#Throwback 1 Dekade

Satu dekade, 2009-2019.

Merangkum perjalanan sepuluh tahun dalam sebuah postingan. How can?

Hanya beberapa. Sebagian tak diungkap karena memang tidak terlalu penting dan sebagian besarnya lagi tak diceritakan karena terlalu privasi.

“Lantas, kami kebagian potongan cerita yang mana dong?!” Ujar kucing tetangga.

“Kalian kebagian yang tidak amat penting tapi perlu diceritakan untuk dikenang.” Jawab Encur, kucingku.

*abaikan saja percakapan dua sejoli di atas.

Kurasa aku pernah berbagi kisah soal awal mula aku jadi seorang maniak idola cilik fangirl anak-anak ICIL. Tahun 2009 adalah masa-masa kejayaan acara anak-anak itu. Usiaku saat itu baru sebelas. Masih terlalu belia untuk mengerti rasa suka dan cinta. Tapi, saat itu di binderku, di bagian belakang bukuku, di kamusku, di dinding kamarku, semuanya berisi kecintaanku pada acara musik itu dan tentunya mereka yang punya suara merdu dan bonus wajah tampan.

Sebut saja Rio dari Manado, Ozy dari Makassar, Ray dari Bekasi dan lain-lain. Mungkin ada yang heran, mengapa sampai nama kota kelahiran mereka saja aku bisa hafal sampai sekarang. Jadi, aku memang sefanatik itu gais. Ini agak malu-maluin, tapi perlu kuakui bahwa bahkan tanggal lahir mereka saja aku tahu.

Bahkan sampai sekarang ini, aku masih berharap mereka ngadain acara reuni. Hitung-hitung mengenang masa kecil, kan?

Bahas ICIL enggak bakalan ada usainya. Kita beralih ke tahun-tahun setelahnya. Tahun ketika aku mulai berkenalan dengan media sosial.

Ini terjadi kala aku kelas tujuh. Media sosial itu tentu sudah teman-teman tahu. Si F yang Biru. Facebook. Si F yang masih eksis hingga kini.

Akun Facebook pertamaku–yang omong-omong masih kupakai hingga kini–adalah akun yang dibuat oleh teman SMP-ku. Mulai dari musim tulisan alay (untungnya bukan gabungin huruf dengan angka, wkwk) sampai musim kata-kata bijak, semua terangkum di sana. 😹

Setelah media sosial F itu, beralihlah aku ke si burung biru muda yang senang berkicau. Twitter. Di sana segala macam bentuk perasaan tertuang. Dan masih terekam hingga sekarang. Aku kadang bersyukur pernah sebegitu aktifnya di media sosial itu. Dari sana aku tinggal mengetik ‘kata kunci’ lantas menemukan twit-twit lamaku, yang kadang-kadang bikin aku yang sekarang, mengerutkan kening, ketawa, bahkan memaki diri sendiri saking ‘enggak warasnya’ isi twit itu.

Beralih ke musimnya novel. Semenjak yang kuceritaka di sini, aku semakin gencar mencari novel. Dari yang ‘pdf gratisan’ alias ‘ebook bajakan‘ hingga buku hasil pinjam dari teman. Masih benar-benar polos persoalan novel, asal bisa baca, ceritanya ngalir, dan bikin termotivasi buat menulis juga.

Sampai pada akhirnya kesadaran akan bukupun muncul. Tak perlu lagi kujelaskan, kalian tentu paham maksudku.

Lanjut.

Musimnya drakor juga sempat mengalihkan perhatianku. Semenjak SMA, hobiku mengumpulkan drakor-drakor itu, kutonton sampai larut, dan esoknya ngborol heboh barenga teman. 🙂 Namun, ternyata yang pernah bikin candu juga bisa bikin enek. Lebih dari setahun lalu, aku tidak pernah lagi mengoleksi drakor atau menontonnya. Kalau di TV mungkin masih kutonton, sih.

Sebenarnya masih banyak yang perlu kucerita, mungkin di postingan berikufjya. Tunggu yaaaa 😹

.

.

.

:))

Januari 2020