[Resensi]: Sophia dan Pink – Sinta Yudisia

  • Identitas Buku:

Judul Buku: Sophia dan Pink

Penulis: Sinta Yudisia

Penerbit: DAR! Mizan

Tahun Terbit: 2014, Cetakan I

Halaman: 180 hlm.

ISBN: 978-602-242-480-2

  • Resensi:

Pertama-tama, sampul buku ini menarik, menggoda buat dibaca. Aku hanya agak terkejut ketika membuka bukunya, ternyata kertasnya hvs biasa dong, yang putih itu—alih-alih kertas novel yang cokelat dan baunya harum itu. Hmm~

Meskipun judulnya Sophia dan Pink, novel ini lebih berpusat pada Sophia dan hanya sedikit sekali bagian yang diberikan untuk Pink.

Sophia dan Pink bercerita tentang seorang gadis bernama Sophia. Sophia digambarkan sebagai gadis SMA yang punya segalanya, pintar, rajin berolahraga, supel, punya banyak teman, ketua kelas dan cantik—ya tipe yang jarang ditemukan di dunia nyata lah.

Sophia tinggal bersama Bunda dan Nenek Run. Bunda Amanda digambarkan sebagai sosok yang baik hati dan penyayang, sementara Nenek Run lebih dari itu, juga seorang yang amat memperhatikan kesehatan. Hal itu kemudian ditularkan pada Sophia yang sehari-hari naik sepeda. Bahkan, sampai bawa baju ganti segala ketika sampai di sekolah saking berkeringtnya. Kalau menurutku, ini agak berlebihan sih untuk ukuran anak SMA. Apa tidak repot harus ganti baju di sekolah segala? Belum kalau terlambat ke sekolah. Bisa berabe!

Selain Bunda Amanda dan Nenek Run, Sophia juga punya tante Yuna, yang tinggal di belakang rumahnya. Tante Yuna masih belum menikah karena trauma, terlebih ketika melihat orang tua Sophia yang juga bercerai. Padahal Nenek Run ingin sekali punya lelaki di keluarganya.

Tak hanya anggota keluarga yang baik, Sophia juga punya banyak teman, baik itu cowok maupun cewek. Menurutku buku ini terlalu banyak menempatkan tokoh sehingga cenderung kehilangan fokusnya.

Di beberapa bagian, aku kadang dibuat bosan, bahkan di 80 halaman pertama. Terlalu bertele-tele, menjelaskan ini-itu padahal ternyata enggak punya pengaruh berarti untuk cerita. Tokoh-tokohnya yang banyak dan tidak memiliki peran berarti itu membuatku tak dapat mengingat dengan jelas nama-nama tokohnya.

Sophia juga punya teman yang unik, namanya Bito. Bito ini anak tuna rungu, dan bertetangga dengan Sophia. Kerap kali Sophia harus dengan sabar meladeni Bito, terutama ketika berkomunikasi. Tante Pipin—ibu Bito—juga memberi semacam amanah pada Sophia untuk membujuk Bito agar mau memakai hearing aid—alat bantu dengar.

Lalu, suatu hari, ada siswa baru di kelas Sophia. Namanya Pink.
Sophia yang tadinya punya segalanya kini berbalik ketika Pink datang. Pink yang cantik dan manis itu langsung menjadi pusat perhatian—apalagi cowok-cowok di kelas Sophia. Sophia tidak ingin mengakui, tetapi ia jengkel dan iri pada Pink, karena seolah telah merebut perhatian teman-temannya.

Tak hanya persoalan Pink, hubungan persahabatannya juga bermasalah. Sophia tak tahu apa penyebabnya, dan sebagai pembaca aku juga tidak tahu. Buku ini tidak menjelaskan, sih. Huhu.

Selain masalah-masalah itu, masalah lain yang dihadapi Sophia adalah Tante Mira, ibu tirinya! Ibu tirinya melarangnya buat ketemu dengan ayahnya sendiri, bagaimana Sophia bisa terima? Yang benar saja?! Dan masalah seperti mengundang masalah lain di kehiduapn Sophia, yaitu tentang Bunda Amanda.

Semula hidup Sophia yang luar biasa baik-baik saja, jadi sangat tidak baik-baik saja.
Sampai suatu ketika ia kerja kelompok di rumah Pink. Dan di sana ia mengetahui bahwa kesempurnaan yang dimiliki oleh Pink—yang dilihatnya dari luar—ternyata tidak seperti itu. Pink punya kejutan yang membuat Sophia iba. Dan perlahan-lahan hubungannya dengan Pink pun membaik.
Suatu kali, karena butuh curhat, Sophia menulis curhatan tentang ayahnya di blog dan dikomentari oleh Pink dengan kalimat-kalimat yang begitu manis, hingga hubungan persahabatan keduanya jadi semakin erat.

Masalah-masalah lain pun mulai menemukan titik terangnya.
Hm, tapi aku masih tidak bisa terima sih bagaiamana Tante Mira bisa menghalangi Sophia untuk ketemu ayahnya sendiri.

Dan juga, sampai halaman terakhir buku ini, banyak koflik yang dimunculkan di awal tetapi tidak jelas penyelesaiannya. Menurutku sih begitu.

Jadi, buku ini kuberi 2,7 dari 5 bintang.

.

.

.
🌻September 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: