Menulis di Wattpad, Sekali Lagi

Gambar: Pinterset

Aku sudah mengenal wattpad semenjak duduk di bangku kelas sepuluh. Hanya saja, aku tak pernah benar-benar dapat menyelesaikan ceritaku di sana. Di tahun-tahun itu, aku pernah menerbitkan satu cerita dengan judul yang keseringan berganti. Rekorku di wattpad buruk sekali. Aku hanya pernah berhasil menyentuh angka lebih dari seribu pembaca. Dan karena hal itu, aku memutuskan untuk berhenti dan menghapus cerita itu–selain karena ide yang mandeg, tentu saja.

Continue reading “Menulis di Wattpad, Sekali Lagi”

Kaktus untuk Nanas | Octobewrite #6

Pekan-pekan terakhir ini, rasanya jauh lebih melelahkan. Aku jadi tidak punya kesempatan buat menulis di blog–atau punya, tetapi terlampau malas karena kelelahan dan butuh istirahat lebih.

Padahal, rencananya Octobewrite ini belangsung setiap hari di bulan Oktober. Sayang sekali, tidak. πŸ™‚

Ya sudah, tak usah lama-lama dengan setumpuk alasan yang lebih terdengar seperti sebuah keluhan itu. Uhuk!

Baca juga: Putri Nanas dan Pangeran Kaktus

Aku mungkin pernah cerita (atau tidak) bahwa aku senang dengan beberapa tanaman seperti nanas, kaktus, dandelion, bunga matahari, dan sebagainya. Dan tentunya segala pernak-pernik yang berhubungan dengan itu.

Beberapa waktu lalu, aku iseng meminta gantungan kunci milik temanku yang berbentuk kaktus. Itu lucu banget, soalnya! Haha. Sebetulnya enggak berharap juga akan dikasih benaran, dan kata temanku, dia enggak bisa ngasih soalnya tas yang dia pakai juga bukan punya dia. Itu ounya temannya yang suka banget sama kaktus.

Terus, berlanjutlah percakapan kami soal kaktus. Katanya, “Kukira dandelion (yang aku suka maksudnya)?”

Kujawab, “Iya. Tapi aku juga suka banyak hal lainnya, salah satunya kaktus.”

Terus dia cerita kalau temannya itu mengoleksi bermacam-macam kaktus di kosannya. Dan temanku ini menawari, “Mau kumintakan kaktusnya?”

“Emang boleh?” kutanya. Soalnya setahuku harga kaktus cukup lumayan.

“Ya, kan, anaknya.”

Aku tersenyum semringah. “Mau dong!”

“Tapi kecil aja, ya.” kata temanku lagi.

“Iya. Gapapa. Asal gratiiiis.” 😸

Lalu, hari ini temanku benaran membawakan kaktus itu buatku. Lengkap dengan pot mininya yang aku suka banget. Kalau pot mininya, ini rada surprise sih buatku, soalnya tadinya temanku ini bilang kalau kaktusnya ditaruh di gelas plastik saja. Menurut pengakuannya, dia sempat ke toko buat cari sesuatu dan kebetulan lihat pot mini itu, alhasil dia beli deh buatku, hihi.

Kemudian, yang juga agak kejutan itu kaktusnya sendiri. Kukira dia ngasih satu, ternyata dapat bonus, dua pula.

Pot sebelah kiri itu isinya ada dua, yang satu agak enggak kelihatan soalnya masih kecil banget, hehe. Terus yang sebelah kanan inilah bonusnya, hihi. Udah gede. πŸ’›

Doakan ya, supaya tanaman kaktusnya bisa tumbuh dan sehat. πŸ™‚

Thanks a lot buat Evi dan temannya yang sudah berbaik hati berbagi koleksi kaktusnya. Semoga bisnis kaktusnya lancar jaya. 😸😸😸

O, ya. Kamu merawat kaktus juga? Berbagi cerita atau tips merawat kaktus dong, hehe. πŸ™‚

.

.

.

πŸ“– Oktober 2019

[Resensi]: Stormitory – Rina Kartomisastro

  • Identitas Buku:

Judul Buku: Stormitory

Penulis: Rina Kartomisastro

Penerbit: Bhuana Sastra

Tahun Terbit: 2018

ISBN: 978-602-455-268-8

  • Blurb:

“Ini… kost campuran? Cewek-cowok? Atau kost ceweknya terpisah di rumah lain?”

