Judul Jadul

Pukul 09.55

Sepagian itu perutku mulas sekali. Tiap kali melihat jam di layar ponselku, rasa mulasnya bertambah jadi dua kali lipat! Lebih-lebih ketika menengok ke kanan dan kiriku, teman-teman serempak memasang wajah santai bahkan ada yang menunjukkan wajah yang antusias sekali. Yaampun, kontras sekali dengan wajah kusutku!

Masing-masing di tangan mereka ada kertas yang benar-benar penting dan akan dikumpulkan tepat ketika jam menunjukkan pukul 10.00–atau ketika dosen yang terkenal disiplin itu datang. Pak Rustan, jika kau ingin tahu namanya.

Kertasku sendiri sudah dari tadi kuremas-remas. Kenapa juga sih aku harus segugup ini?! Semalam, aku sudah yakin dengan tiga judul yang kusiapkan, lengkap dengan rumusan masalahnya. Aku juga mengerjakannya sepenuh hati, mencari referensi dari jurnal-jurnal di internet. Lalu, mengapa aku tetap cemas? Ah, perasaan cemas memang terkadang sulit untuk dikendalikan.

Sepekan terakhir ini… ah, tidak-tidak, maksudku sebulan terakhir ini… astaga bukan-bukan, maksudku bahkan sebelum semester kali ini dimulai aku sudah siap siaga pada pertanyaan, “Judul skripsimu mana?”

Jadi, karena itu aku menyiapkannya jauh-jauh hari sebelum ditanya. Aku giat mencari judul-judul yang menurutku keren kemudian kuracik sedemikian rupa, kutambahkan sebagian bumbu-bumbu dari judul lain yang ada, dan meramunya jadi judulku sendiri. Dan yaaaa! Hari ini judul itu sudah benar-benar ditagih. Sesuatu yang sudah kupersiapkan dengan matang–menurut versiku.

Ting.

Pukul 10.00

Pak Rustan masuk dengan kemeja birunya. Dengan memasang ekspresi yang sulit sekali ditebak, hal tersebut kontan membuat seisi kelas yang mulanya riuh-rendah menjadi lebih kalem. Sementara itu di duniaku sendiri, di dalam sana seolah isi perutku semakin gencar menonjok-nonjok. Jantungku berdegup. Aku sekali lagi melirik judul yang kusiapkan.

“Tidak keren-keren amat, tapi tidak juga buruk.” Kataku, dalam hati. Oh tentu saja aku tidak mengatakannya langsung.

Pak Rustan memulai pelajaran seperti biasanya, sambil mengabsen beliau juga sekalian menagih tugas pekan lalu. Tugasnya apa? Ya jelas sekali, Kawan. Itu adalah judul proposal skripsi.

Satu per satu nama teman-temanku disebutkan. Yayan, Yuyun, Nina, Omen, Oskar, Kira, Kura, Kina, Kuna, Tari, Tati, Tami, Tali (???), lalu giliranku. Kucca!

Ah, jangan terpesona. Namaku memang seunyu itu, Kawan. Tapi jangan… jangan bahas itu sekarang. Sekarang aku harus berjalan ke depan, menyerahkan tugas, lalu kembali duduk dengan tenang dan mendengarkan komentar Pak Rustan baik-baik.

Oke. Satu detik. Dua detik. Tiga Detik.

Ekspresi Pak Rustan sama sekali tidak memberiku ide mengenai apa yang sedang dipikirannya mengenai judul-judulku.

Lalu, berdehamlah Pak Rustan. Sekali lagi perutku seakan ditonjok-tonjok. Jantungku meloncat-loncat.

“Haduh, Kucca! Judulmu ini jadul sekali, tahu. Kamu lahir tahun berapa?”

Suaraku sempat tercekat di tenggorokan sebelum berhasil keluar dengan sedikit sumbang, “1998, Pak.”

“Nah itu dia masalahnya, Kucca. Judul yang kau kumpulkan ini, jadul sekali. Bahkan sudah ada jauh sebelum nenek kau lahir.”

Berlebihan sekali sih, Pak.

Pak Rustan mendecak, lalu menggeleng-geleng. Kertasku dikembalikan, lalu ia menyebut nama temanku yang lain. Aku sendiri mengembuskan napas, setengah kecewa setengahnya lagi karena beban dalam diriku seolah baru saja menguap. Perasaan mulas itu telah lenyap tak tersisa dan jantungku kembali normal.

Ah, syukurlah!

Tapi… masalahnya bukan itu saja sepertinya.

“Judul-Jadul,”

“Judul-Jadul,”

“Judul-Jadul,”

Dua kata itu terus-menerus membayang-bayangiku semenit kemudian. Lalu aku perhatikan lagi baik-baik judul-judulku.

“Hah! Ternyata memang tak sekeren itu.”

Lalu kemudian aku semakin percaya pada hal ini: “Jangan terlalu gampang percaya dan yakin pada idemu yang muncul pertama kali.”

.

.

.

*Sebuah Cermin (Cerita Mini) yang muncul dadakan dan ditulisnya pun dadakan. 😹

**Cerita hanya fiktif belaka, bila ada kesamaan nama, tempat dan kisah pribadi, itu bukan salahku.

***Silakan beri masukan, kritik maupun saran.

**** sumber gambar di sini.

November 2019