Si Cerdas

Beberapa waktu lalu, saat awal-awal liburan, aku sengaja membawa pulang beberapa buku-bukuku. Niatnya mau dibaca sebagai pengisi masa-masa libur ini.

Salah satu yang kubawa pulang adalah komik anak berjudul Si Kepo Alif. Ponakanku, Alvin, langsung semangat menyambutnya. Umurnya baru 9. Hari itu juga ia membacanya dengan serius. Baru berhenti di pertengahan halaman. Katanya biar dilanjutkan besoknya.

Kutanya, “Bagus ceritanya?”

Padahal, sebetulnya aku sudah baca komik itu sebelumnya. Aku bertanya hanya untuk mengetesnya saja. ๐Ÿ˜ธ

Dia jawab bagus. Keesokannya dia datang lagi ke rumah, dan sekali baca saja, buku itu tuntas sudah. Padahal, halamannya hampir 200.

Ketika itu, aku mengapresiasi kemampuan membacanya. Lantas bertanya, “Gimana? Seru, kan?”

“Seru. Tapi, kok saya tidak temukan Alif yang kepo, ya?” katanya polos sambil menyerahkan buku itu padaku.

Aku langsung tersenyum. Dalam hati aku berkomentar kritis banget ini anak. Benar apa yang ia pertanyakan. Aku pun tidak menemukan sisi kepo si Alif dalam buku itu. Yang ada malah ‘kenakalan, keluguan serta Alif yang sering dimarahi’. Hmm…

Sehabis membicarakan tokoh Alif, kami langsung berbincang hal lain, yang tentunya tidak jauh-jauh dari buku. Aku sengaja memancingnya bercerita tentang hobi dan cita-citanya.

Dia juga bercerita kalau dia sering ke perpustakaan di sekolahnya. Dan mengejutkannya, dia mengaku pernah melihat komik yang serupa dengan komik yang barusan dia baca.

Alvin menjelaskan kalau buku yang dibacanya di perpustakaan itu sampulnya mirip dengan yang tadi dia baca, hanya saja ada beberapa perbedaan dari letak orangnya. Dia sampai menjelaskan detail-detailnya. Hm, kupikir dia membaca seri buku Si Kepo Alif ini. Seharusnya aku mencari tahu apakah komik ini berseri atau tidak. Tapi, selalu kelupaan. ๐Ÿ˜ธ

Terlepas dari itu, aku senang dia gemar ke perpustakaan. ๐Ÿ˜ธ

Setelah itu, aku iseng bertanya cita-citanya. Ia menjawab beberapa, termasuk polisi lalu-lintas! ๐Ÿ˜ธ

“Kamu tidak mau jadi penulis komik seperti ini?” aku menunjuk komik yang baru dibacanya.

“Ya, mau. Tapi, aku tidak jago menggambar.”

“Tidak masalah. Kamu masih bisa belajar. Katanya kamu punya cerita komik?”

Ya, aku ingat dia pernah cerita kalau dia juga punya komik yang dia buat sendiri di buku sekolahnya. Lantas aku memancingnya untuk bercerita apa isi komik yang ia buat. Dan berceritalah ia tentang komik ‘Pahlawan Super’-nya.

“…tapi komiknya sudah tidak ada. Dibuang nenekku.” katanya.

Dia memasang wajah sedih. Aku menghiburnya, “Tidak apa-apa. Kamu masih bisa membuatnya lagi.”

“Saya tidak punya kertas. Kalau pakai buku sekolah, nanti dimarahi mamaku.”

Aku tertawa, “Jangan khawatir. Aku punya buku bekas.”

“Ya sudah. Ayo kita buat.”

Namun, rencana itu harus tertunda karena demam yang melandaku beberapa waktu lalu itu. Dan secara kebetulan dia juga demam.

Hari ini, aku mengingatkan tentang komik itu lagi. Dan dia masih mengeluhkan persoalan kertas. Akhirnya aku segera mengajaknya ke rumah dan memberinya kertas kosong, yang kulipat membentuk minibook.

“Kapan aku bisa baca komikmu?”

“Selasa.”

“Lamanya.”

“Okedeh, senin.”

“Pastikan kalau itu ceritamu sendiri, ya?”

Dia tersenyum malu-malu, “Tapi saya malu.”

“Untuk apa malu? Pokoknya kutunggu, ya!” kataku. Sehabis itu, dia membawa minibook yang kubuatkan tadi ke rumahnya.

Hmm~

Aku senang punya ponakan cerdas seperti Alvin. Dia selalu tertarik pada hal-hal baru yang kuberitahukan padanya. Termasuk persoalan buku dan komik ini.

Dan, mari kita tunggu komik yang dibuatnya. Sudah tidak sabar nih! ๐ŸŒป๐Ÿ˜ธ

.

.

.

Januari 2020

3 thoughts on “Si Cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s