[Resensi]: Orang-Orang Biasa – Andrea Hirata

Foto pinjam dari Mbak Tiara Yoga

  • Identitas Buku:

Judul: Orang-orang Biasa

Penulis Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun Terbit: 2019, cetakan 1

Jumlah Halaman: xii + 300

🍍🍍🍍

Satu senyum berhasil kuloloskan ketika tiba di penghujung cerita ini. Rasanya seperti sebuah kelegaan, melihat bagaimana Orang-Orang Biasa itu mempersembahkan akhir cerita yang begitu ciamik.

“…. ikut gembira menyaksikan orang-orang yang berdendang itu, dan takjub bagaimana orang-orang biasa dapat merasa senang atas hal-hal yang sederhana.” –261-262


Buku ini kubaca karena adanya tugas kampus yang mengharuskanku untuk membaca satu buku minimal dalam waktu dua pekan, dan buku ini berhasil kutuntaskan kurang dari itu. Hal itu tak lain karena buku ini menyajikan kisah yang benar-benar baru dengan tokoh-tokohnya yang unik serta mengambil sudut pandang yang berbeda–yang pada akhirnya menjauhkanku dari rasa jenuh. Bahkan setiap kali tiba di penghujung bab, rasa-rasanya ingin terus-terusan membuka bab berikutnya, demi menemukan kejutan-kejutan baru, pun kejenakaan yang dimunculkan penulis melalui perwatakan tokoh dan gaya bahasanya dalam buku ini.

Orang-Orang Biasa adalah tentang orang-orang lugu, naif, orang-orang yang jujur dan orang-orang yang setia.

Dikisahkan, di desa bernama Belantik (yang omong-omong mengingatkanku pada novel Ayah) seorang Inspektur dan Sersannya setiap hari selalu duduk termangu dan lesu di depan papan tulis statistik kejahatan, karena tak kunjung mendapat laporan kejahatan dari masyarakat Belantik. Inspektur merasa seperti hidup dengan gaji buta karena setiap hari ia hanya duduk menjaga papan tulis itu, tanpa melaksanakan tugasnya selaku polisi sebagaimana yang seharusnya.

Di Belantik ini, Kawan, kejahatan itu sesuatu yang langka!

Berbeda kisah, tetapi kelak akan bersinggungan, dikisahkan pula sekawanan siswa-siswa unik penghuni bangku belakang. Adalah Salud, Honorun, Junilah, Sobri, Handai, Tohirin, Rusip, Nihe, dan Dinah. Dan satu lagi, Debut Awaluddin, sosok yang idealis.

Kesemuanya berakhir menjadi karib secara alamiah, karena keadaan mereka yang tak jauh-jauh dari kecenderungan bodoh, aneh dan gagal. (Hal. 7)

Salud bekerja serabutan. Nihe yang ‘dimana pun Junilah ada, di situ pula ada Nihe–bekerja bersama kau tahu siapa di CV Klino milik Rusip. Sobri bekerja sebagai sopir tangki, adapun Tohirin bekerja di pelabuhan. Dinah, bekerja sebagai pedagang mainan anak-anak yang kerap kali lari kocar-kacir dikejar-kejar polisi. Honorun–sesuai namanya–bekerja sebagai guru honorer. Dan Handai, pekerjaannya adalah berandai-andai. Debut Awaluddin bekerja sebagai pedagang buku di kios miliknya yang dinamainya Kios Heroik.

Selain mereka, ada juga Duo Boron dan Trio Bastardin, yang saat masih sekolah dulu kerap kali menindas Salud di sekolah. Kini, Duo Boron hidup sejahtera menjalankan perusahaan pabrik es di pasar ikan. Sementara itu, Trio Bastradin jauh lebih berjaya dan semakin berbahaya. Mereka membentuk operasi gelap, yang mereka sebut sebagai Moni Londri alias pencucian uang!

Mereka menyembunyikan kejahatan mereka itu dengan membangun sebuah toko batu akik–yang saat itu banyak diganrungi, sehingga orang-orang tidak curiga, dari mana sebenarnya mereka mendapat uang.

Kira-kira kisah sepuluh sekawan dan grup Duo Boron dan Trio Bastardin inilah yang dapat mewakili istilah orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya.

Konflik bermula ketika Aini, anak dari Dinah, yang semula mewarisi gen bodoh Dinah, tiba-tiba diterima masuk Fakultas Kedokteran. Sesuatu yang membuat heran semua orang, termasuk sepuluh sekawan itu.

Aini mendapatkan kesempatan itu setelah gigih belajar karena termotivasi oleh penyakit yang diderita ayahnya. Ia ingin belajar, kelak ingin menjadi dokter ahli, supaya tahu penyakit apakah gerangan yang merenggut ayahnya.

Tetapi, kesempatan emas itu terpaksa harus Aini singkirkan jauh-jauh, karena keterbatasan ekonomi. Ia tidak bisa membayar uang pendaftaran kuliah. Dinah yang tidak tega melihat anaknya tidak bisa masuk kuliah ini pun lantas bercerita pada Debut. Debut Awaluddin yang idealis takjub dengan keajaiban yang baru saja didengarnya dari Dinah. Sebagai orang yang idealis, ia tidak akan mungkin membiarkan Aini berhenti memperjuangkan mimpi-mimpinya, meski dengan cara apa pun–kalau perlu mereka merampok bank!

Mengetahui hal tersebut, sepuluh sekawan juga terbawa euforia semangat yang ditularkan Debut Awaluddin. Mereka tanpa ba-bi-bu sepakat untuk ikut merampok bank!

Lantas, berhasilkah mereka merampok bank?

Berhasilkah sepuluh sekawan membuat Aini kuliah di Fakultas Kedokteran?

Seratus halaman terakhir buku ini, akan membagikan keseruan sepuluh sekawan melaksanakan aksi mereka.

🍍🍍🍍

Resensi biasanya akan memberikan pertimbangan baik dan buruk sebuah karya. Dan aku tidak tahu letak kekurangan itu di mana pada novel ini, mungkin pada alurnya saja yang sedikit lambat di bagian-bagian awal dan bagian ketika Aini tiba-tiba jadi cerdas membuatku susah mencerna juga sebenaenya, meski Andrea Hirata memberi penguatan pada bagian ketika Aini termotivasi belajar karena ayahnya.

Kelebihannya sendiri, menurutku terletak pada gaya bahasa, sisi humor yang benar-benar menghibur, serta pesan moral yang disiratkan Pak Cik pada novel ini yaitu tentang keluguan, kesetiaan, dan bagaimana orang bisa bahagia pada hal-hal yang sederhana.

Penilaian: 4,7 bintang dari 5

.

.

.

September 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: