha nyari kamu tepat setelah hari kelulusan, cuma untuk minta maaf persoalan lomba waktu itu. Saya tidak ingin kamu menganggapku musuh saat di sisi lain…” Ucapan dirham tertahan. Pemuda itu meneguk ludahnya sendiri, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan sesuatu, “… Saya begitu menyayangimu.”

Liza menoleh dan menatap Dirham lurus-lurus.

“SHMILY, Za.”

“…”

END

*SHMILY: See How Much I Love You (Diambil dari Film Terkenal ‘Merry Riana’)

**Cerita ini terinsiparasi dari salah satu member HI-FIVE yang punya kronik cinta yang rumit. ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜น

***Kesamaan nama, tempat, dan kejadian hanya kebetulan belaka.

****Setelah baca, kalian wajib memberi tanggapn, kritik dan saran di kolom komentar, wkwk. *justkidding ๐ŸŒป


Salam sayang,

KUCCA๐ŸŒป

17 thoughts on “Cermin (Cerita Mini): Eps. Dirham & Liza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s