Lelaki lolipop memutar matanya dengan gaya jenaka, seperti bingung dengan pertanyaan Una. Tak lama, ia tersenyum sambil menatap mata Una lekat-lekat. “Seperti yang kamu lihat, runahnya cuma ada satu. Dan, ini bukan kost campuran, tapi kost khusus cowok.”

“APA??!”

  • Resensi:

Stormitory ini adalah satu dari sepuluh buku yang kubeli beberapa waktu lalu. Novel ini juga yang pertama kali mencuri perhatianku untuk membacanya karena sedikit blurb+sinopsis pendek di sampul belakangnya.

Omong-omong, alasan lainku adalah karena sinopsis yang kumaksud itu langsung mengingatkanku pada novel The Chrinicles of Audy, yang terjebak dengan cowok-cowok tampan di keluarga 4R.

Eum, sebenarnya aku sama sekali tidak ingin membandingkan keduanya, hanya saja… mungkin aku tidak bisa untuk tidak melakukannya. Karena… premis ceritanya terlalu mirip, menurutku.

(Mirip bukan berarti sama lho, ya! Hehe.)

Novel ini termasuk ringan. Diceritakan seorang gadis bernama Una, semester lima dan kuliah di Jurusan Komunikasi di salah satu kampus di Jakarta, memilih Kota Malang sebagai kota tempatnya magang.

Ia sebenarnya bisa magang di Jakarta atau lokasi yang jaraknya dekat dari rumahnya, tetapi ia punya alasan kuat mengapa harus Kota Malang. Alasan itu tak lain adalah Fedy, senior Una kala masih SMA, dan baik banget pada Una.

Berangkat dengan kereta, Una mengalami insiden setibanya di Malang. Pertama, ia hampir saja melupakan tasnya kalau saja seorang cowok yang tak ia kenal menyerahkan tas itu padanya. Kedua, Una tersesat di jalan. Ia tidak tahu bagaimana supaya bisa tiba di penginapan gratis yang beberapa hari sebelumnya dicarikan ayahnya. Ketiga, ia ditolong oleh seorang cowok yang superdingin. Cowok itu mengantarnya hingga tiba di alamat yang ia maksud. Keempat, Una terperanjat. Ternyata, penginapan yang dicarikan ayahnya itu adalah kost khusus cowok!

Lalu, bertemulah Una dengan orang-orang aneh bin ajaib di The Random House–nama kost itu. Kost yang berisi orang-orang random. Fiuuuuuh.

Ada Deva, cowok tengil, usil, baik hati, perhatian, dan suka lolipop di usianya yang tidak remaja lagi! Dan oh.. dia playboy!

Ada si Kembar, Endra dan Endru. Endru yang selalu memakai topi dan si Endra yang tidak suka dengan Una sejak pertama bertemu.

Ada si Altof, pemuda berkacamata yang karismatik.

Ada Bayu, pemuda dingin yang susah dideskripsikan!

Dan ya, satu lagi. Mamas.

Mamas itu… seekor kucing, omong-omong. 😻

Dan begitulah kisah ini bermula.

Di antara kelima cowok di The Random House (+ 1 Mamas), Una paling dekat dengan Deva. Namun, kemudian ia pelan-pelan juga dekat dengan Mas Altof yang berubah dipanggil jadi Bang Altof ketika Una tahu bahwa Altof juga orang Jakarta.

Una mulai magang di majalah Paper Girls, sesuai tujuannya semula, Una berusaha mencari tahu keberadaan Fedy. Di tengah-tengah permasalahan itu, Una juga terusik oleh kabar simpang siur yang mengatakan bahwa di The Random House, pernah terjadi pembunuhan. Lalu… di antara lima cowok itu, siapa pembunuhnya?

Yaa… seratus lima puluh halaman pertama, aku bosan. Jujur. Meski premisnya kuat, sayang sekali Rina Kartomisastro belum mampu membuatku jatuh hati semenjak di kata pertama–atau paling enggak di paragraf pertama. Sayang sekali.

Mm, mungkin juga karena aku menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada novel ini. Aku diam-diam menaruh harap bahwa novel ini akan seseru The Chronicles of Audy. Namun ternyata… aku justru kecewa.

