Biru, Sekali Lagi

Tiga tahun lebih beberapa bulan bukanlah waktu yang singkat untuk merangkaki titian waktu bersama perasaan yang diam-diam tertanam dalam bingkai merah jambu dalam dada. Perasaan yang dititipkan pada seseorang yang bahkan tahu kalau dia punya pengagum saja tidak. Atau lebih parahnya lagi, seseorang yang bahkan tak pernah tahu bahwa ‘diri ini’ ada di bumi.

🌻🌻🌻

Namanya Biru. Mahasiswa Sejarah tingkat akhir. Tak ada yang istimewa, kecuali bahwa dia adalah seorang penulis dan (tentunya) punya minat besar pada buku-buku.

Hampir setengah tahun lalu, kuputuskan untuk berhenti. Berhenti mengaguminya, berhenti memantau akunnya diam-diam, dan berhenti untuk melakukan hal konyol lainnya. Kataku waktu itu, “Aku tidak ingin terjebak pada harapan-harapan yang kuciptakan sendiri.”

Benar. Seperti itulah adanya. Bulan-bulan setelahnya, pelan-pelan segalanya kembali terasa normal. Terasa baik-baik saja.

Lalu suatu hari, aku tergerak untuk mengintip akunnya. Kembali lagi memantaunya dengan perasaan yang jauh lebih enteng. Mm, mungkin hanya seperti seseorang yang sedang mengintip akun orang-orang yang tanpa sengaja lewat di beranda.

Dari sana aku mendapat informasi, “Ah, sedang sibuk skripsian rupanya.”

Hari-hari setelahnya, aku lebih intens mengunjungi akunnya, tetapi hampir sebulan lamanya, berandanya kosong. Benar-benar sibuk sepertinya.

Bulan-bulan berikutnya, tepatnya beberapa menit yang lalu, kudatangi lagi akunnya. Hanya penasaran saja, sudah sejauh mana sih perkembangan skripsinya?

Ah, padahal kalau dipikir-pikir untuk apa juga aku memikirkannya? Siapalah aku ini.

Bibirku tertarik samar kala melihat dia memposting beberapa kicauan. Lumayan banyak sebenarnya, itu membuatku menggulir layar ke atas demi membaca ocehannya.

“Oh, skripsinya sudah kelar.” kataku, dalam hati. Lalu diam-diam mengucapkannya selamat.

Di beberapa kicauan, dia menuliskan pertemuannya dengan beberapa teman lama. Mereka banyak mengobrol persoalan kehidupan sehari-hari, kesibukan masing-masing, mimpi, dan… teman hidup.

Ah, obrolan yang satu itu membuatku lebih mempertajam mata menatap huruf-huruf yang tersaji di layar.

Di sana ia menulis sesuatu. Katanya, “Suara gadis di belakangku benar-benar membuatku tak tahan untuk tidak menoleh. Mata kami bersitatap, dan dia tersenyum simpul padaku.”

“Ah, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama, tetapi ketika berjumpa dengannya, rasanya kekuatan matanya mampu merontokkan prinsipku soal cinta pada pandangan pertama adalah omongan kosong. Buktinya, sekarang ini terjadi.”

Tanpa berkomentar apa-apa, aku terus membaca. Menggulir layar, membaca satu kicauan demi kicauan yang dibuatnya menjadi utas.

“Aku memberanikan diri menyapanya, menawarkan kopi, dan dia menerimanya dengan senang hati. Ah, senyum manisnya bahkan mengubah kopi yang pahit menjadi manis.”

“Aku tidak tahu kapan, tetapi obrolan malam itu mengalir begitu saja diselingi canda tawa kami. Lalu janji berjumpa di tempat yang sama di lain waktu pun terucap.” tulisnya lagi.

Aku terdiam. Menghentikan tanganku untuk tidak menggulir layar ponsel, sejenak.

Ia melanjutkan, “Aku menemukannya. Teman hidup yang selalu jadi bahan obrolan dengan beberapa teman, aku sudah menemukannya.”

Ah, selamat sekali lagi kalau begitu.

Klise sekali dan terkesan terpaksa, tetapi sungguh aku sudah siap untuk fakta yang satu itu. Bagiku, menggantungkan harapan pada manusia sama saja membuat jebakan untuk diri sendiri. Untuk itulah, setengah tahun lalu aku mengusaikannya. Atau lebih tepatnya berusaha mengusaikannya, pelan-pelan.

Dan syukurlah… dia menemukan apa yang dia nantikan selama ini. Dia menemukan teman hidupnya.

Namun, setelah keikhlasan itu, kicauan berikutnya cukup mengejutkanku.

Ia melanjutkan, “Ah, Kawan. Ini hanyalah kisah fiktif. Sebagian kecil adalah kenyataan yang dibumbuhi kisah-kisah pemanis. Sudah lama sekali rupanya aku tak menulis roman seperti ini. Rindu juga.”

Aku terdiam, membacanya sekali lagi. Lalu mengucap sesuatu dalam hati, “Semoga segera kau benar-benar menemukan teman hidupmu.”

Dia menutup dengan kalimat, “Persoalan jodoh, biarlah takdir Tuhan berjalan sesuai rencana-Nya.”

Aku mengamini.

🌻🌻🌻

Layar ponselku berkedip, menampilkan indikator daya. Ah, 8%. Aku menutup ponsel lantas mengisi dayanya, kemudian terpikir untuk menulis kisahnya di sini, yang tentu saja jauh lebih fiktif. 😸

.

.

.

November, 2019