Book Shaming | Octobewrite #1

Mungkin telinga kita terlalu akrab dengan body shaming, tetapi sebenarnya istilah book shaming pun ada, lho!

Tunggu dulu deh, kita bahas satu-satu. Mulai dari penjelasannya. Hm, memangnya book shaming itu seperti apa sih?

Jadi, book shaming adalah semacam tindakan merendahkan orang lain dari jenis buku yang mereka baca.

Pernah enggak kalian baca buku atau lihat orang baca buku terus ada yang nyeletuk bilang:

“Iiiih. Bacaannya komik, kekanakan banget!”

atau

“Halah. Bacaannya Tere Liye, kayak aku dong baca bukunya Pak Pram, Pak Sapardi, dll!”

atau

“Lha! Bacanya fiksi mulu! Baca dong Self-Improvement, biar bermutu!”

atau

“Teen-Lit? Lo-Gue? Ya Ampun, alay banget!”

atau

“Ih, cinta-cintaan mulu bacaannya. Dasar bucin!”

atau

“Novelnya tipis banget, biasain baca yang tebel-tebel, dong!”

atau, atau dan berbagai atau lainnya.

Pernah?

Atau barangkali kamu justru jadi korban? Kamu tiba-tiba pernah merasa enggak pede baca bacaan favoritmu di depan banyak orang karena ada ‘seseorang’ yang pernah mengatakan hal-hal yang tidak mengenakkan padamu. Atau kamu jadi malas baca buku karena buku yang kamu baca dianggap enggak ada keren-kerennya sama ‘dia’ atau ‘mereka’.

Untuk kamu yang pernah mengalami ini, hiraukan saja omongan mereka. Cangkir teh orang itu beda-beda. Kalau dia bilang bacaanmu ketinggalan zaman atau kurang mutu, tetapi kamu tetap nyaman baca buku itu, kenapa harus berhenti hanya dengan judgement dari mereka.

Eh, atau boleh jadi kamu malah yang pernah menganggap rendah orang lain karena jenis bacaan mereka? Semoga tidak yaaaa, soalnya book shaming itu enggak baik dan bisa berdampak pada kepercayaan diri orang yang membaca tadi. Selain itu, boleh jadi karena kata-kata sinis kita yang mengomentari buku bacaan Si A, misalnya, tiba-tiba Si A ini jadi benci banget sama aktivitas baca buku. Nah lho, katanya mau bikin bangsa melek literasi, tapi justru bikin orang enggak ‘berani’ baca buku lagi. Hayolooooh~

gambar dari sini

Jadi, kamu pernah jadi korban atau pelaku book shaming? Cerita dong, hehe. ๐Ÿ™‚

.

.

.

๐Ÿ“– Oktober 2019

6 responses to “Book Shaming | Octobewrite #1”

  1. Korban, baik secara langsung maupun nggak. ๐Ÿ˜‚ Misal, saat ini aku masih doyan baca komik. Suatu ketika ada temen lagi baca komik dan temannya bilang, “hari gini masih baca komik?” Itu langsung … hadeh bangetlah, hahaha. Sebel juga sih.

    Bener kata kucca, cangkir teh tiap orang beda-beda. Menurutku, sebenarnya imbauan untuk nggak melakukan book shaming tuh bukan hanya berdampak sama orang yang dia tuju, bisa jadi orang sekitar juga mendadak jadi korban. Intinya, mulutmu harimaumu. ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

    Liked by 1 person

  2. Pernah jd korban. Dan itu menyebalkan banget๐Ÿ˜” mentang-mentang ga suka baca buku malah ngajakin org biar ga suka baca buku. Ya mungkin beda kali ya. Beda genre, dia sukanya baca apa, kita apa…tp dg melakukan book shaming malah mematikan kecintaan seseorang terhadap buku. Dan pastinya itu bahaya banget.

    Liked by 2 people

  3. Iyaaaaโ€ฆ sering banget ngalami book shaming itu. Misal lagi baca teenlit, langsung deh dianggap kurang intelektual. Padahal aku baca semua genre, tergantung mood. Sastra baca, buku yang rada ngepop baca, komik juga oke. Lagipula, ada juga teenlit yang oke jika mereka mau lebih open minded.

    Nice post, Mbaaโ€ฆ salam kenal ya. ๐Ÿ™‚

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: