Tentang Pink

Tulisan ini… terlahir di tengah-tengah seabrek deadline yang mesti dikejar. Beranjak barang sejenak dari hiruk-pikuk, dan memberi ruang bagi diri untuk–yaa, paling tidak–menerbitkan senyum, meski tipis.

Sebelum beralih untuk menuliskan ini, aku iseng-iseng mengecek Facebook. Media sosial satu ini–meski banyak yang mengatakannya sebagai tempat berkumpulnya orang-orang alay atau para pemula di dunia maya–nyatanya ia punya kekhasannya tersendiri sebagai tempat menemukan sahabat yang sudah lama tak saling bersua.

Singkat cerita, lewat beranda Facebook-ku aku melihat sahabat lamaku, Pink namanya. Benar, itu hanya nama samaran. Aku tak akan membeberkan lebih jauh identitasnya karena… ya tulisan ini akan sedikit berhubungan dengan seseorang yang juga tak akan kusebut nama aslinya. Bila kau ingat, dia adalah Biru.

Pink, adalah sahabatku zaman TK/TPA dulu. Duh, zaman baheula, euy! Kami berteman baik karena tantenya yang menikah dengan sepupuku. Aku dan Pink beda tingkatan kelas dan beda sekolahan. Pink satu tahun di atasku. Tapi yaaa, zaman bocah, kayaknya kami tidak terlalu mementingkan kami kelas berapa, asal sudah cocok ya hayuk main. Pertemanan masa kecil itu memang sesederhana itu.

Karena berbeda sekolah, aku dan Pink biasa bertukar surat untuk menceritakan pengalaman kami di sekolah. Ah, bukan surat lewat pos kok. Kalau suratnya tidak dikirim lewat teman TK/TPA, paling langsung dikasih ke orangnya, wkwk. Tapi, tetap saja, suratnya harus dibaca di rumah masing-masing.

Agak menyesal sih, kenapa suratnya tidak kujaga baik-baik. Padahal itu salah satu kenangan yang cukup istimewa buatku. Pink selalu memberiku surat yang panjang, ditulis rapi di kertas folio bergaris, dan aku senang membacanya. Aku sendiri, selalu menulis surat di kertas binder yang bergambar princess, tapi tulisanku masih jauh lebih pendek dari yang Pink tulis untukku.

Selepas TK/TPA, kami sudah semakin jarang bertemu dan tak ada lagi surat-suratan. Selain karena memang beda sekolah, rumahnya juga cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Setelah itu, kami hanya bertemu sesekali di rumah sepupuku, itu pun dalam keadaan canggung, padahal dulunya lengket sekali. Aku bisa menebak alasannya sih. Mungkin karena saat itu dia sudah SMP dan aku masih di bangku SD, jadi semacam ada jarak di antara kami.

Sampai saat ini, kecanggungan itu nyatanya masih ada. Rentang waktu yang tak mempertemukan kami, nyatanya juga mencipta jarak untuk persahabatan masa kecil kami.

Boleh tidak, sebentar saja, kembali ke masa-masa itu?

Hm, omong-omong, Biru kapan muncul, nih, Kucca?

Ah, iya. Satu fakta yang tidak penting sih, tapi mungkin perlu kutuliskan di sini. Biru yang kaukenal lewat tulisanku adalah sepupunya Pink. Ibu mereka saudara kandung.

Sudah itu saja. 🙂

.

.

.

Gambar: Pinterest

Desember 2019

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s