Di novel ini, aku banyak menemukan ketidakkonsistenan tokoh. Yang awalnya tujuan Una ke Malang kan mau mencari Fedy, lha, kenapa sepanjang novel ia justru sibuk mencari tahu rahasia di The Random House. Teruuuus, penggambaran cowok-cowoknya juga tidak membuatku menitipkan hati pada satu pun di antara mereka. Aku tidak tahu harus ngeship si Una ini dengan siapa. Apakah Deva? Altof? Bayu? Atau siapa?! Di antara mereka, aku kok tidak menemukan chemistry (?).

Aku bingung, sungguh. 😹

Heheheeee….

Oh, ya. Selain persoalan itu, alurnya terlalu terburu-buru juga menurutku. Dan paling penting ada bagian yang absurd, tidak jelas, dan membingungkan.

Ada adegan ketika si Altof dan Bayu tiba-tiba saling serang, mendadak. Dan aku kaget, dong. Pasalnya, sebelumnya konfliknya apa, sama-sekali tidak diceritakan. Pun setelahnya, juga tak tergambar jelas apa alasan mereka saling serang.

Bukannya tegang dengan aksi itu, aku malah mengerutkan dahi; bingung sungguh aku bingung.

Di beberapa bagian saat penceritaan Si Kembar, aku menemukan typo. Ada yang seharusnya ditulis Endra malah tertulis Endru, dan sebaliknya.

Panjang yaaaa komentarku. Hehe. Tenang… tenang.

Selain itu, aku suka kok beberapa bagian dari buku ini. Pertama sampulnya. Unyu cute, menggemaskan. Ukuran novelnya juga imut, enak kalau dibaca.

Kedua, buku ini lumayan paslah dibaca untuk refreshing setelah banyak tugas. Meski banyak kekurangannya, dengan usaha keras, penulisnya bisa menyisipkan sisi humor hingga ketika membacanya aku bisa terhibur, hehe.

Ketiga, pesan yang ingin disampaikan penulis, bisa dibilang lumayan berhasil.

Keempat, aku suka bagian kebersamaan si Kembar yang saling cuek tapi diam-diam saling perhatian. Uuuuh. 🌻 Dan karakter Deva sebenarnya lumayan bikin terenyuh, terutama fakta mengenai masa lalunya. 🌻

Kelima, karena ada Mamas. 😹

Dan begitulah pengalamanku membaca Stormitory. Kamu sudah pernah baca juga? Yuk berbagi pengalamanmu di kolom komentar, thankssss. πŸ™‚

  • Penilaian:

3 dari 5 Bintang

.

.

.

πŸ“– Oktober 2019

Persoalan Kota Malang | Octobewrite #4

Ingat postscript yang kusisipkan di bagian akhir tulisan sebelumnya?

Yap. Jadi, sembari aku menulis itu, aku juga dapat kabar dari Bu Kos kalau ada paket buatku.

Aku langsung bisa menebak kalau itu pasti buku yang kutunggu-tunggu.

Lalu ada apa dengan ‘Prahara Kota Malang’? Begini ceritanya…

Paket ini merupakan giveaway dari Penerbit Diva Press karena aku memenangkan lomba blogtour beberapa waktu lalu.

Nah, saat aku di DM sama pihak Diva dan dimintai alamat, aku yang enggak fokus, cuma mengirim alamat seadanya saja (baca: alamat yang sering kukirim ke tukang galon, yang hanya terdiri dari lokasi kompleks + nomor rumahnya). Hahahaha. 😸

Aku belum menydari hal itu sampai seminggu setelahnya. Aku berpikir, “Kenapa ya buku giveaway-nya belum datang-datang?”

Dan setelah kutanyakan pada pihak Diva, katanya aku ngasih alamatnya enggak jelas! Dan benar, setelah kucek, aku langsung ketawain diri sendiri. Pantasan aja, enggak ada sampai sekarang! 😸 Alamatnya saja enggak jelas di pulau mana, kota mana, kode pos berapa. Hahaha. πŸ™ˆ

Akhirnya aku mengirim alamat yang benar-benar lengkap ke tim Diva sampai ke bagian nama kampusku segala!

Dan ternyata ooh ternyata… pihak pengirimnya mengartikan UNM itu sebagai Universitas Negeri Malang, dan (sepertinya) mengira aku tinggal di Malang. Dan (sepertinya, sekali lagi) paket ini sudah berkelana juga ke Malang dan tersesat di sana, karena tidak menemukan alamat yang kukirim.

Ini sih bukan salahku, ya. Aku jelas-jelas menulis Makassar, lho (lengkap Sulawesi-Selatannya juga malah), bukan Malang, hm.

