Cita-cita yang Tertinggal di Belakang

Sebenarnya agak malu untuk menuliskan ini, tapi tidak apa-apa. Malu itu sesuatu yang lumrah. Bukan begitu?

Ketika aku SD, aku pernah menggambar selama 2 jam atau lebih. Itu untuk memenuhi tugas Seni Budaya ketika kelas 6 SD. Waktu itu, kami diminta untuk menggambar di luar ruangan, kemudian menggambar apa saja yang ada di depan kami.

Teman-temanku menggambar bangunan sekolah, pohon, pagar, lapangan dan sebagainya. Aku menggambar pegunungan, lebih tepatnya sih bukit yang kelihatan biru nun di sana. Sekadar info, sekolahku di pedesaan, dan di sana kami bisa menyaksikan lanskap yang cukup menyenangkan untuk dipandang.

Aku menggambar bukit itu, pohon-pohon yang menghalanginya, bangunan TK di seberang sana, lapangan dan pagar sekolahku. Karena itulah yang kulihat! Jadi, ketika temanku hanya menggambar sebuah objek, aku memilih menggambar semua yang terlihat di mataku.

Teman-temanku menertawai gambarku karena perbukitan yang kugambar berwarna biru! Aku protes, memang aslinya warna biru kalau dilihat dari jauh, kok.

Tak hanya itu aku juga diledek sebagai ‘penggambar selama dua jam’. Aku sebenarnya tidak terima, tetapi ketika diperiksa, gambarku mendapat nilai tertinggi bersama satu temanku yang memang dikenal jago menggambar.

Aku senang dong, tentu saja.

Saat itu aku lantas pengin jadi seorang desainer yang berbakat menggambar dan mendesai baju-baju cantik, bahkan saat main dengan temanku aku pasti jadi seorang pemilik butik (Lihatlah betapa imajinasi kanak-kanakku begitu komplet).

Tapi kemudian cita-cita itu perlahan kutinggalkan semenjak menyadari bahwa gambarku ternyata enggak bagus-bagus amat. Ini kusadari ketika duduk di bangku SMP, dan banyak temanku yang jauh lebih jago menggambar. Aku minder, dan aku meninggalkan ‘bakat’ menggambarku (kalau itu bisa dibilang bakat sih). Sampai sekarang aku tidak pede lagi untuk menggambar, wkwk.

.

.

.

🌻 September 2019

8 thoughts on “Cita-cita yang Tertinggal di Belakang

  1. Teruslah berlatih menggambar, lama-lama nanti akan bagus juga. Sama seperti penulis, berlatih menulis, nanti lama-lama akan bagus. Kalau membandingkan memang akan jadi minder. Sama halnya di atas langit pasti ada langit, dst. Semangat

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s