Tapi enggak apa-apa, terlepas dari kisah perjalanan paket imut nan mini ini, yang jelas sekarang sudah tiba di tanganku dengan kondisi fit. 😸

Dan ini dia bukunya:

Siap menjadi penghuni baru rak sempitku. :))

.

.

.

πŸ“– Oktober 2019

Berburu Buku; Edisi Gramedia Boom Sale | Octobewrite #3

Gramedia Boom Sale!

Gramedia Boom Sale hadir lagi! (what a good news!)


Siapa sih yang enggak senang kalau ada diskon besar-besaran di toko buku? Apalagi kali ini, bukan sekadar diskon, tapi memang harga buku yang ditawarkan hampir seluruhnya hanya sepuluh ribu (SEPULUH RIBU) saja.

Jadi, acara ini sebenarnya sudah berlangsung dari hari sabtu lalu, tetapi baru kesampaian ke sananya hari ini, hehe.

Berangkat bersama beberapa teman sesama pecinta buku, kami langsung cusss setelah kuliah kelar hampir pukul dua. Padahal rencana awalnya sih, kami berangkat ke sananya besok siang, biar bisa leluasa memilih buku tanpa diburu waktu. Namun, karena kebetulan hari ini dosen berhalangan masuk, dan presentasi di kelas hanya sebentar, jadinya langsung bersepakat deh ke sana.

Beruntung jarak kampus ke lokasi Gramed enggak begitu jauh, jadinya juga tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di jalan dan bisa segera berjumpa dengan sekian ratus judul buku yang tersebar di sana. Mulai dari komik, cerita anak-anak, novel, dan berbagai kategori lainnya, baik yang tebal atau yang tipis-tipis semua tersedia.

Tempatnya juga nyaman sih menurutku. Meski di pinggir jalan, tetapi sama sekali enggak mengganggu, kok. Di sana para pegawai gramednya juga menyediakan minum gratis buat para pembeli, hihi. 😸

Kalap Beli Buku

Sebelum ke sana sebenarnya belum punya target akan beli berapa buku. Kataku dalam hati, “Dilihat nanti deh. Kalau bukunya bagus-bagus, beli beberapa enggak apa-apa.”

Dan…

Singkat kata, ternyata buku yang dijajakan bagus-bagus, meski beberapa novel yang selama ini kuincar enggak ada. Ya, namanya juga lagi cuci gudang/sale/bazar atau bagaimana pun itu menyebutnya, haha.

Dan coba tebak aku beli berapa? 😸

Ini dia penampakannya:

Dari sekian buku yang kubeli, ternyata satu di antarnya memberiku kejutan spesial. Judul bukunya adalah ‘The Pocket Scavenger’ aku membelinya karena tulisan di sampul belakangnya yang membuatku mengingat sebuah buku yang kurang lebih sejenis, yang pernah kubaca reviewnya.

Setelah tiba di kos, ternyata aku baru perhatikan di bagian bawah penulisnya, tertulis: creator of Wreck This Journal.

Aku langsung semacam: oooh ternyata dia! Ooooh, buku itu! Oooh hampir aja!

Aku sih enggak berekspektasi bakalan ada buku ini di jejeran buku berharga 10.000 soalnya, kupikir penulisnya lumayan terkenal, hm.

Kalau kamu mau tahu, aku tadinya hampir saja menaruh kembali buku ini, tetapi untungnya enggak jadi. Huaaah. :))

Di buku Wreck This Journal, para pemegang buku diminta untuk melakukan hal-hal konyol terhadap buku itu (dari youtube dan blog yang kubaca sih kurang lebihnya begitu, ya). Nah, kalau di The Pocket Scavenger ini, kita diminta untuk jadi ‘Pemulung’. Pokoknya begitulah, nanti kalau ada kesempatan aku bakalan khusus menceritakan keseruan buku ini di postingan lainnya, hehe.

Selain itu, aku bersyukur buku-buku yang kubeli sepertinya cukup ‘menjanjikan’ buat dibaca, hehe.

Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.

–Demikian kurang lebihnya pesan dari salah satu tokoh terkenal negeri ini; Tan Malaka dalam bukunya MADILOG (yang omong-omong masih bertahan di daftar buku yang ingin kumiliki, hehe).

P.S Sudah dulu, ya! Bu Kos manggil, katanya ada kiriman buku! 😸

.

.

.

πŸ“– Oktober 2019